Ramadan Dekat, Distribusi Pangan Wajib Bebas Penimbunan

Secara umum, harga kebutuhan pokok terpantau stabil. Terutama beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Panganserta Minyakita, yang masih bergerak di sekitar harga acuan pemerintah.

“Beras SPHP dan minyak goreng tersedia dengan baik. Hanya beberapa komoditas hortikultura, seperti cabai, yang masih berfluktuasi akibat musim hujan,” ujar Rina dalam keterangannya di Jakarta, Rabu 18 Februari 2026.

Menurutnya, stabilitas tersebut tak lahir begitu saja. Ada intervensi negara di belakangnya.

Bulog menjalankan mandat pemerintah, mulai dari menyerap hasil panen petani hingga menggelar operasi pasar.

Penyerapan gabah dan jagung, lanjutnya, memberi efek ganda: menopang kesejahteraan petani sekaligus menjaga suplai di hilir agar tetap terjaga.

“Bulog menjalankan fungsi stabilisasi dengan menyerap hasil panen petani dan menyalurkan beras SPHP. Operasi pasar membantu mencegah lonjakan harga menjelang Ramadan dan Idul Fitri,” jelas politikus PKB tersebut.

Sebuah orkestrasi kebijakan yang, bila konsisten, mampu meredam gejolak musiman.

Tak hanya beras, Rina menyoroti komoditas yang mudah rusak—sayur dan hortikultura—yang memerlukan tata kelola pasokan lebih presisi. Gudang pendingin, menurutnya, bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan strategis.

Tanpa infrastruktur penyimpanan yang memadai, risiko susut pascapanen meningkat. Kerugian pun mengintai petani.

Penguatan infrastruktur, termasuk cold storage, dinilai krusial agar stabilitas harga tidak semata-mata tunduk.