Dampaknya tidak hanya menyentuh lingkungan, tetapi juga langsung menekan produktivitas pangan dan memicu potensi kerugian ekonomi dalam skala besar.
Data menunjukkan potensi kerugian ekonomi makro akibat krisis iklim mencapai Rp112,2 triliun. Angka ini setara sekitar 0,5 persen dari total Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2024.
Sementara itu, tekanan di sektor pangan diperkirakan berada di kisaran 0,18 persen hingga 1,26 persen dari PDB.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset Inovasi Nasional atau BRIN, Yudhistira Nugraha, menilai dampak perubahan iklim sudah mulai terukur secara ekonomi, terutama dari bencana hidrometeorologi.
“Untuk bencana hidrometeorologi, kerugian tahunan akibat banjir dan longsor yang dipicu oleh perubahan iklim sebesar Rp50 triliun,” ujarnya, dikutip dari laman BRIN, Ahad, 5 April 2026.
Tekanan tersebut bukan datang dari satu faktor.
Dampak krisis iklim terhadap pangan terbagi dalam beberapa komponen, mulai dari gagal panen langsung sebesar 40 persen, gangguan distribusi 25 persen, kerusakan infrastruktur 20 persen, hingga pergeseran musim tanam 15 persen.
“Artinya memang secara ekonomis dampak perubahan iklim ini sangat merugikan,” kata Yudhistira.
Dari sisi produksi, perubahan iklim bekerja dalam dua arah sekaligus. Dampak langsung dirasakan tanaman akibat suhu panas yang menurunkan kualitas dan hasil panen.
Sementara dampak tidak langsung muncul melalui kenaikan permukaan air laut, kekeringan, banjir, hingga lonjakan hama dan penyakit.
“Dampak perubahan iklim pada produksi tanaman, yaitu pengaruh langsung kepada tanaman. Artinya tanaman akan merasakan panas pada siang hari, sehingga menurunkan produksi dan kualitas biji.
Pengaruh tidak langsung misalnya peningkatan permukaan air laut, kekeringan, banjir, ledakan populasi hama dan penyakit yang parah,” ujarnya.
Fenomena El Nino menjadi salah satu indikator paling nyata. Dalam rentang 2002 hingga 2016, dampaknya terlihat pada penurunan produksi padi nasional.
Lahan sawah yang terdampak kekeringan saat El Nino berkisar antara 450 ribu hingga 800 ribu hektare.
“Data produksi padi Indonesia periode 1990 hingga 2017 menunjukkan terjadi penurunan produksi pada saat El Nino berkisar 100 ribu ton hingga 1,7 juta ton tergantung intensitas El Nino.
Rata-rata 300 ribu hektare sawah tergenang banjir yang berakibat pada penurunan produksi dan gagal panen,” kata dia.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah dan lembaga riset mulai mendorong pendekatan yang lebih adaptif. Strateginya tidak hanya menahan dampak, tetapi juga memperkuat sistem pangan agar lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Yudhistira menyebut ada dua jalur utama yang bisa ditempuh. Pertama melalui adaptasi dengan meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan tanaman, serta mengelola air dan cadangan pangan secara lebih baik.
Kedua melalui mitigasi dengan menekan emisi gas rumah kaca dan memperkuat infrastruktur.
“Peran BRIN sebagai lembaga riset untuk bisa memfasilitasi atau memberikan kontribusi secara nasional untuk mengantisipasi adanya iklim ekstrem ini. Pertama, menyediakan inovasi yang bisa diimplementasikan di daerah,” ujarnya.
Selain itu, BRIN juga berperan sebagai validator ilmiah yang memastikan setiap kebijakan berbasis data, termasuk menghitung dampak penurunan emisi dan memberi konsultasi ilmiah bagi industri maupun pemerintah daerah.
“Ketiga, kita juga bisa sebagai fasilitator kolaborasi multi pihak, dan keempat sebagai penyedia data baseline dan outlook. Ke depan, bagaimana kita bisa memberikan rekomendasi kepada stakeholder yang membutuhkan,” kata dia.
Di tingkat praktik, pendekatan pertanian cerdas iklim mulai diperkenalkan. Mulai dari penentuan pola tanam, penggunaan varietas unggul, hingga teknik pengelolaan air dan pupuk yang lebih efisien.
“Pengelolaan air dengan alternate wet and dry, single atau multiple drainage, penambahan kompos dan pupuk organik. Berikutnya, pengelolaan pupuk nitrogen dengan split dosis, dan slow release,” ujarnya.
Di sisi lain, diversifikasi pangan juga mulai didorong untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Menurut Yudhistira, pangan lokal justru memiliki keunggulan dalam menghadapi perubahan iklim.
“Keunggulan pangan lokal lebih beradaptasi pada kondisi spesifik iklim di Indonesia. Rendah input seperti pupuk, air dan pestisida, lebih bergizi, dan cocok dengan budaya penduduk lokal,” kata dia.
Jenis pangan yang dimaksud meliputi jagung lokal, sorgum, hingga sagu, serta berbagai kacang-kacangan dan umbi-umbian seperti singkong dan talas.
Langkah lain yang mulai diperkuat adalah kesiapsiagaan pangan daerah. Pemerintah didorong untuk mengintegrasikan risiko iklim ke dalam perencanaan pembangunan, sekaligus memperkuat cadangan pangan.
“Diversifikasi sumber pangan dari beras sentris menuju pangan lokal yang adaptif. Edukasi sejak dini melalui muatan lokal pangan lokal di sekolah.
Kesiapsiagaan krisis dengan cadangan pangan daerah yang memadai. Kolaborasi lintas sektor karena ketahanan pangan adalah urusan kita bersama,” ujarnya.
Sejumlah rekomendasi juga diarahkan ke pemerintah daerah, mulai dari integrasi kajian iklim dalam dokumen perencanaan hingga penetapan komoditas unggulan berbasis kondisi wilayah.
“Integrasikan kajian dampak iklim ke RPJPD, RPJMD, dan RKPD. Tetapkan komoditas unggulan lokal tahan iklim seperti sorgum dan sagu per wilayah.
Desentralisasi produksi melalui optimalisasi pekarangan keluarga dan agroforestri. Tetapkan kuota regulasi cadangan pangan pemerintah daerah,” katanya.
Di tengah tekanan krisis iklim, arah kebijakan mulai bergerak ke jalur yang lebih adaptif.
Tantangannya kini bukan lagi pada kesadaran, tetapi pada kecepatan eksekusi agar dampak ekonomi tidak semakin melebar dan tetap memberi kepastian bagi sektor usaha serta investor di bidang pangan.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.