Fokus ini mencakup ekspansi panas bumi serta penguatan jaringan digital berbasis teknologi.
Melalui entitas anak PT DSSR Daya Mas Sakti, DSSA mendorong eksplorasi panas bumi di enam wilayah strategis dengan potensi total mencapai 440 megawattLokasi pengembangan mencakup Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat hingga wilayah Sumatra, Flores, dan Sulawesi Tengah.
Selain panas bumi, DSSA juga memperluas portofolio energi surya. Salah satu proyek yang dijalankan adalah pengoperasian panel surya terintegrasi berkapasitas 1 gigawattdi Kawasan Ekonomi Khusus Kendal.
Wakil Presiden Direktur DSSA Lokita Prasetya menyampaikan bahwa perusahaan menekankan keandalan pasokan energi dalam pengembangan bisnis.
“Kami juga terus memperkuat operational excellence melalui penerapan praktik yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan mulai dari peningkatan efisiensi, optimalisasi penggunaan energi dan sumber daya, digitalisasi operasional hingga pengurangan emisi dan limbah secara terukur,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip 5 April 2026.
Di luar sektor energi, DSSA juga memperluas bisnis pada infrastruktur digital dan teknologi.
Perusahaan menjalin kerja sama dengan IFLYTEK untuk mempercepat pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan termasuk pemanfaatan large language model SPARK.
Kolaborasi ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, serta telekomunikasi dan infrastruktur digital.
Pengembangan solusi berbasis AI menjadi bagian dari strategi memperluas ekosistem digital yang terintegrasi.
CEO PT DSST Mas GemilangMarlo Budiman menyebut kebutuhan konektivitas menjadi faktor utama dalam pengembangan bisnis digital.
“Pertumbuhan kebutuhan data dan konektivitas menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami. Kami melihat peluang untuk memperluas penetrasi digital sekaligus menghadirkan solusi berbasis AI yang lebih mudah diakses,” ujarnya.
Saat ini DSSA mengoperasikan jaringan fiber optik sepanjang sekitar 57.000 kilometer dengan lebih dari 9 juta homepass. Layanan broadband melalui MyRepublic Indonesia telah menjangkau sekitar 1 juta pelanggan.
Penguatan jaringan tersebut didukung oleh pengembangan 24 edge data center yang tersebar di 23 kota strategis dari Medan hingga Manado. Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung pemrosesan data dengan latensi rendah.
Selain itu, DSSA tengah menyiapkan fasilitas pusat data utama Jakarta SMX01 dengan standar Tier-IV dan kapasitas awal 18 MW. Fasilitas ini dijadwalkan mulai beroperasi pada semester II 2026.
Perusahaan melihat peluang pertumbuhan masih terbuka seiring belum meratanya akses internet di Indonesia.
Sekitar 50 juta penduduk disebut belum terlayani secara optimal, sementara pasar telekomunikasi nasional diperkirakan mencapai USD29 miliar.
DSSA menilai pasar fixed broadband juga berpotensi tumbuh sekitar 10 persen per tahun dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, perusahaan memperkuat jaringan melalui Moratelindo serta pengembangan data center dan teknologi berbasis AI.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.