ASEAN-Japan Forum Dorong Talenta Industri RI Tembus Pasar Global

Pemerintah terus memperkuat pengembangan sumber daya manusiaindustri untuk mendukung transformasi manufaktur nasional di tengah percepatan digitalisasi dan persaingan global.

Penguatan talenta industri tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam ASEAN-Japan Forum yang digelar di Jakarta pada 19 Mei 2026.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan transformasi industri nasional saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi.

Menurut dia, pemerintah juga mendorong pembangunan ekosistem manufaktur yang terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan.

“Tantangan transformasi digital sektor manufaktur di Indonesia saat ini terletak pada kesiapan teknologi digital dan kualitas tenaga kerja.

Oleh karena itu, penguatan SDM industri menjadi fondasi yang sangat penting,” ujar Agus dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.

Penguatan SDM tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendukung visi Making Indonesia 4.0 dan target Indonesia Emas 2045.

Dalam peta jalan tersebut, sektor manufaktur diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk menjawab kebutuhan industri, Kementerian Perindustrian melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industriterus menjalankan berbagai program pelatihan industri 4.0.

Program itu menyasar pelaku industri hingga unit pendidikan vokasi melalui kerja sama dengan mitra dalam dan luar negeri.

Kepala BPSDMI Doddy Rahadi mengatakan dunia industri saat ini membutuhkan tenaga kerja yang mampu memahami teknologi digital, otomatisasi industri, hingga pengelolaan data manufaktur.

Selain itu, kebutuhan industri juga mulai mengarah pada kompetensi efisiensi energi dan dekarbonisasi industri.

“Indonesia memiliki peluang besar karena didukung populasi usia produktif yang sangat besar. Namun, peluang tersebut harus diiringi dengan pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan,” kata Doddy.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, industri, institusi pendidikan, dan mitra internasional menjadi faktor penting dalam menciptakan SDM industri yang kompetitif secara global.

Karena itu, Kemenperin memperluas kerja sama pengembangan talenta industri melalui forum internasional.

ASEAN-Japan Forum menjadi salah satu wadah yang dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat kolaborasi pengembangan SDM industri di kawasan ASEAN.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, hingga akademisi untuk membahas kebutuhan tenaga kerja manufaktur masa depan.

Presiden Direktur Japan External Trade OrganizationJakarta Shinji Hirai mengatakan tantangan utama industri saat ini bukan hanya soal keterampilan teknis tenaga kerja.

Industri juga membutuhkan talenta yang mampu memecahkan masalah dan cepat beradaptasi terhadap perubahan teknologi.

“Hal ini sangat relevan di Indonesia, di mana pertumbuhan ekonomi sedang kuat dan angkatan kerjanya muda serta dinamis, sementara industri membutuhkan talenta yang lebih terampil dan siap kerja,” ujar Shinji.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi IndustriWulan Aprilianti Permatasari menilai ASEAN-Japan Forum membuka ruang kolaborasi baru untuk memperkuat daya saing SDM industri Indonesia.

“Kami berharap AMEICC dapat terus mendukung peningkatan daya saing SDM industri Indonesia melalui transformasi digital sehingga mampu memperkuat daya saing industri nasional,” tutur Wulan.

Kemenperin bersama mitra internasional juga memperluas program pengembangan SDM industri sejak beberapa tahun terakhir.

Sejak 2022, Kemenperin bersama Ministry of Economy, Trade and IndustryJepang serta AOTS menjalankan proyek pengembangan tenaga pengajar di unit pendidikan tinggi industri.

Program tersebut mencakup pengembangan metodologi 5S dan Kaizen guna meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja. Pada 2025, fokus program diperluas ke bidang Green Transformationdan Digital Transformation

Selain itu, BPSDMI bersama AOTS juga menyelenggarakan pelatihan LeMMI 4.0 bagi dosen dan mahasiswa Politeknik STMI Jakarta sejak 2021 hingga 2026 dengan total peserta mencapai 110 orang.

Pelatihan serupa juga diberikan kepada praktisi industri di PIDI 4.0 dengan jumlah peserta mencapai 258 orang.

Kemenperin turut mengembangkan berbagai pelatihan lain yang berkaitan dengan Big Data, Internet of Things, Cloud Computing, hingga transformasi industri 4.0 tingkat manajerial sebagai bagian dari penguatan talenta manufaktur nasional.