Singtel Alpha Lepas Saham Super Bank (SUPA), Ada Apa?

Ltd. melepas kepemilikannya pada  29 Mei 2026

Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Sabtu, 30 Mei 2026, Singtel menjual sebanyak 2,49 miliar saham SUPA atau setara 7,36 persen gak suara dengan harga transaksi Rp326 per saham.

Setelah transaksi itu, kepemilikan Singtel di PT Super Bank Indonesia menjadi nihil. Adapun penjualan saham ini dilakukan dalam rangka internal restructuring.

Di hari yang sama, saham SUPA juga diborong oleh GXS Bank Pte. Ltd.

yang melakukan pembelian sebanyak 2,44 miliar saham dengan harga Rp327.

Aksi korporasi tersebut membuat kepemilikan GXS bank meningkat dari 3,53 miliar saham atau 10,44 persen menjadi 5,98 miliar saham. Angka ini setara 17,66 persen hak suara.

Adapun tujuan transaksi pembelian GXS Bank terhadap saham SUPA sebagai bagian dari strategic reorganization.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat, 29 Mei 2026, saham SUPA ditutup di level Rp840 atau tidak berubah dari harga pembukaan hari itu.

Saham SUPA masih menunjukkan pergerakan yang cenderung terbatas dalam beberapa waktu terakhir. Dalam sebulan terakhir, saham ini terkoreksi sebesar 4,55 persen.

Tekanan jual terlihat semakin besar dalam rentang tiga bulan. Dalam periode ini, SUPA melemah hingga 20,38 persen.

Bahkan dari awal 2026 atau year to date, saham bank digital ini tersungkur sebesar 10,16 persen.

SUPA Bukukan Laba Pra Pajak Rp142 Miliar hingga April 2026

Sebelumnya diberitakan, SUPA mencatat laba sebelum pajak atau profit before taxsebesar Rp142 miliar hingga April 2026.

Capaian tersebut melonjak 1.528,8 persen secara tahunan atau year on yeardi tengah ekspansi kredit digital dan penguatan integrasi layanan keuangan di ekosistem Grab dan OVO.

Total aset perseroan tercatat naik 71,5 persen YoY menjadi Rp24 triliun. Sejalan dengan itu, penyaluran kredit meningkat 55,4 persen YoY menjadi Rp12,2 triliun.

Manajemen menjelaskan pertumbuhan kredit didukung penetrasi produk pinjaman berbasis ekosistem, termasuk melalui produk Own Loan atau PAS yang terhubung dengan berbagai touchpoint digital.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketigatumbuh 98,4 persen YoY menjadi Rp15,1 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih atau net interest incomenaik 84,5 persen YoY menjadi Rp671 miliar.

“Pertumbuhan bisnis didorong integrasi layanan dan perluasan akses keuangan digital,” tulis manajemen Superbank di Jakarta, dikutip Kamis, 21 Mei 2026.