IHSG Longsor ke Level Terendah dalam Lima Tahun, Asing Masih Kabur!

Posisi tersebut membawa IHSG jatuh ke area terendah dalam lima tahun terakhir setelah tekanan jual asing kembali mendominasi pasar.

Nilai transaksi pasar mencapai Rp50,15 triliun dengan volume perdagangan 472,15 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 2,38 juta kali.

Tekanan jual asing masih menjadi salah satu sorotan utama di tengah anjloknya indeks.

Berdasarkan data Foreign Activity Midday Stockbit Sekuritas per sesi pertama, investor asing membukukan penjualan sebesar Rp5,74 triliun dengan pembelian Rp5,21 triliun, sehingga tercatat net foreign sell sebesar Rp525,37 miliar.

Saham-saham perbankan besar kembali menjadi sasaran utama pelepasan asing.

PT Bank Central Asia Tbkmencatat net foreign sell terbesar mencapai Rp265,32 miliar, diikuti PT Chandra Asri Pacific Tbksebesar Rp257,53 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia TbkRp198,73 miliar.

Tekanan asing juga terlihat pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbkdengan net sell Rp104,14 miliar dan PT Aneka Tambang Tbksebesar Rp90,94 miliar.

Selain itu, saham-saham kelompok Prajogo Pangestu seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, PT Petrosea Tbk, PT Barito Pacific Tbk, hingga TPIA turut berada dalam tekanan jual.

Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham justru masih mencatat akumulasi asing. PT Bumi Resources Tbkmenjadi saham dengan net foreign buy terbesar senilai Rp165,59 miliar.

Posisi berikutnya ditempati PT Bank Mandiri TbkRp87,04 miliar dan PT Amman Mineral Internasional TbkRp86,96 miliar.

Investor asing juga tercatat masuk ke saham PT Barito Renewables Energy Tbksebesar Rp43,21 miliar dan PT Dewata Freightinternational TbkRp42,71 miliar.

Namun besarnya akumulasi tersebut belum mampu mengimbangi tekanan jual pada saham-saham kapitalisasi besar lainnya.

Pelemahan IHSG juga terjadi bersamaan dengan koreksi tajam saham-saham grup Prajogo Pangestu.

Saham BREN turun 5,83 persen ke Rp3.880, BRPT melemah 13,47 persen ke Rp1.670, CUAN jatuh 12,10 persen ke Rp690, sementara PTRO terkoreksi 15 persen ke Rp4.080.

Saham TPIA yang menjadi salah satu top value perdagangan juga anjlok 13,42 persen ke level Rp1.645 dengan nilai transaksi mencapai Rp1,89 triliun. Sementara PT Chandra Daya Investasi Tbkturun 13,79 persen ke level Rp750.

Data historis TradingView menunjukkan posisi IHSG saat ini menjadi titik terendah dalam rentang lima tahun terakhir. Dalam periode satu bulan, IHSG tercatat turun 15,73 persen.

Secara year to date, indeks sudah melemah 32,12 persen, sedangkan dalam satu tahun terakhir terkoreksi 16,72 persen.

Aktivitas broker juga menunjukkan tingginya transaksi di pasar saat tekanan terjadi.

UBS Sekuritas Indonesiamenjadi broker dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp3,92 triliun, diikuti Stockbit Sekuritas DigitalRp3,37 triliun dan Mandiri Sekuritassebesar Rp3,13 triliun.

Maybank Sekuritas Indonesiamencatat transaksi Rp2,12 triliun, sedangkan CGS International Sekuritas Indonesiasebesar Rp1,8 triliun.

Tingginya aktivitas transaksi tersebut mencerminkan volatilitas pasar yang meningkat tajam ketika IHSG memasuki area tekanan besar.