Bos Goldman Sachs Bilang Investor Sedang Rakus pada Saham AI

Ketika valuasi perusahaan kecerdasan buatanterus melambung dan gelombang penggalangan dana raksasa mulai mengantre, rasa takut yang biasanya menjadi rem pasar justru semakin sulit ditemukan.

Fenomena itu bahkan diakui langsung oleh Chief Executive Officer Goldman Sachs, David Solomon. Menurutnya, pasar saat ini sedang berada dalam fase ketika keserakahan investor jauh lebih dominan dibandingkan kewaspadaan.

Pernyataan tersebut muncul saat Solomon ditanya mengenai kemampuan pasar menyerap serangkaian penawaran saham bernilai fantastis dari perusahaan-perusahaan teknologi generatif seperti OpenAI, Anthropic, hingga SpaceX.

Alih-alih khawatir pasar kehabisan tenaga, Solomon justru melihat kondisi sebaliknya. Menurut dia, likuiditas yang beredar masih sangat besar selama optimisme investor tetap terjaga.

“Masih ada banyak likuiditas di dalam sistem jika dunia tetap berada dalam kondisi optimistis,” kata Solomon, dikutip dari CNBC, Kamis, 4 Juni 2026.

Ia kemudian menambahkan kalimat yang menggambarkan psikologi pasar saat ini. “Kita jelas sedang berada dalam momen ketika keserakahan lebih besar daripada ketakutan,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi menarik karena disampaikan menjelang salah satu periode penggalangan dana terbesar dalam sejarah industri teknologi.

OpenAI dan Anthropic yang kini menjadi dua pemain utama pengembang model AI disebut-sebut sedang menuju pasar saham dengan valuasi yang berpotensi mencapai triliunan dolar AS.

Di saat bersamaan, SpaceX yang juga memiliki keterkaitan dengan bisnis AI milik Elon Musk diperkirakan mengikuti jalur serupa.

Belum lagi berbagai perusahaan lain yang sedang berburu modal jumbo untuk membangun pusat data, membeli chip AI, hingga memperluas infrastruktur komputasi.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan yang mulai banyak dibicarakan investor, sampai seberapa jauh pasar mampu menyerap banjir pasokan saham baru tanpa mengalami kelelahan?

Namun Solomon tampaknya tidak terlalu memikirkan risiko tersebut. Ia menunjuk kinerja saham Alphabet sebagai contoh terbaru.

Menurutnya, pasar tetap memberikan respons positif meski perusahaan induk Google itu mengumumkan rencana penggalangan dana ekuitas senilai USD80 miliar atau sekitar Rp1.352 triliun.

“Sahamnya diperdagangkan dengan sangat baik,” kata Solomon.

“Ini adalah data konkret pertama untuk transaksi dengan skala sebesar ini, dan hasilnya cukup menggembirakan,” lanjutnya.

Menurut Solomon, kondisi pasar obligasi dan pasar saham yang sama-sama kuat saat ini membuat banyak perusahaan memilih memanfaatkan momentum untuk mencari pendanaan sebanyak mungkin.

Baginya, kesempatan semacam ini tidak datang setiap saat. “Ketika modal tersedia, jika bisnis Anda membutuhkan modal dan modal itu tersedia, ambillah modal tersebut,” ujarnya.

Meski mengakui gelombang penggalangan dana yang sedang berlangsung belum pernah terjadi sebelumnya, Solomon menilai kondisi tersebut masih ditopang oleh kekayaan global dan likuiditas pasar yang berada pada level sangat tinggi.

Ia bahkan melihat potensi terciptanya efek berantai dari ledakan AI.

Keuntungan yang diperoleh investor dan karyawan perusahaan teknologi, menurutnya, dapat kembali berputar ke ekonomi melalui pembayaran pajak maupun investasi pada bisnis-bisnis baru.

Meski begitu, Solomon tetap menyisipkan peringatan. Sejarah pasar modal menunjukkan bahwa euforia sering kali berubah menjadi kepanikan hanya dalam hitungan minggu.

“Keserakahan bisa berubah menjadi ketakutan dengan sangat cepat, tetapi itu tidak berarti pasti akan terjadi,” katanya.

Menurut Solomon, fase optimisme ekstrem bisa bertahan jauh lebih lama daripada yang dibayangkan banyak orang.

“Euforia bisa berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Ada kemungkinan besar kita masih berada di tahap awal siklus ini dibandingkan tahap akhirnya,” ujar dia.

Pernyataan tersebut secara tidak langsung menunjukkan bagaimana Wall Street saat ini sedang mempertaruhkan keyakinannya pada satu tema besar, yakni kecerdasan buatan.

Masalahnya, sejarah juga mencatat bahwa setiap revolusi teknologi selalu melahirkan dua hal sekaligus: Kekayaan baru dalam jumlah luar biasa dan gelembung aset yang sering kali pecah ketika ekspektasi mulai berlari terlalu jauh meninggalkan realitas bisnis.

Untuk saat ini, pasar tampaknya masih memilih berpihak pada mimpi. Dan selama uang terus mengalir, pesta AI kemungkinan masih akan berlanjut.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.