Moody's Beri Outlook Negatif untuk Mesin Investasi Danantara. ini Jawabannya

Bersamaan dengan penilaian tersebut, lembaga pemeringkat global itu juga menetapkan outlook negatif.

merupakan entitas investasi yang berada di bawah BPI Danantara dan bertugas mengelola dana investasi yang berasal dari aset-aset strategis yang telah dikonsolidasikan dalam holding investasi negara tersebut.

Tim Komunikasi Danantara Indonesia menyatakan bahwa peringkat dan prospek yang diberikan Moody’s mencerminkan posisi Indonesia sebagai negara berdaulat yang memiliki keterkaitan erat dengan DIM.

Menurut Danantara, penilaian dari Moody’s menjadi pengakuan atas fondasi kelembagaan yang sedang dibangun sekaligus memperkuat kredibilitas perusahaan di mata investor global.

“Ini menegaskan kekuatan fondasi institusi kami seiring dengan langkah berkelanjutan untuk berinteraksi dengan pasar keuangan global,” tulis Danantara lagi.

Selain itu, perusahaan menilai peringkat tersebut dapat mendukung upaya memperluas akses pendanaan internasional untuk mendukung agenda pembangunan ekonomi nasional.

“Pengakuan ini semakin memperkuat keyakinan terhadap strategi, tata kelola, dan posisi jangka panjang kami seiring dengan upaya memperluas akses terhadap pendanaan internasional serta mendukung prioritas ekonomi Indonesia,” lanjut Danantara.

Sebelumnya, Wakil Presiden sekaligus Analis Senior Moody’s Ratings, Rachel Chua, menjelaskan bahwa peringkat yang diberikan kepada DIM sejalan dengan peringkat utang pemerintah Indonesia yang berada pada level Baa2 dengan outlook negatif.

“Peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia, didukung hubungan kredit yang kuat, termasuk struktur kepemilikan dalam kerangka Danantara, serta harapan kami akan dukungan luar biasa dari pemerintah yang diberikan secara tepat waktu,” ujar Chua dalam laporan Moody’s.

Moody’s mengategorikan DIM sebagai Government-Related Issueratau entitas yang memiliki hubungan erat dengan pemerintah.

Dalam proses pemeringkatannya, Moody’s menggunakan pendekatan top-down, sehingga penilaian lebih banyak didasarkan pada keterkaitan dengan pemerintah dibandingkan kekuatan fundamental perusahaan secara mandiri.

Lembaga pemeringkat tersebut juga belum memberikan Baseline Credit Assessmentkepada DIM.

Alasannya, perusahaan masih berada pada tahap awal pengembangan, memiliki rekam jejak operasional yang terbatas, dan belum menjalankan aktivitas usaha independen dalam skala signifikan.

Respons Praktisi Pasar Modal

Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai peringkat yang diberikan S&P Global dan Moody’s kepada Danantara Investment Managementmasih menunjukkan tingkat kelayakan investasi yang baik atau investment grade.

Menurut Hans, penilaian dari dua lembaga pemeringkat internasional tersebut tidak dapat diartikan sebagai sinyal memburuknya kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

DIM baru-baru ini memperoleh peringkat kredit jangka panjang BBB dan jangka pendek A-2 dengan outlook stabil dari S&P Global. Sementara itu, Moody’s memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif.

“Peringkat tersebut menunjukkan Moody’s dan S&P Global tetap melihat DIM memiliki kapasitas dalam memenuhi kewajiban finansialnya,” kata Hans dalam keterangan tertulis, Jumat, 5 Juni 2026.

Ia menjelaskan, outlook negatif yang disematkan Moody’s lebih banyak dipengaruhi oleh faktor non-keuangan, terutama terkait konsistensi kebijakan pemerintah, tata kelola perusahaan pelat merah, strategi investasi Danantara, serta pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negarake depan.

Menurut Hans, penyelarasan peringkat DIM dengan sovereign rating Indonesia juga menunjukkan keyakinan bahwa pemerintah akan memberikan dukungan apabila Danantara menghadapi tekanan di masa mendatang.

“Persoalan utama yang disoroti bukanlah kemampuan finansial Danantara saat ini, melainkan faktor governance dan kepastian kebijakan.

Moody’s dan S&P melihat adanya keterkaitan yang sangat kuat antara Danantara dan pemerintah sehingga risiko yang melekat pada keduanya juga dipersepsikan serupa,” ujarnya.

Meski demikian, Hans menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid. Ia menegaskan bahwa Indonesia belum berada dalam kondisi resesi dan pertumbuhan ekonomi masih terjaga pada level yang relatif baik.

Selain itu, inflasi dinilai tetap terkendali meskipun harga energi global mengalami tekanan. Kondisi fiskal pemerintah juga masih berada dalam posisi yang cukup sehat.

Hans menambahkan, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus meski nilainya mulai menyusut akibat peningkatan impor energi.

Di sisi lain, sektor komoditas masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional ketika harga komoditas global bergerak pada level yang menguntungkan.

“Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tidak seburuk yang dikhawatirkan pasar. Pertumbuhan masih terjaga, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal relatif baik.

Hal yang menjadi perhatian investor saat ini lebih kepada tata kelola dan konsistensi kebijakan,” katanya.

Untuk menjaga kepercayaan investor, Hans menyarankan pemerintah memperkuat komunikasi kebijakan, menjaga disiplin fiskal, serta memperjelas arah investasi Danantara.

“Langkah ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus membuka peluang perbaikan outlook di masa mendatang,” tuturnya.