Di tengah memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran, logam mulia yang biasanya menjadi tempat berlindung investor justru ambruk lebih dari 3 persen dalam sehari.
Dilansir dari Reuters, Kamis, 11 Juni 2026, pada perdagangan Kamis WIB, harga emas spot merosot 3,3 persen ke level USD4.123,89 per ons atau sekitar Rp70,1 juta per ons. Angka tersebut menjadi posisi terendah sejak 23 Maret lalu.
Kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga ikut terseret turun 3,3 persen ke level USD4.147,10 per ons atau setara Rp70,5 juta per ons.
Tekanan terhadap emas muncul setelah pasar semakin khawatir perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran akan mendorong lonjakan inflasi global.
Kondisi itu berpotensi memaksa bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Sentimen pasar semakin memburuk setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Teheran. “Iran telah terlalu lama menunda negosiasi dan sekarang harus membayar harganya,” kata Trump.
Tak berhenti di situ, Trump juga mengancam akan menggempur Iran apabila kesepakatan damai tidak tercapai.
Amerika Serikat sebelumnya melancarkan serangan terhadap sejumlah target Iran di sekitar Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran mengerahkan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Menurut pedagang logam independen Tai Wong, pasar saat ini sedang kehabisan kabar baik.
“Pasar sangat membutuhkan kabar baik setelah data ketenagakerjaan yang kuat pada Jumat lalu dan ancaman Presiden Trump pagi ini bahwa Iran akan membayar harga karena tidak mau bernegosiasi,” ujarnya.
Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, harga emas sebenarnya terus berada di bawah tekanan. Lonjakan harga minyak akibat konflik membuat investor khawatir inflasi kembali naik.
Ironisnya, meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru menjadi musuh utama logam mulia tersebut.
Saat bunga naik, investor cenderung beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Saat ini pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada Desember mencapai sekitar 66 persen.
Di sisi lain, data inflasi terbaru Amerika Serikat menunjukkan indeks harga konsumen inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, hanya naik 0,2 persen secara bulanan pada Mei setelah sebelumnya naik 0,4 persen pada April.
Investor kini menunggu data Indeks Harga Produsen Amerika Serikat yang akan dirilis Kamis untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Meski harga emas sedang tertekan, sejumlah analis menilai fondasi kenaikan logam mulia itu belum sepenuhnya hilang.
“Meskipun harga belakangan mengalami konsolidasi, inflasi, pembelian oleh bank sentral, dan kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang masih terus menopang emas,” kata Strategis Pasar Sprott Asset Management, Paul Wong.
Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak beragam. Harga perak turun 1 persen menjadi USD64,70 per ons atau sekitar Rp1,09 juta per ons.
Platinum merosot 2 persen menjadi USD1.692,92 per ons atau sekitar Rp28,8 juta per ons.
Berbeda dengan keduanya, paladium justru naik 1,3 persen ke level USD1.237,34 per ons atau sekitar Rp21 juta per ons.
Bagi investor, kejatuhan emas kali ini menjadi pengingat bahwa bahkan aset yang selama ini dianggap paling aman pun tidak kebal terhadap guncangan geopolitik, inflasi, dan arah kebijakan bank sentral.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.