Pakar dan pengamat ekonomi sekaligus dosen senior di Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menyebut kebijakan mengerek harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sebagai keputusan yang tepat di waktu yang tepat.
Tanpa kenaikan ini, keuangan negara harus menanggung beban kompensasi yang berat.
“Kenaikan harga Pertamax memberi Indonesia ruang napas fiskal sekitar Rp39 triliun per tahun dibandingkan tidak berbuat apa-apa di tengah pelemahan rupiah.
Yayan membeberkan, berdasarkan simulasi model permintaan terhadap 1,36 juta rumah tangga Indonesia (data Susenas 2019–2024), kenaikan Pertamax ini secara bersih menghemat anggaran negara sebesar Rp11,4 triliun per tahun serta memangkas devisa impor BBM hingga USD0,6 miliar.
Namun, Yayan mengingatkan adanya risiko migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite.
Menggunakan metode estimasi Regression Discontinuity Designdan simulasi Monte Carlo sebanyak 5.000 kali, ia menemukan bahwa sekitar satu dari lima konsumen Pertamax berpotensi turun kelas ke BBM bersubsidi.
“Risikonya adalah migrasi. Kira-kira 19,5 persen pembeli Pertamax akan pindah ke Pertalite jika pengawasan kuota berjalan baik.
Jika pengawasan lemah, migrasi melonjak hingga 22,5 persen. Akibatnya, sekitar 40 persen dari total penghematan kotor akan menguap kembali karena subsidi Pertalite membengkak,” urainya.
Menurut Yayan, simulasi kebijakan BBM terbaru menunjukkan bahwa opsi dengan kenaikan harga mampu menyelamatkan posisi fiskal bersih hingga Rp 11,4 triliun per tahun serta menghemat devisa impor sebesar US$ 0,6 miliar, berbanding terbalik dengan opsi tanpa kenaikan yang akan membebani APBN sebesar Rp 27,7 triliun.
Meski demikian, skenario kenaikan harga, kata dia, menyimpan bom waktu berupa lonjakan konsumsi Pertalite hingga 30,8 juta KL, atau 5 persen di atas kuota, akibat eksodus belasan hingga puluhan persen pengguna Pertamax.
Dari sisi daya beli, Dosen Senior FEB Unpad itu mengatakan bahwa kenaikan Pertamax sebenarnya tidak memukul rumah tangga kelas menengah bawahsecara langsung.
Kelompok ini rata-rata hanya kehilangan Rp3.400 hingga Rp5.700 per bulan (setara 0,1 persen dari total pengeluaran) karena mayoritas dari mereka sudah mengonsumsi Pertalite sejak awal.
Ancaman nyata bagi masyarakat justru berada pada risiko kelangkaan di lapangan.
Menurutnya, Migrasi konsumen Pertamax diproyeksikan membuat konsumsi Pertalite melambung ke angka 30,8 juta kiloliter, atau melampaui kuota resmi yang dipatok sebesar 29,26 juta KL.
“Pengemudi ojek online, petani, serta nelayan adalah kelompok pertama yang akan terpukul jika kuota Pertalite jebol dan memicu antrean panjang atau pembatasan ketat di SPBU,” jelas Yayan.
Yayan pun mendesak pemerintah segera mengeksekusi lima rekomendasi taktis agar penghematan subsidi BBM tidak menjadi sia-sia, mulai dari membatasi pembelian Pertalite via MyPertamina maksimal 50 liter per bulan hingga mengubah skema subsidi agar melekat pada subjek, bukan objek.
Yayan juga menyarankan pengalihan dana penghematan sebesar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun untuk bantalan sosial sektor produktif (ojol, nelayan, petani), serta meminta BPH Migas segera mengantisipasi lonjakan konsumsi dengan merevisi kuota Pertalite ke angka 30,6–31 juta KL.
Terakhir, ia mengingatkan pemerintah untuk mengharmonisasikan anggaran Program Makan Bergizi Gratissenilai Rp268 triliun terhadap kinerja pendapatan negara, mengingat penghematan BBM ini nyatanya baru menutup sekitar 4 persen dari total kebutuhan program tersebut.
Sebagai informasi, Pertamina mengumumkan harga Pertamax dengan angka oktan92 meningkat dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Pada saat yang sama, Pertamax Green dengan spesifikasi RON 95 turut mengalami penyesuaian dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Daftar Harga BBM Retail Non Subsidi melalui SPBU per 10 Juni 2026:
Pertamax Series
- Pertamax: dari Rp. 12.300/liter menjadi Rp. 16.250/liter
- Pertamax Green 95: dari Rp. 12.900/liter menjadi Rp. 17.000/liter.
- Pertamax Turbo: Rp. 20.750/liter
Dex Series
- Dexlite: Rp. 23.000/liter.
- Pertamina Dex: Rp. 24.800/liter.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.