IHSG Sesi I Ambles, Apa yang Terjadi?

Hingga pertengahan sesi I, volume perdagangan di seluruh pasar mencapai 117,02 juta Lot saham. Adapun total nilai transaksi menembus Rp 6,39 Triliun dengan frekuensi perdagangan yang sangat agresif mencapai 933,35 ribu kali transaksi.

Kejatuhan yang melanda IHSG membuat performa sektoral koreksi tanpa ada satu pun sektor yang mampu bertahan di zona hijau.

Berdasarkan data yang terekam pada berkas WhatsApp Image Aksi jual yang masif merontokkan sektor Cyclicalyang terpangkas sedalam -3,20 persen.

Penurunan ini diikuti oleh sektor Energyyang juga ikut terseret ke zona merah dengan pelemahan sebesar -3,23 persen.

Sementara itu, sektor Financeyang biasanya menjadi penopang utama indeks, kali ini harus pasrah melemah sebesar -1,17 persen.

Bergeser ke sektor kesehatan, saham-saham di sektor Health ikut loyo dan mencatatkan penurunan sebesar -1,65 persen.

Tekanan yang jauh lebih hebat melanda sektor Industrialyang ambruk hingga -5,31 persen. Tidak ketinggalan, sektor Non-Cyclicaljuga terdepresiasi sebesar -1,72 persen.

Kondisi memprihatinkan pun membayangi sektor Infrastructureyang anjlok dalam sebesar -4,04 persen.

Saham-saham di bidang transportasi yang tergabung dalam sektor Transport ikut terpukul dengan koreksi sebesar -3,20 persen, disusul oleh sektor Propertyyang merosot hingga -2,26 persen.

Terakhir, sektor berbasis teknologi dan industri manufaktur dasar tidak luput dari hantaman pasar.

Sektor Technologyterkoreksi sebesar -2,63 persen, dan sektor Basic-Indmenjadi pelengkap rapor merah pasar modal hari ini setelah amblas paling dalam sebesar -5,36 persen.

Apa yang Terjadi?

BRI Danareksa Sekuritas, menyampaikan pasar dibayangi kembali dengan meningkatnya risiko geopolitik setelah adanya laporan serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz.

“Yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global dan memicu kenaikan harga energi,” tulis BRI Danareksa.

Sentimen juga datang dari Amerika SerikatCore PCE Mei tercatat naik 0,3 persen MoM dan 3,4 persen YoY, mempertahankan ekspektasi higher for longer dari The Fed.

“Di sisi lain, optimisme sektor AI membaik setelah laporan keuangan Micron yang solid,” tulis BRI Danareksa.

Dari domestik, katalis datang karena rupiah kembali melemah mendekati Rp18.000/USD, mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal dan berpotensi membatasi aliran dana asing ke pasar saham domestik.

“Investor juga mulai mencermati parade IPO pada awal Juli, yang berpotensi menyerap sebagian likuiditas pasar dalam jangka pendek,” tulis BRI Danareksa.