Lampu Kuning Kelangsungan Usaha dan Mimpi Swasembada Baja KRAS

Laporan keuangan konsolidasian menunjukkan akumulasi kerugianmenembus USD2,01 miliar atau sekitar Rp31 triliun.

Defisit ini telah menjadi tumpukan inefisiensi operasional dan “dosa masa lalu” yang mengancam kelangsungan usaha perseroan

Merujuk dokumen laporan auditor independen secara eksplisit memberi peringatan keraguan signifikan atas kemampuan perseroan untuk bertahan.

Indikasi ini diperkuat dengan total liabilitas jangka pendek yang melampaui aset lancar, serta arus kas operasi yang negatif sebesar USD1,75 juta sepanjang 2025.

Perolehan laba tahun 2025 tercatat sebagai anomali akuntansi dari restrukturisasi utang, bukan hasil murni perdagangan baja.

Lubang defisit Rp31 triliun tersebut bersumber dari empat titik pendarahan utama. Pertama, penghapusan nilaiaset tetap yang mencapai USD977,27 juta (lebih dari Rp15 triliun).

Penyebab utamanya adalah proyek Blast Furnaceyang gagal beroperasi sehingga menjadi aset mangkrak.

Kedua, beban keuangan raksasa yang menyedot kas untuk pembayaran bunga utang; pada 2024 saja, beban ini mencapai USD 153,65 juta

Ketiga, bencana operasional kebakaran Finishing Mill di pabrik Hot Strip Mill1 pada Mei 2023 yang melumpuhkan jantung produksi baja dan memaksa perseroan gagal bayar kewajiban restrukturisasi pada Agustus 2023.

Keempat, kerugian dari entitas asosiasi, terutama PT Krakatau Posco, yang memberikan kontribusi rugi sebesar USD49,68 juta pada 2024 dan membengkak menjadi USD124,45 juta pada 2025.

Luka operasional masa lalu ini masih tercetak abadi di neraca, menjadikan laba 2025 sekadar ilusi dari penghapusan utang.

Sementara itu, total liabilitas KRAS per akhir 2025 mencapai USD2,04 miliarUtang sindikasi restrukturisasi utamamencapai USD 1,17 miliar

Kreditur terbesar yakni Bank Mandiri, BNI, dan BRISelain itu, perseroan kini bergantung pada “napas buatan” PT Danantara Asset Management yang saldonya melonjak menjadi USD 242,32 juta per kuartal I 2026.

Sebagai tambahan, KRAS juga dibebani utang ke sindikasi lain seperti CIMB Niaga, OCBC NISP, LPEI, dan ICBC IndonesiaSementara itu, pinjaman dari PT Danantara Asset Managementtelah melonjak menembus ekuivalen USD 242,32 juta pada akhir Kuartal I-2026 sebagai “napas buatan” untuk menjaga operasional pabrik agar tetap menyala.

Mewujudkan swasembada baja dengan beban defisit tersebut hampir mustahil secara mandiri.

KRAS kini beroperasi melalui empat pilar eksternal:Suntikan modal kerja revolving dari Danantara;Kemitraan asing dengan PT Krakatau Posco yang didanai utang dan PMN;Proteksi pasar melalui bea masuk anti-dumping; sertaRelaksasi bunga sindikasi menjadi hanya 1 persen hingga 2035.

Tanpa dukungan eksternal ini, fundamental KRAS dipastikan terjerembap dalam krisis likuiditas yang mengarah pada kebangkrutan teknis.

Pemerintah dituntut memastikan restrukturisasi ini menciptakan efisiensi nyata, bukan sekadar menunda “kiamat” utang.