Utang AS Tembus USD40 Triliun, Treasury Gandakan Buyback, Apa Artinya bagi Investor?

Departemen Keuangan AS atau Treasury memilih memperbesar pembelian kembali obligasi pemerintah tenor panjang ketika yield surat utang AS melonjak ke level tertinggi dalam bertahun-tahun.

Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Treasury mengumumkan ukuran operasi liquidity support buyback untuk obligasi nominal berjangka panjang akan diperbesar setidaknya dua kali lipat.

Batas yang sebelumnya maksimal USD2 miliar atau sekitar Rp35,8 triliun per operasi dinaikkan menjadi sedikitnya USD4 miliar atau sekitar Rp71,6 triliun.

Kebijakan tersebut berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026 dan menyasar surat utang tenor 10–20 tahun serta 20–30 tahun.

Stockbit Sekuritas mencatat kebijakan tersebut diumumkan sehari setelah yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun menyentuh 5,34 persen pada Selasa, 18 Agustus, level tertinggi sejak 2007.

Pada saat yang sama, pemerintah AS mengumumkan total utangnya telah menembus USD40 triliun atau sekitar Rp716 triliun.

“Nominal buyback ditingkatkan dari sebelumnya maksimum USD2 miliar per operasi menjadi minimum USD4 miliar per operasi,” tulis Stockbit Sekuritas dalam risetnya yang dilihat Rabu, 26 Agustus 2026.

Respons awal pasar memang sesuai dengan harapan Treasury. Pada 19 Agustus, yield Treasury tenor 10 tahun turun sekitar 7 basis poin ke 4,64 persen, sementara yield tenor 30 tahun turun sekitar 9 basis poin ke sekitar 5,19 persen.

Dolar AS juga melemah dan harga emas melonjak. Reuters mencatat penurunan yield tersebut merupakan respons langsung pasar terhadap kejutan kebijakan Treasury.

Masalahnya, kelegaan tersebut belum bertahan lama. Pada perdagangan berikutnya, yield obligasi jangka panjang kembali naik.

Yield 30 tahun kembali berada di sekitar 5,25 persen pada 20 Agustus, sementara yield 10 tahun bergerak kembali mendekati 4,7 persen.

Reuters menilai langkah Treasury memang meredakan tekanan untuk sementara, tetapi belum menghilangkan persoalan fiskal dan inflasi yang menjadi sumber tekanan terhadap pasar obligasi.

Di sinilah persoalan yang lebih besar bagi investor mulai terlihat. Pertanyaannya bukan lagi apakah buyback Treasury mampu membuat yield turun sehari setelah pengumuman. Jawaban atas pertanyaan tersebut sudah terlihat.

Yang jauh lebih penting adalah apakah pembelian kembali obligasi itu mampu mengubah tekanan struktural yang membuat investor meminta imbal hasil tinggi untuk memegang surat utang AS berjangka panjang.

Apa sebenarnya yang sedang diperbaiki Treasury?

Buyback Treasury perlu dipahami secara tepat karena kebijakan tersebut bukan quantitative easing atau QE. Treasury dan Federal Reserve memiliki fungsi berbeda.

Treasury mengelola pembiayaan pemerintah dan struktur utangnya, sedangkan Federal Reserve menjalankan kebijakan moneter.

Dalam program yang diumumkan 19 Agustus, Treasury menyebut pembelian kembali tersebut sebagai liquidity support buyback.

Sasarannya adalah surat utang off-the-run, yakni obligasi yang sudah tidak menjadi penerbitan terbaru dan cenderung memiliki likuiditas lebih rendah.

Dengan membeli kembali surat-surat tersebut secara berkala, Treasury ingin menyediakan kesempatan yang lebih teratur bagi investor untuk menjual kepemilikannya dan sekaligus memperbaiki fungsi pasar sekunder.

Artinya, pemerintah AS bukan sedang membeli kembali seluruh utangnya. Bahkan angka USD4 miliar atau sekitar Rp71,6 triliun yang menjadi sorotan merupakan ukuran setiap operasi, bukan total program buyback.

Dalam quarterly refunding yang diumumkan awal Agustus, Treasury sebelumnya sudah merencanakan hingga USD38 miliar atau sekitar Rp680,2 triliun pembelian kembali untuk mendukung likuiditas serta hingga USD25 miliar atau sekitar Rp447,5 triliun untuk kebutuhan cash management.

Skalanya menjadi lebih mudah dipahami jika dibandingkan dengan ukuran pasar Treasury. Pasar surat utang pemerintah AS mencapai sekitar USD31 triliun atau sekitar Rp554,9 triliun.

Karena itu, USD4 miliar per operasi hanya sebagian sangat kecil dari keseluruhan pasar.

Namun, membandingkan kedua angka tersebut secara mentah juga bisa menyesatkan. Tujuan buyback bukan untuk mengurangi seluruh utang AS secara material, melainkan memperbaiki likuiditas pada segmen surat utang tertentu.

Dengan kata lain, Treasury sedang mencoba memperbaiki cara pasar memperdagangkan utang, bukan menghapus persoalan besarnya utang pemerintah. Dan persoalan itulah yang membuat reaksi pasar setelah pengumuman menjadi penting.

Kenapa Yield Kembali Naik usai Sempat Jatuh?

Salah satu petunjuknya muncul bahkan sebelum Treasury mengumumkan peningkatan buyback. Pada 13 Agustus, Treasury melelang obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun senilai USD25 miliar atau sekitar Rp447,5 triliun.

Obligasi tersebut terjual dengan yield 5,216 persen dan rasio bid-to-cover 2,39 kali, turun dari 2,44 kali pada lelang sebelumnya. Yield lelang juga jauh lebih tinggi dibandingkan 5,058 persen pada lelang sebelumnya.

Angka tersebut tidak cukup untuk mengatakan investor sudah kehilangan minat terhadap Treasury. Namun, ada satu hal yang jelas.

Untuk menyerap utang jangka panjang AS, pasar meminta tingkat imbal hasil yang semakin tinggi.

Beberapa hari kemudian, tekanan tersebut semakin jelas. Yield 30 tahun sempat menyentuh sekitar 5,34 persen pada 18 Agustus, sebelum Treasury mengumumkan peningkatan ukuran buyback.

Setelah pengumuman, yield turun tajam. Namun sehari setelahnya kembali naik.

Pola tersebut membuat fungsi buyback menjadi lebih mudah dibaca.

Kebijakan Treasury memiliki kemampuan memberikan relief terhadap pasar, tetapi sejauh perkembangan yang terlihat sampai 20 Agustus, belum ada bukti bahwa kebijakan tersebut telah mengubah faktor yang mendorong investor meminta yield tinggi.

Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah term premium. Data New York Federal Reserve menunjukkan term premium Treasury 10 tahun sudah berada di sekitar 0,87 persen pada akhir Juli, naik dari sekitar 0,73 persen pada awal Juli.

Term premium pada dasarnya menggambarkan kompensasi tambahan yang diminta investor untuk menanggung risiko memegang obligasi berjangka lebih panjang.

Ini penting karena yield jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh perkiraan investor mengenai suku bunga The Fed. Risiko inflasi, kondisi fiskal, pasokan surat utang dan ketidakpastian jangka panjang juga ikut masuk ke dalam harga.

Karena itu, apabila yield 30 tahun tetap tinggi meski Treasury memperbesar buyback, investor perlu melihat apakah tekanan tersebut berasal dari persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbaiki likuiditas pasar.

Apakah Investor Asing Mulai Meninggalkan Treasury?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Data Treasury International Capital atau TIC untuk Juni memang menunjukkan kepemilikan asing atas surat utang pemerintah AS turun menjadi sekitar USD9,299 triliun atau sekitar Rp166,45 triliun, dari USD9,371 triliun pada Mei 2026.

Penurunan tersebut terutama berasal dari Jepang, Inggris dan China.

Jepang masih menjadi pemegang asing Treasury terbesar dengan sekitar USD1,116 triliun atau sekitar Rp19.976 triliun. Kepemilikannya turun 2,3 persen dari bulan sebelumnya.

Inggris berada di posisi berikutnya dengan sekitar USD939,9 miliar atau sekitar Rp16.824 triliun, sedangkan kepemilikan China turun menjadi USD633,4 miliar atau sekitar Rp11.338 triliun.

Posisi China tersebut merupakan yang terendah sejak September 2008 dan turun lebih dari 13 persen secara tahunan.

Kalau berhenti di sini, kesimpulannya akan mudah dibuat. Investor asing sedang menjauh dari Treasury.

Tetapi data transaksi justru membuat ceritanya lebih rumit. Pada Juni lalu, investor asing masih mencatat pembelian bersih surat berharga jangka panjang AS sebesar USD207,1 miliar atau sekitar Rp3.707 triliun.

Artinya, penurunan kepemilikan pada akhir bulan tidak otomatis berarti investor asing secara keseluruhan berhenti membeli surat berharga AS.

Karena itu, yang lebih penting bagi pasar bukan hanya berapa banyak Treasury dimiliki investor asing, melainkan pada tingkat yield berapa investor tersebut bersedia menyerap penerbitan baru. Di sinilah data lelang menjadi penting.

Lelang 30 tahun pada 13 Agustus memang menunjukkan bid-to-cover lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya, tetapi permintaan tidak bisa disebut buruk.

Rasio 2,39 kali masih menunjukkan penawaran pembelian jauh lebih besar daripada jumlah surat utang yang ditawarkan.

Bahkan sehari setelah pengumuman buyback, Treasury menjual USD16 miliar atau sekitar Rp286,4 triliun obligasi tenor 20 tahun. Lelang tersebut mencatat bid-to-cover 2,53 kali, di atas rata-rata 2,46 kali.

Investor asing mengambil sekitar 62,9 persen, sedikit di atas rata-rata 62,5 persen. Namun yield yang diminta investor mencapai 5,204 persen, lebih tinggi daripada rata-rata lelang sebelumnya.

Data tersebut memberikan gambaran yang lebih berimbang. Investor masih membeli Treasury, termasuk investor asing.

Tetapi mereka tidak serta-merta bersedia membeli utang jangka panjang dengan harga berapa pun.

Jadi, apa yang sebenarnya sedang dipertaruhkan?

Bagi investor, persoalan Treasury saat ini tak berhenti pada apakah pemerintah AS masih mampu menjual obligasinya. Sejauh data lelang dan TIC yang tersedia, jawabannya masih iya.

Persoalannya adalah berapa mahal biaya yang harus dibayar pemerintah AS untuk mendapatkan pembiayaan tersebut.

Jika investor meminta yield semakin tinggi, biaya penerbitan utang baru akan meningkat. Pada akhirnya, hal tersebut dapat memperbesar beban pembayaran bunga pemerintah dan membuat kebutuhan pembiayaan semakin berat.

Dalam situasi seperti ini, buyback dapat membantu memperbaiki likuiditas dan mengurangi tekanan pada surat utang tertentu, tetapi tidak dengan sendirinya mengurangi defisit anggaran atau kebutuhan penerbitan utang baru.

Reuters juga mencatat bahwa total utang AS telah melewati USD40 triliun atau sekitar Rp716 triliun, sementara tekanan pasar obligasi berkaitan dengan kekhawatiran mengenai defisit fiskal dan ekspektasi inflasi yang meningkat.

Itulah sebabnya pasar belum sepenuhnya puas dengan intervensi Treasury. Jika masalahnya hanya likuiditas, buyback seharusnya menjadi obat yang cukup efektif.

Tetapi jika sebagian tekanan berasal dari kekhawatiran terhadap pasokan utang, inflasi dan kompensasi risiko jangka panjang, maka obat tersebut memiliki batas.

Bahkan, sejumlah analis mulai memperingatkan bahwa pembelian kembali obligasi dalam skala lebih besar tidak otomatis menjamin yield turun secara berkelanjutan.

JPMorgan, misalnya, menilai defisit fiskal AS yang masih mendekati 6 persen PDB menjadi persoalan yang lebih fundamental bagi yield jangka panjang.

Pandangan tersebut perlu dibaca sebagai analisis pasar, bukan kepastian arah yield. Namun, ia membantu menjelaskan mengapa reaksi pasar pada 19 Agustus tidak bertahan lama.

Dengan kata lain, Treasury mungkin dapat membantu mengendalikan gejolak di pasar obligasi. Tetapi mengendalikan gejolak berbeda dengan menghilangkan penyebab gejolak.

Lalu Apa Artinya bagi Investor Indonesia?

Pergerakan pasar pada 19–20 Agustus menunjukkan bagaimana persoalan Treasury dapat merambat ke berbagai kelas aset global.

Setelah pengumuman buyback, Stockbit Sekuritas mencatat indeks dolar AS atau DXY turun sekitar 0,9 persen ke level 98,8, terendah dalam tiga bulan. Harga emas naik sekitar 4 persen menjadi USD4.520 per troy ounce atau sekitar Rp80,91 juta.

Pada saat yang sama, rupiah menguat sekitar 0,5 persen ke Rp17.746 per dolar AS.

IHSG kemudian ditutup menguat sekitar 1,7 persen pada Kamis, 20 Agustus. Saham-saham yang terkait dengan emas menjadi salah satu penerima sentimen paling kuat.

BRMS naik 9,6 persen, AMMN 7,97 persen, HRTA 7,83 persen dan ARCI 5,38 persen.

Namun, kenaikan tersebut sebaiknya tidak langsung dibaca sebagai perubahan fundamental jangka panjang. Jika yield Treasury kembali naik, sebagian mekanisme tersebut dapat bergerak ke arah sebaliknya.

Dolar dapat kembali mendapatkan dukungan, tekanan terhadap aset negara berkembang meningkat, dan ruang penguatan rupiah bisa menyempit.

Stockbit melihat rupiah masih memiliki sejumlah katalis domestik.

Dalam risetnya, Stockbit menyebut penguatan rupiah sebesar 2,4 persen dari level terlemahnya sekitar Rp18.190 pada 6 Agustus juga didukung oleh RAPBN 2027 yang lebih konservatif serta kepastian kebijakan Bank Indonesia.

“Selain pelemahan DXY, sentimen positif bagi rupiah juga datang dari 1) RAPBN 2027 yang lebih konservatif, dengan target defisit turun ke 2,4 persen PDB; dan 2) kelanjutan dan kepastian kebijakan Bank Indonesia,” tulis Stockbit.

Artinya, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada apa yang dilakukan Treasury AS. Ada faktor domestik yang ikut menentukan.

Begitu pula dengan IHSG. Kondisi likuiditas global memang penting, tetapi fundamental emiten dan kebijakan ekonomi Indonesia tetap menjadi faktor penentu.

Bagi saham emas, transmisi kebijakannya bahkan lebih menarik.

Pelemahan dolar dan kenaikan harga emas dapat memperbaiki sentimen terhadap perusahaan produsen emas, tetapi investor tetap perlu membedakan antara kenaikan harga komoditas dengan kemampuan perusahaan mengubah kenaikan tersebut menjadi laba.

Karena itu, reli BRMS, AMMN, HRTA dan ARCI setelah pengumuman Treasury lebih tepat dibaca sebagai reaksi pasar terhadap perubahan harga emas dan sentimen global, bukan bukti bahwa prospek keempat emiten tersebut otomatis berubah secara permanen.

Yang Harus Dipantau Investor Setelah ini

Bagi investor, perkembangan Treasury AS ke depan akan lebih mudah dibaca dengan memperhatikan beberapa indikator sekaligus. Yield 10 tahun dan 30 tahun menjadi indikator pertama.

Jika yield kembali naik meski operasi buyback diperbesar, pasar sedang memberi sinyal bahwa persoalan yang dihadapi lebih besar daripada sekadar likuiditas.

Indikator berikutnya adalah term premium. Jika kompensasi risiko tenor panjang terus meningkat, tekanan terhadap yield kemungkinan tidak cukup dijelaskan oleh ekspektasi kebijakan The Fed saja.

Lalu ada data lelang Treasury. Bid-to-cover, yield yang diberikan investor, serta komposisi pembeli akan menunjukkan seberapa kuat permintaan terhadap utang AS pada tingkat harga tertentu.

Lelang 20 tahun pada 19 Agustus memberikan sinyal yang relatif konstruktif dari sisi bid-to-cover dan partisipasi investor asing, tetapi yield 5,204 persen menunjukkan bahwa investor tetap meminta imbal hasil yang tinggi.

Data kepemilikan asing juga perlu dilihat bersama data transaksi. Penurunan kepemilikan China, Jepang atau Inggris tidak otomatis berarti investor global meninggalkan Treasury.

Sebaliknya, pembelian besar dalam satu bulan juga tidak otomatis menghilangkan risiko struktural.

Yang paling menentukan adalah apakah permintaan tersebut tetap kuat ketika pemerintah AS harus menawarkan yield tinggi untuk membiayai kebutuhan fiskalnya.

Bagi investor Indonesia, implikasinya kemudian merambat melalui DXY, rupiah, yield SUN, aliran modal asing dan IHSG.

Emas menjadi salah satu aset yang perlu diperhatikan karena karakter defensifnya, sementara saham produsen emas dapat memperoleh tambahan sentimen ketika harga emas dan dolar bergerak mendukung.

Namun, semua mata rantai tersebut tetap bermuara pada satu pertanyaan yang lebih besar, apakah Treasury AS berhasil mengubah tren yield atau hanya berhasil membeli waktu?

Sampai perkembangan pasar 20 Agustus, jawabannya belum jelas. Buyback terbukti mampu memberikan respons positif secara cepat.

Tetapi kembalinya yield jangka panjang ke level tinggi menunjukkan bahwa pasar masih memperhitungkan persoalan yang lebih mendasar, mulai dari kebutuhan pembiayaan pemerintah, defisit fiskal, inflasi hingga kompensasi risiko untuk memegang utang jangka panjang.

Dengan demikian, bagi investor, angka USD4 miliar atau sekitar Rp71,6 triliun bukanlah angka yang paling penting untuk dipantau.

Yang lebih penting adalah bagaimana pasar merespons setiap penerbitan Treasury setelah kebijakan tersebut berjalan.

Sebab pada akhirnya, pemerintah AS boleh membeli kembali sebagian obligasinya.

Tetapi keberlanjutan pasar utang tetap bergantung pada satu hal yang tidak bisa dibeli hanya dengan operasi buyback, yaitu kesediaan investor untuk terus membiayai Amerika Serikat pada tingkat yield yang masih dapat ditanggung pemerintahnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.