El Nino Menguat, Seberapa Tangguh Ekonomi RI Menghadapinya?

Di tengah ancaman tersebut, masyarakat dinilai masih minim pengetahuan mengenai langkah mitigasi yang dapat dilakukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Akademika – Centre for Public Policy Analysis menyebut kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah karena sebagian besar wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan hingga Sulawesi, mulai merasakan dampak musim kemarau yang lebih kering dan panjang.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikayang dikutip Akademika, El Nino sejak awal Agustus 2026 berada dalam kategori kuat hingga sangat kuat.

Kondisi itu berpotensi memperbesar risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, dampak lanjutan yang perlu diantisipasi adalah gangguan terhadap produksi pangan, terutama padi dan beras, mengingat sejumlah wilayah yang terdampak merupakan sentra produksi pangan nasional.

Direktur Akademika Center, Edy Priyono, mengatakan persoalan tidak hanya terletak pada munculnya fenomena cuaca ekstrem, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam merespons dampaknya.

Hasil survei Akademika Center pada Maret 2026 menunjukkan mayoritas masyarakat telah memiliki kekhawatiran terhadap perubahan iklim. Namun, kekhawatiran tersebut belum diikuti dengan tindakan mitigasi yang memadai.

Survei yang dilakukan secara daring terhadap 271 responden itu menemukan 93 persen responden mengaku khawatir terhadap dampak perubahan iklim.

Dari berbagai dampak perubahan iklim, cuaca atau panas ekstrem menjadi fenomena yang paling banyak diketahui responden. Sebanyak 73 persen responden menyatakan mengetahui dampak tersebut.

Kelompok usia muda berusia 17-24 tahun tercatat menjadi kelompok yang paling merasa khawatir terhadap perubahan iklim, khususnya terkait cuaca ekstrem, dibandingkan kelompok usia lainnya.

Namun, tingkat kekhawatiran tersebut belum berbanding lurus dengan tindakan mitigasi.

Sebanyak 65 persen responden menyatakan tidak melakukan apa pun untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Akademika menduga minimnya tindakan tersebut berkaitan dengan keterbatasan pengetahuan masyarakat.

Sekitar 73 persen responden mengaku belum pernah mendapatkan penjelasan atau edukasi mengenai cara menghadapi perubahan iklim, termasuk menghadapi cuaca ekstrem.

Pemerintah Harus Edukasi Masyarakat

Dengan kondisi tersebut, Akademika menilai pemerintah perlu mempercepat edukasi kepada masyarakat mengenai dampak El Nino sekaligus langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya.

Edukasi perlu dilakukan ke masyarakat, menurut Akademika, perlu dilakukan secara masif dan tidak hanya menyampaikan informasi mengenai fenomena El Nino, tetapi juga memberikan panduan tindakan yang dapat dilakukan masyarakat.

Salah satu langkah yang dapat didorong adalah penghematan penggunaan air serta pembangunan sumur resapan untuk membantu menjaga ketersediaan air dan meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan.

Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu mengoptimalkan infrastruktur penyimpanan air yang sudah tersedia, seperti bendungan, embung, dan waduk.

Optimalisasi tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang. Selain kapasitas penyimpanan, jaringan irigasi yang mengalami kerusakan juga dinilai perlu segera diperbaiki.

Perbaikan irigasi diperlukan agar air dapat disalurkan secara lebih efisien ke wilayah pertanian dan mengurangi potensi kehilangan air selama proses distribusi.

Akademika juga mendorong pemerintah melanjutkan operasi modifikasi cuacasebagai salah satu upaya menghadapi risiko kekeringan.

Di sektor pangan, pemerintah diminta mempercepat penanaman di sentra produksi yang masih memiliki curah hujan cukup tinggi.

Sementara itu, untuk wilayah yang mengalami penurunan curah hujan secara signifikan, petani perlu didorong untuk mengalihkan sebagian pola tanam ke komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Beberapa komoditas yang disebut antara lain palawija, jagung, dan sorgum.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi potensi penurunan produksi pangan akibat keterbatasan air selama periode El Nino.

Selain ancaman terhadap sektor pertanian, kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, Akademika meminta upaya penanganan karhutla tetap dilanjutkan dengan menggunakan metode yang telah teruji secara ilmiah.

Tekanan Ekonomi

Di tengah berbagai risiko tersebut, ketahanan ekonomi nasional juga menghadapi tekanan dari sisi eksternal.

Laporan pemantauan indikator ekonomi makro Indonesia terbaru menetapkan status agregat risiko nasional berada pada level WATCH atau waspada per 24 Agustus 2026.

Meski belum menunjukkan sinyal eskalasi menuju kondisi krisis atau STRESS, sektor eksternal menjadi perhatian karena berada pada kategori WATCH-HIGH seiring melebarnya defisit transaksi berjalan.

Dalam laporan tersebut, indikator peredam gejolak ekonomidomestik masih dinilai bekerja cukup baik.

Pasokan modal asing dan pemulihan nilai tukar rupiah menjadi penyangga utama daya tahan ekonomi nasional sehingga risiko sistemik antar-pasar masih terkendali.

Pada sektor nilai tukar dan stabilitas sovereign, pergerakan rupiah berada pada kategori WATCH-LOW dengan tren membaik. Stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia dinilai berjalan efektif.

Sementara itu, risiko gagal bayar utang negara yang tercermin dari indikator Credit Default Swap5 tahun bertahan stabil dan membaik di kisaran 83,81 basis poin berdasarkan pembaruan data 20 Agustus 2026.

Pasar Surat Berharga Negarajuga berada dalam kategori WATCH atau stabil. Kendati demikian, imbal hasilSBN masih sensitif terhadap pergerakan suku bunga obligasi pemerintah Amerika Serikatserta perubahan preferensi risiko investor global.

Arus modal asingyang berada pada kategori WATCH-LOW menjadi salah satu penyangga bagi stabilitas rupiah dan pasar obligasi domestik.

Namun, tekanan terbesar masih berasal dari sektor eksternal. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) pada kuartal II 2026 tercatat mencapai 12,5 miliar dolar AS atau setara 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto

Kondisi tersebut membuat ketahanan eksternal Indonesia semakin bergantung pada keberlanjutan arus modal asing.

Risiko tersebut juga diperberat oleh harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas 90 dolar AS per barel dan berada dalam kategori WATCH-HIGH.

Harga energi yang tinggi berpotensi menekan neraca perdagangan migas sekaligus meningkatkan risiko inflasi yang diimpor

Meski inflasi domestik masih terkendali, kenaikan harga energi global dapat diteruskan ke harga barang dan jasa di dalam negeri.

Kondisi itu berpotensi mempersempit ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate dalam waktu dekat.

Dari sisi fiskal, kenaikan imbal hasil obligasi juga perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan biaya pembiayaan utang dan beban bunga dalam anggaran pemerintah.

Dengan demikian, ancaman El Nino dan tekanan eksternal ekonomi perlu diantisipasi secara bersamaan.

Di tingkat masyarakat, peningkatan literasi dan edukasi mengenai perubahan iklim menjadi penting agar kekhawatiran terhadap cuaca ekstrem dapat diterjemahkan menjadi tindakan mitigasi.

Sementara di tingkat pemerintah, penguatan ketahanan air, pangan, dan energi menjadi bagian penting untuk menjaga daya tahan ekonomi ketika risiko domestik dan eksternal muncul secara bersamaan.

Akademika menilai langkah mitigasi perlu dilakukan segera meskipun sebagian dampak El Nino telah mulai dirasakan.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” tulis Akademika dalam rekomendasinya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.