Di Balik Emisi ANTAM yang Turun, Intensitas Emisi Tambang Emas Justru Naik 86,7 PersenEmas Ditambang Butuh Energi Besar, tapi Jejak Karbon Portofolio Investasinya Lebih Rendah, Kok Bisa?
Produksi bijih nikel mencapai 7,78 juta wet metric ton, sedangkan penjualannya mencapai 6,77 juta wet metric ton.
Untuk feronikel, Antam memproduksi 7.788 ton nikel dalam feronikel dan menjual 7.605 ton, naik 32 persen dibandingkan penjualan 5.763 ton pada semester I 2025.
Kenaikan penjualan nikel tersebut menjadi salah satu penopang pertumbuhan Antam ketika harga dan permintaan komoditas pertambangan bergerak dinamis.
Perusahaan menyebut peningkatan penjualan feronikel mencerminkan efektivitas pemasaran sekaligus kemampuan memenuhi permintaan pelanggan.
Sementara itu, bisnis bauksit dan alumina memang belum sebesar emas dan nikel, tetapi tetap mencatat pertumbuhan. Segmen tersebut menyumbang 3 persen penjualan dengan nilai Rp1,88 triliun, naik 28 persen dari Rp1,46 triliun.
Produksi bauksit mencapai 1,28 juta wet metric ton dengan penjualan 1,26 juta wet metric ton. Penjualan tersebut meningkat 24 persen dibandingkan 1,01 juta wet metric ton pada semester I 2025.
Pada sisi pengolahan, produksi chemical grade alumina mencapai 100.257 ton, naik 12 persen dari 89.385 ton. Penjualan alumina juga meningkat 10 persen menjadi 100.437 ton dari 91.109 ton.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira mengatakan perusahaan kini berfokus memastikan pertumbuhan laba tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan, tetapi benar-benar berubah menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.
“Dengan kinerja profitabilitas yang tetap solid secara tahunan, fokus kami adalah memastikan kinerja tersebut dapat dikonversikan menjadi arus kas yang sehat dan berkelanjutan.
Untuk itu, Antam terus memperkuat disiplin pengelolaan modal kerja dan persediaan, konversi kas, serta alokasi modal secara prudent,” kata Arini.
Menurut dia, posisi likuiditas dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi membuat Antam memasuki semester II 2026 dengan fleksibilitas keuangan yang cukup untuk menopang kebutuhan operasional dan agenda pertumbuhan.
Dengan laba Rp6,91 triliun, EBITDA Rp9,62 triliun, dan kas Rp9,23 triliun, Antam memang punya cukup banyak alasan untuk tersenyum. Tetapi ketika perusahaan sendiri mulai menekankan pentingnya cash generation, pesannya cukup jelas.
Laba besar baru separuh cerita. Separuh lainnya adalah memastikan keuntungan tersebut benar-benar berubah menjadi uang tunai yang bisa dipakai untuk membiayai operasi, proyek, dan pertumbuhan berikutnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.