Sentimen pasar memburuk setelah eskalasi konflik Amerika Serikatdan Iran kembali mendorong harga minyak serta meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah.
Berdasarkan data perdagangan awal, Nikkei dibuka pada level 65.195,43, turun 1.019,91 poin atau 1,54 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 66.215,34.
Indeks acuan saham Jepang tersebut kemudian bergerak dalam rentang 64.234,31 hingga 65.195,43.
Tekanan lebih besar terlihat pada Kospi. Indeks saham Korea Selatan itu dibuka di level 6.625,47, anjlok 210,33 poin atau 3,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada 6.835,80.
Meski sempat naik ke level tertinggi 6.694,57, Kospi masih berada di bawah tekanan pada awal perdagangan.
Sementara itu, Shanghai Composite China dibuka pada 3.963,07, turun 16,82 poin atau 0,42 persen dari penutupan sebelumnya di 3.979,89. Indeks tersebut sempat bergerak antara 3.932,25 dan 3.965,81.
Tekanan paling ringan dalam data pembukaan terlihat pada Hang Seng Index Hong Kong. Indeks tersebut dibuka pada 25.280,82, turun 48,91 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya 25.329,73.
Hang Seng kemudian bergerak dalam rentang 25.008,87 hingga 25.305,13.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan pasar tidak merata di kawasan Asia. Jepang dan Korea Selatan menghadapi koreksi lebih dalam, sementara China dan Hong Kong relatif mampu menahan tekanan pada awal perdagangan.
Tekanan terhadap pasar saham Asia datang ketika harga minyak kembali menguat setelah AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran pada Selasa.
Harga minyak Brent naik 1,3 persen menjadi USD95,91 per barel pada perdagangan Asia, melanjutkan penguatan untuk hari kedua.
Harga minyak sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam lima pekan setelah serangan AS terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.
Perhatian investor terutama tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman energi dunia.
Ancaman terhadap kelancaran lalu lintas kapal di kawasan tersebut meningkatkan premi risiko dalam harga minyak.
Kenaikan harga minyak menjadi persoalan bagi pasar saham karena dapat kembali mendorong tekanan inflasi.
Jika harga energi bertahan tinggi, biaya transportasi dan produksi berpotensi meningkat dan pada akhirnya memperbesar tekanan terhadap harga barang dan jasa.
Westpac menilai ancaman gangguan lebih lanjut terhadap Selat Hormuz telah meningkatkan kecemasan mengenai inflasi dan mendorong aksi jual saham di berbagai pasar utama.
Kondisi tersebut menjadi semakin sensitif karena investor global juga menghadapi kenaikan biaya pembiayaan.
Yield Obligasi Naik, Ekspektasi Suku Bunga Berubah
Kenaikan harga minyak berlangsung bersamaan dengan tekanan pada pasar obligasi global. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun mencapai 4,8122 persen, level tertinggi sejak November 2023.
Kenaikan yield menunjukkan investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah AS di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan arah kebijakan suku bunga.
Tekanan serupa terlihat di Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor lima tahun naik hingga 2,295 persen, level tertinggi yang pernah tercatat.
Kombinasi kenaikan harga minyak dan yield obligasi menciptakan tekanan ganda bagi saham. Di satu sisi, minyak yang mahal meningkatkan risiko inflasi.
Di sisi lain, yield yang lebih tinggi membuat aset pendapatan tetap menjadi lebih menarik dibandingkan saham dan meningkatkan biaya modal bagi perusahaan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi perusahaan teknologi dan saham dengan valuasi tinggi karena nilai perusahaan sangat sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga.
Tekanan pada saham Korea Selatan juga tidak terlepas dari karakteristik bursa tersebut yang memiliki bobot besar pada perusahaan teknologi dan semikonduktor.
Ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, saham-saham berkapitalisasi besar dapat ikut menjadi sasaran aksi jual.
Reuters mencatat pada perdagangan Asia Rabu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 1,5 persen, sementara Kospi jatuh lebih dari 3 persen dan Nikkei 225 turun sekitar 2,6 persen dalam perkembangan perdagangan selanjutnya.
Artinya, tekanan yang terlihat pada data pembukaan berlanjut ketika perdagangan memasuki sesi berikutnya.
Bursa China dan Hong Kong Relatif Lebih Tahan
Berbeda dengan Jepang dan Korea Selatan, tekanan pada Shanghai Composite dan Hang Seng dalam data awal relatif terbatas.
Shanghai Composite hanya turun sekitar 0,42 persen dari posisi penutupan sebelumnya, sedangkan Hang Seng melemah sekitar 0,19 persen. Kedua indeks tersebut juga sempat bergerak lebih tinggi dari level pembukaannya.
Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pasar China dan Hong Kong sepenuhnya terbebas dari tekanan global.
Pergerakan kedua indeks tetap dipengaruhi oleh arah harga minyak, yield obligasi global, serta perubahan sentimen investor terhadap aset berisiko.
Pasar juga akan mencermati perkembangan ekonomi domestik masing-masing negara. Korea Selatan, misalnya, melaporkan inflasi konsumen Agustus yang meningkat karena efek basis rendah, meskipun angkanya masih berada di bawah ekspektasi pasar.
Bagi investor Asia, perkembangan inflasi menjadi semakin penting karena kenaikan harga energi berpotensi memperumit kebijakan bank sentral.
Jika minyak terus bertahan di atas USD90 per barel, bank sentral akan menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Pergerakan bursa Asia juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperkuat tekanan inflasi di Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat mengurangi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter apabila tekanan harga kembali meningkat.
Pasar saat ini juga mencermati perkembangan yield Treasury karena perubahan imbal hasil surat utang AS memiliki dampak luas terhadap valuasi aset global.
Dengan demikian, investor Asia menghadapi kombinasi sentimen yang cukup berat pada awal September. Konflik AS-Iran meningkatkan risiko pasokan energi, harga minyak bergerak naik, sementara yield obligasi pemerintah meningkat.
Bagi Nikkei dan Kospi, kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan setelah kedua indeks mencatat penurunan paling dalam dalam data pembukaan kawasan Asia.
Nikkei bahkan sempat bergerak hampir 2.000 poin di bawah level penutupan sebelumnya ketika menyentuh posisi terendah 64.234,31.
Sementara itu, Shanghai Composite dan Hang Seng menunjukkan penurunan yang lebih terbatas. Namun, arah perdagangan selanjutnya tetap akan bergantung pada perkembangan geopolitik dan pergerakan harga komoditas.
Investor kini akan mencermati apakah konflik AS-Iran kembali mengganggu jalur pelayaran dan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Jika risiko tersebut meningkat, harga minyak berpotensi kembali naik dan memperpanjang tekanan terhadap pasar saham serta obligasi.
Sebaliknya, meredanya ketegangan dan normalisasi arus energi dapat mengurangi premi risiko dan memberikan ruang bagi pasar saham Asia untuk kembali stabil.
Untuk sementara, lonjakan minyak dan kenaikan yield menjadi kombinasi utama yang membebani bursa Asia pada awal September, dengan Nikkei dan Kospi berada di garis depan tekanan pasar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.