Kondisi ini terjadi setelah Iran menyatakan akan menyerang infrastruktur energi di seluruh Timur Tengah sebagai tanggapan atas serangan Amerika Serikatterhadap aset-asetnya.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik USD1,03 atau 1,1 persen menjadi USD97,31 per barel. Sedangkan Minyak mentah West Texas IntermediateAS ditutup di level USD92,65 atau naik 1,3 persen.
Perusahaan intelijen maritim Marisks menyebut, AS dan Iran saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak dan kapal perang selama akhir pekan, menandai peningkatan besar dalam perang antara kedua negara yang dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
“Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, yang secara substansial melemahkan perbedaan sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial,” kata Marisks.
Pada pekan lalu, harga minyak Brent naik sekitar 8 persen dan WTI meningkat hampir 10 persen setelah AS dan Iran kembali melancarkan serangan.
Perang tersebut memberikan dampak buruk pada pasokan minyak global, memaksa negara-negara untuk menghabiskan cadangan mereka guna menghindari defisit.
Dalam catatan analis PVM Energy, di AS, persediaan bensin dan bahan bakar jauh di bawah rata-rata musiman tahun lalu dan lima tahun terakhir.
“Ringkasan data terbaru menunjukkan gambaran yang sedikit lebih suram dibandingkan saat terakhir kali kami melakukan evaluasi beberapa minggu lalu,” kata mereka.
Ketegangan yang Memburuk
Ketegangan regional juga meningkat akibat serangan Israel di sebuah kota di Lebanon selatan pada hari Senin, menurut kementerian kesehatan Lebanon.
Hal ini pun menandai salah satu hari pemboman paling mematikan dalam beberapa pekan terakhir.
Kilang minyak Jazan diserang pada hari Senin dan kerusakan sedang dipastikan, lapor Financial Times, mengutip dua orang yang mengetahui masalah tersebut.
Selain itu seminggu yang lalu, sebuah kapal tanker milik Arab Saudi diserang oleh Iran. Oman mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah mengevakuasi 16 anggota kru dari kapal tanker tersebut.
Data dari perusahaan analitik Kpler pada hari Senin, 7 September 2026 mencatat, rata-rata 10 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz per hari selama 10 hari terakhir, angka terendah sejak Mei.
“Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara signifikan, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar.
Dan sudah ada tanda-tanda bahwa hal ini sedang terjadi,” kata Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova.
Goldman Sachs mengatakan harga minyak mungkin akan melonjak hingga USD120 per barel jika serangan terhadap pelayaran meningkat.
Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran membeberkan bahwa Iran akan mengumumkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.
Sementara itu, Uni Emirat Arab sedang membangun jalur alternatif untuk ekspor dan perdagangan energinya guna memastikan bahwa hal tersebut tidak “disandera” oleh perang antara AS dan Iran, kata penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, pada hari Senin.
OPEC+ mempertahankan kebijakan produksi minyaknya tidak berubah untuk bulan Oktober dalam pertemuan hari Minggu, kata kelompok produsen itu dalam sebuah pernyataan, karena mereka perlu menyepakati kuota baru sebelum memutuskan langkah produksi selanjutnya.
AS Hantam Tiga Tanker Minyak Iran, Pulau Kharg Jadi Sasaran Perang
Sebelumnya diberitakan, perang AS dan Iran kembali menunjukkan wajah lamanya. Ketika rudal berbalas dengan rudal, urusan minyak ikut diseret ke tengah arena.
Kali ini, tiga kapal tanker minyak Iran menjadi sasaran serangan militer AS.
Komando Pusat AS atau U.S. Central Command mengatakan pasukannya menyerang tiga tanker minyak Iran pada Minggu, 6 September 2026 WIB.
Salah satu kapal yang dihantam berada di lepas pantai Pulau Kharg, kawasan yang boleh dibilang merupakan salah satu urat nadi ekspor minyak Iran.
Serangan tersebut disebut terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal Angkatan Laut AS.
Washington pun membalas dengan logika sederhana yang sering dipakai dalam perang, kalau dua kapal ditembak, tiga kapal dibalas.
“Pesan kepada IRGC harus jelas. Jika kalian menembaki dua kapal kami, kami akan memberikan biaya ekonomi yang lebih tinggi, dengan menghancurkan tiga kapal milik kalian,” kata Kepala U.S.
Central Command Admiral Brad Cooper, dikutip dari Reuters, Minggu, 6 September 2026.
Iran tentu tidak tinggal diam. Pemerintah Iran mengancam serangan terhadap kapal-kapal militer AS di kawasan bakal dibuat lebih keras apabila tekanan terhadap kapal Iran dan blokade laut terus berlanjut.
“Jika kejahatan, ketidakamanan, dan gangguan terhadap kapal-kapal Iran serta blokade laut terhadap Iran terus berlanjut, serangan angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap kapal-kapal militer AS di kawasan akan lebih dahsyat daripada sebelumnya dan ada kemungkinan serangan tersebut meluas,” kata komando militer Iran dalam pernyataan yang dimuat media pemerintah.
Media semi-resmi Iran, Tasnim, sebelumnya melaporkan empat rudal AS menghantam sebuah kapal tanker di kawasan labuh Pulau Kharg.
Mengutip sumber lokal, Tasnim menyebut tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut dan awak kapal sedang dievakuasi.
U.S. Central Command juga memastikan tidak ada personel Amerika yang terluka dalam rangkaian serangan tersebut.
Namun, persoalannya jelas bukan sekadar tiga kapal tanker yang terbakar atau empat rudal yang menghantam kapal. Pulau Kharg adalah bagian penting dari cerita minyak Iran.
Sebelum perang, sekitar 90 persen minyak mentah Iran diekspor melalui pulau tersebut.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.