IHSG terkoreksi 38,95 poin atau melemah 0,58 persen ke level 6.647,50 di pertengahan hari.
Sejak pembukaan perdagangan di posisi 6.700,84, indeks sempat bergerak menguat dan menyentuh level tertinggi harian di 6.707,31.
Namun, tekanan jual yang secara bertahap membanjiri pasar keuangan domestik menyeret pergerakan indeks hingga merosot ke level terendah harian di 6.642,15.
Total volume transaksi yang berhasil dibukukan hingga jeda makan siang mencapai 18,99 miliar saham atau setara dengan 189,92 juta lot, dengan akumulasi nilai transaksi keseluruhan menembus angka Rp7,99 triliun.
Pelemahan IHSG di paruh pertama perdagangan ini berjalan seiring dengan maraknya aksi lepas portofolio oleh investor internasional.
Nilai jual bersihinvestor asing secara agregat membengkak hingga mencapai Rp577,21 miliar di seluruh pasar.
Total transaksi investor asing hingga pertengahan hari mencatatkan nilai belisebesar Rp2,21 triliun, yang sayangnya tidak mampu menandingi tingginya volume jualyang menembus angka Rp2,79 triliun.
Saham BBCA Pimpin Obral Asing di Sektor Keuangan
Tekanan jual investor asing terfokus pada saham PT Bank Central Asia Tbkyang menduduki posisi puncak top net foreign sell dengan nilai pelepasan sebesar Rp419,03 miliar
Dominasi gelombang pelepasan pada saham bank swasta terbesar ini menjadi penyebab utama tertahannya laju sektor keuangan di papan perdagangan bursa.
Selain BBCA, aksi lego asing menyasar saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbksenilai Rp82,92 miliar dengan volume 25,48 juta saham, serta PT Bank MandiriTbksebesar Rp69,64 miliar dengan volume 15,83 juta saham.
Jajaran emiten lain yang turut dibuang asing mencakup PT Amman Mineral Internasional Tbksenilai Rp53,38 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbksebesar Rp47,85 miliar, dan PT Astra International Tbkdengan nilai pelepasan sebesar Rp44,84 miliar
Aksi jual asing juga membayangi saham konsumer dan komoditas pendukung lainnya.
Saham PT Kalbe Farma Tbktertekan dengan net sell Rp33,10 miliar, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbkdilepas Rp29,92 miliar, serta IATA sebesar Rp29,90 miliar.
Saham perbankan BUMN seperti PT Bank Negara IndonesiaTbkdan emiten tambang ADRO tidak luput dari aksi obral asing dengan net sell masing-masing sebesar Rp28,25 miliar dan Rp27,06 miliar.
Tekanan jual asing berlanjut pada daftar emiten berkapitalisasi besar dan menengah lainnya.
Saham PT PT Dian Swastatika Sentosa Tbkmencatatkan net sell Rp21,99 miliar, PT Merdeka Battery Materials Tbksebesar Rp21,01 miliar, PT Wahana Interfood Nusantara Tbksenilai Rp20,26 miliar, dan PT Energi Mega Persada Tbksebesar Rp19,70 miliar.
Melengkapi deretan 20 besar saham yang dilepas asing, terdapat PT Sinergi Inti Plastindo Tbksebesar Rp16,94 miliar, PT Medco Energi Internasional TbkRp15,38 miliar, PT Barito Renovables Energy TbkRp13,73 miliar, PT Indosat TbkRp12,81 miliar, serta PT Barito Pacific Tbksebesar Rp11,39 miliar.
Rotasi Modal Asing Masuk ke Sektor Tambang dan Komoditas
Di tengah derasnya aksi jual di saham perbankan besar dan emiten energi, investor asing tercatat tetap memanfaatkan momentum penurunan harga untuk memborong saham pertambangan dan komoditas strategis.
Saham PT Aneka Tambang Tbkmemimpin jajaran top net foreign buy dengan akumulasi beli bersih mencapai Rp158,06 miliar seiring ditransaksikannya 50,49 juta saham oleh pemodal luar negeri.
Posisi berikutnya diisi oleh emiten tambang AADI dengan akumulasi net buy asing mencapai Rp74,25 miliar, diikuti saham perbankan BUMN PT Bank Rakyat IndonesiaTbkyang masih diminati asing dengan nilai beli bersih Rp62,73 miliar
Selain itu, saham emiten tambang batu bara dan timah juga diserbu asing, di mana PT Bukit Asam Tbkmencatatkan net buy sebesar Rp42,43 miliar dan PT Timah Tbksebesar Rp33,63 miliar.
Minat akumulasi asing juga terlihat pada sektor telekomunikasi dan ritel. Saham PT Telkom IndonesiaTbkmendulang net buy sebesar Rp32,62 miliar, disusul emiten ritel PT Erajaya Swasembada Tbkdengan nilai beli bersih Rp23,59 miliar
Saham pengolahan nikel PT Merdeka Battery Materials Tbkdan emiten energi PT Indika Energy Tbkturut dikoleksi asing dengan nilai masing-masing Rp21,04 miliar dan Rp15,42 miliar.
Daftar portofolio belanja asing di sesi I ini makin lengkap dengan masuknya modal pada saham PT Eka Sari Lorena Transport Tbksenilai Rp11,18 miliar, PT Impack Pratama Industri Tbksebesar Rp8,16 miliar, PT Buana Lintas Lautan TbkRp8,03 miliar, dan PT Archi Indonesia Tbksebesar Rp7,27 miliar.
Selanjutnya, saham PT Puradelta Lestari Tbkmengantongi net buy Rp6,65 miliar, PT Perusahaan Gas Negara TbkRp6,43 miliar, PT United Tractors TbkRp6,38 miliar, PT Bank Danamon Indonesia TbkRp6,09 miliar, PT PSSI TbkRp6,02 miliar, PT Samudera Indonesia TbkRp5,60 miliar, hingga PT Triputra Agro Persada Tbksebesar Rp4,99 miliar.
Aktivitas Transaksi Sesi I Ditopang Deretan Broker Utama
Aktivitas transaksi perdagangan bursa yang dinamis pada pertengahan hari ini ditopang oleh keaktifan sejumlah top broker utama.
Stockbit Sekuritas Digitalmengukuhkan dominasinya di posisi teratas dengan mencatatkan total nilai transaksi tertinggi mencapai Rp2,59 triliun.
Mandiri Sekuritasmengekor di posisi kedua dengan akumulasi nilai transaksi Rp1,83 triliun, disusul oleh broker papan atas UBS Sekuritas Indonesiayang membukukan nilai transaksi sebesar Rp1,63 triliun.
Aktivitas perdagangan di papan bursa juga disokong oleh broker utama lainnya, yakni CGS International Sekuritas Indonesiadengan nilai transaksi Rp877,4 miliar, Indo Premier Sekuritassebesar Rp604,4 miliar, KB Valbury SekuritasRp596,1 miliar, Ajaib Sekuritas AsiaRp592,9 miliar, serta J.P.
Morgan Sekuritas Indonesiadan BCA Sekuritasyang sama-sama membukukan nilai transaksi Rp446,0 miliar.
Pergerakan transaksi perdagangan sesi I melengkapi daftar broker aktif lainnya mencakup Semesta Indovest Sekuritassebesar Rp358,5 miliar, Sinarmas SekuritasRp324,8 miliar, BNI SekuritasRp291,4 miliar, BRI Danareksa SekuritasRp262,0 miliar, serta Phillip Sekuritas Indonesiadengan nilai transaksi sebesar Rp244,3 miliar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.