Meski begitu, emiten penyedia infrastruktur energi tersebut menjamin komitmennya untuk tetap memberikan imbal hasildividen tahunan yang nilainya minimal sama dengan realisasi tahun-tahun sebelumnya.
Direktur Utama PT Rukun Raharja Tbk, Djauhar Maulidi, menegaskan bahwa manajemen memegang teguh tiga pilar komitmen utama perseroan kepada para pemegang saham dan investor publik.
Salah satu prinsip dasar manajemen adalah mempertahankan reputasi perusahaan sebagai acuan pasarmelalui pembayaran dividen secara rutin dan konsisten setiap tahun buku.
“Untuk kebijakan dividen tahun 2026, kami akan selalu berpegang pada tiga pesan kami kepada investor, yaitu kami akan memberikan nilai tambah kepada investor dengan menjadi market reference through regular dividends payment,” tegas Djauhar saat public Expose Live 2026, dikutip Selasa, 15 September 2026.
Djauhar memaparkan, bahwa pemenuhan hak investor akan diwujudkan melalui skema pembayaran dividen final secara reguler.
Perseroan mematok target agar total nilai dividen tahun buku 2026 tidak mengalami penurunan dibanding realisasi historis yang telah dibagikan.
“Kebijakan dividen akan tetap berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Jumlahnya tentu kami akan mencoba untuk paling tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya,” tutur Djauhar.
Terkait dengan wacana pembagian imbal hasil di pertengahan tahun, manajemen RAJA mengonfirmasi belum ada rencana penarikan dividen interim dalam waktu dekat.
Seluruh arus kas bersih perusahaan saat ini diprioritaskan untuk mendukung kesiapan modal belanja ekspansi proyek-proyek strategis.
“Mengenai apakah ada dividen interim tahun ini, mungkin bisa disampaikan bahwa untuk tahun ini sampai hari ini kami belum ada rencana untuk melakukan pembagian dividen interim,” jelasnya.
Keputusan menahan dividen interim diambil agar perseroan memiliki fleksibilitas likuiditas yang kuat untuk mendanai proyek midstream dan hulu yang membutuhkan modal besar.
Beberapa agenda ekspansi yang menguras kas perseroan antara lain pengoperasian FSRU Genting, pengadaan armada kapal pengangkut LNG, pembangunan pipa gas 120 km di Kalimantan Timur, hingga akuisisi blok hulu baru lewat RATU.
Dari sisi kinerja keuangan, RAJA sebenarnya masih mencatat pertumbuhan laba. Berdasarkan data keuangan perseroan, pendapatan pada 2025 mencapai Rp4,394 triliun, meningkat dari Rp4,033 triliun pada 2024.
Pada periode yang sama, laba bersih naik menjadi Rp577 miliar dari Rp461 miliar.
Kinerja tersebut berlanjut hingga kuartal II 2026. Secara trailing twelve months, pendapatan RAJA tercatat Rp4,551 triliun dengan laba bersih Rp651 miliar.
Laba bersih TTM tersebut juga lebih tinggi dibandingkan capaian 2025 sebesar Rp577 miliar.
Namun, peningkatan laba tersebut berjalan bersamaan dengan kebutuhan pendanaan yang semakin besar. Pada 2025, total utang RAJA tercatat Rp2,547 triliun, terdiri dari utang jangka pendek Rp722 miliar dan utang jangka panjang Rp1,825 triliun. Posisi net debt berada di level Rp1,028 triliun.
Di sisi lain, posisi kas RAJA pada akhir 2025 mencapai Rp1,519 triliun. Dalam basis kuartal II 2026, kas dan setara kas meningkat menjadi Rp2,216 triliun.
Pada periode yang sama, total aset tercatat Rp11,208 triliun, sementara total liabilitas mencapai Rp6,490 triliun dan ekuitas Rp4,718 triliun.
Kebutuhan ekspansi juga tercermin dari arus kas. Dalam basis TTM hingga kuartal II 2026, arus kas dari aktivitas investasi tercatat negatif Rp2,681 triliun.
Sementara itu, belanja modal mencapai Rp615 miliar dan arus kas bebas berada di level Rp343 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan ruang kas perseroan tetap perlu dijaga untuk menopang ekspansi bisnis.
Dari perspektif investor, keputusan tidak membagikan dividen interim perlu dilihat bersama kemampuan perusahaan menghasilkan kas dan kebutuhan pendanaan proyek.
RAJA saat ini mencatat dividend yield sekitar 1,65 persen dengan dividen TTM Rp13 per saham. Rasio pembayaran dividen berada di level 35,09 persen.
Di pasar modal, saham RAJA berada di level Rp790 pada perdagangan 15 September 2026. Harga tersebut turun 35,25 persen secara year to date, meski masih mencatat kenaikan 39,82 persen dalam setahun terakhir.
Dengan demikian, kebijakan mempertahankan dividen final sekaligus menahan dividen interim menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan investor dalam menilai keseimbangan antara imbal hasil pemegang saham dan kebutuhan modal ekspansi perseroan.
Manajemen menilai dengan menjaga posisi kas yang solid, perseroan sanggup mengeksekusi target-target pertumbuhan bisnis 2027 tanpa harus terbebankan biaya pinjaman yang tinggi.
Langkah ini diyakini akan menjaga nilai fundamental saham RAJA serta memberikan kepastian pembayaran dividen final yang optimal bagi para pemegang saham di akhir periode.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.