Di Balik Kelangkaan BBM, IESR Ungkap Buruknya Tata Kelola Kementerian ESDMIntip Garasi Menkeu Baru Suahasil Nazara, Ada Alphard hingga HR-V
Sementara itu, laporan Digital 2026 dari We Are Social memperkirakan total belanja iklan Indonesia pada 2025 mencapai USD6,97 miliar. Sekitar 52 persen dari belanja tersebut mengalir ke kanal digital, dengan nilai sekitar USD3,64 miliar.
Pergeseran belanja iklan itu membuat perusahaan media perlu menawarkan distribusi yang lebih luas kepada pengiklan.
Konten yang sebelumnya hanya disiarkan melalui televisi kini dapat dikembangkan untuk portal berita, YouTube, media sosial, layanan video pendek, hingga platform streaming.
Dalam konteks tersebut, penggabungan jaringan televisi nasional dan daerah milik MNC dengan portofolio portal digital milik STA berpotensi memperkuat kemampuan distribusi lintas platform.
Ekosistem tersebut mencakup iNews TV, IDX Channel, , , , dan News+, selain jaringan radio serta berbagai kanal digital lainnya.
Kinerja bisnis digital di lingkungan MNC juga memperlihatkan pentingnya diversifikasi model pendapatan.
PT MNC Digital Entertainment Tbk atau MSIN mencatat pendapatan sekitar Rp3,833 triliun pada 2025, meningkat 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pendapatan dari konten, kekayaan intelektual, dan sumber lainnya mencapai sekitar Rp2,107 triliun, naik 26 persen.
Pada periode yang sama, pendapatan langganan MSIN meningkat 18 persen menjadi sekitar Rp869,2 miliar. Jumlah pelanggan Vision+ juga bertambah dari 2,85 juta menjadi 4,9 juta.
Sementara itu, pendapatan iklan online tercatat sekitar Rp856,9 miliar atau tumbuh 2 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis media digital tidak hanya ditentukan oleh iklan. Kepemilikan konten, lisensi, layanan berlangganan, dan distribusi melalui berbagai platform menjadi sumber pendapatan yang semakin penting.
Di sisi lain, kinerja PT Media Nusantara Citra Tbk memperlihatkan adanya tantangan pada bisnis media berbasis iklan.
Berdasarkan laporan keuangan 2025, pendapatan MNCN tercatat sekitar Rp7,65 triliun, turun dari sekitar Rp7,95 triliun pada 2024. Namun, laba bersih meningkat menjadi sekitar Rp1,32 triliun.
Pada periode yang sama, EBITDA MNCN turun menjadi sekitar Rp1,85 triliun.
Perbedaan antara penurunan pendapatan dan kenaikan laba bersih tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan laba tidak otomatis berarti seluruh lini usaha media mengalami ekspansi.
Struktur biaya, kontribusi pendapatan non-operasional, dan efisiensi menjadi faktor yang juga perlu diperhatikan.
Laporan tahunan MNC menyebut bisnis media berbasis iklan dan konten melalui MNCN masih menjadi kontributor utama sektor media dan hiburan grup tersebut.
Pada 2024, lini itu menyumbang sekitar 79,07 persen terhadap pendapatan sektor media dan hiburan MNC. Bisnis berbasis pelanggan melalui layanan IPTV berkontribusi sekitar 16,68 persen.
Karena itu, kemitraan RMAB, MNCN, dan STA dapat dibaca sebagai upaya memperbesar skala ekonomi dalam produksi konten, memperluas jangkauan audiens, serta menciptakan inventaris iklan yang lebih beragam.
Namun, nilai strategis kerja sama tersebut belum dapat diukur sepenuhnya hanya dari jumlah pengikut dan views.
Angka 72 juta pengikut atau pelanggan perlu dijelaskan lebih lanjut untuk memastikan apakah angka itu merupakan jumlah akun unik atau akumulasi seluruh akun di berbagai platform.
Hal serupa berlaku pada angka 1,8 miliar views bulanan.
Perusahaan perlu menjelaskan apakah angka tersebut mencakup seluruh jenis penayangan, termasuk video pendek, autoplay, penayangan berulang, dan distribusi melalui platform pihak ketiga.
Struktur transaksi juga masih menjadi informasi penting yang belum dijelaskan secara rinci dalam keterangan resmi.
Publik perlu mengetahui apakah kerja sama tersebut berbentuk akuisisi, perusahaan patungan, penggabungan operasional, atau kemitraan komersial dengan pembagian aset dan kendali tertentu.
Dengan demikian, kemitraan RMAB, MNCN, dan STA tidak hanya berkaitan dengan perluasan jaringan pemberitaan.
Kerja sama ini juga berlangsung di tengah perubahan model bisnis media, ketika perusahaan dituntut mengubah jangkauan audiens menjadi pendapatan melalui iklan digital, konten berbayar, layanan streaming, lisensi, dan distribusi lintas platform.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.