Iran Nyatakan tak Akan Buka Selat Hormuz Sebelum Trump dan Netanyahu Lengser

Stok BBM RI Aman 18-20 Hari, Bahlil Tegur Pemilik Mobil Mewah yang Pakai Bensin SubsidiDanantara Nilai Indofarma Sulit Diselamatkan, Terancam Delisting

Biaya tersebut berkaitan dengan penggantian amunisi dan peralatan yang telah digunakan atau hilang dalam pertempuran, peningkatan jam penerbangan, operasi militer, serta konsumsi bahan bakar.

CBO mencatat sebagian besar biaya berasal dari penggunaan amunisi, termasuk sistem pencegat rudal yang digunakan untuk menghadapi rudal balistik dan drone Iran.

Persoalannya tidak berhenti pada uang yang sudah dikeluarkan. CBO memperkirakan konflik tersebut juga meninggalkan tekanan terhadap persediaan rudal pencegat Amerika Serikat yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.

CBO juga memperkirakan gangguan pengiriman minyak dan gas melalui jalur strategis seperti Hormuz dapat meningkatkan inflasi Amerika Serikat sekitar 0,5 poin persentase pada awal 2027 dibandingkan proyeksi sebelum perang.

Perhitungan CBO tersebut memiliki keterbatasan. Departemen Pertahanan Amerika Serikat tidak memberikan data yang diminta CBO sehingga lembaga tersebut menggunakan basis data pemerintah dan laporan publik.

Karena itu, CBO menyatakan estimasinya memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup besar.

Sementara itu, peninjauan terpisah dari inspektur jenderal Departemen Pertahanan AS mencatat pengeluaran militer terkait perang mencapai USD33,4 miliar hingga 30 Juni 2026, setara sekitar Rp597,9 triliun.

Dari angka tersebut, sekitar USD22,3 miliar atau Rp399,2 triliun digunakan untuk amunisi.

Laporan tersebut juga menemukan adanya kekurangan persediaan strategis dan hambatan industri dalam produksi serta penggantian amunisi.

Temuan ini menunjukkan biaya perang tidak hanya berbentuk angka dalam laporan anggaran, tetapi juga menyentuh kemampuan Amerika Serikat mengisi kembali persenjataan yang telah digunakan.

Di tengah semua itu, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling menentukan. EIA mencatat jalur tersebut memiliki alternatif yang terbatas.

Pada kuartal kedua 2026, arus minyak melalui Hormuz memang telah turun drastis menjadi sekitar 4,9 juta barel per hari, dibandingkan 21,6 juta barel per hari pada kuartal keempat 2025 sebelum konflik.

Artinya, satu selat sempit di antara Iran dan Oman kini menjadi bagian dari perhitungan yang jauh lebih besar. Bagi Iran, Hormuz menjadi instrumen tekanan dalam perang.

Bagi pasar energi, gangguan di sana berarti risiko terhadap pasokan global. Sementara bagi Amerika Serikat, perang yang terus berjalan berarti tagihan militer yang terus bertambah.

Selama Hormuz belum kembali normal, perang Iran tidak hanya dihitung dari rudal yang ditembakkan dan kapal yang tertahan. Biayanya juga terus berjalan di meja anggaran dan pasar energi.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.