The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Bagaimana Dampaknya ke Bank Indonesia?

Purbaya Dicopot Prabowo, Bos Danantara: Bawa Angin SegarBidik Pasar Minyak Sawit Dunia, Danantara dan PalmCo Siapkan Strategi

Pergerakan dolar justru lebih terlihat. Indeks dolar AS atau DXY menguat 0,6 persen ke level 100,3, sekaligus menjadi level tertinggi sejak akhir Juli 2026.

Sementara itu, harga emas ditutup turun 0,7 persen menjadi USD4.263 per ounce setelah sempat menguat sekitar 1,7 persen secara intraday.

Rangkaian pergerakan tersebut menjadi dasar Stockbit dalam menilai bahwa keputusan The Fed relatif sudah tercermin dalam harga aset.

Istilah priced-in sederhananya berarti pasar telah mengantisipasi suatu peristiwa sebelum peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Ketika keputusan akhirnya sesuai ekspektasi, ruang bagi pergerakan harga yang ekstrem menjadi lebih terbatas.

Karena itu, perhatian investor kini bergeser dari pertanyaan apakah The Fed menaikkan bunga menjadi seberapa jauh siklus kenaikan tersebut akan berlanjut.

Perubahan arah kebijakan The Fed kemudian menjadi relevan bagi Indonesia karena pergerakan suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar negara berkembang.

Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, aset negara berkembang harus berhadapan dengan perubahan daya tarik relatif bagi investor global. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat tercermin melalui pelemahan mata uang.

Data perdagangan Kamis 17 September menunjukkan rupiah melemah 0,3 persen ke level Rp17.747 per USD. Pada hari yang sama, IHSG justru menguat 0,4 persen.

Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun juga relatif datar di sekitar 7,16 persen.

Sekali lagi, pola tersebut sejalan dengan pembacaan Stockbit bahwa pasar Indonesia sejauh ini belum menunjukkan respons yang berlebihan terhadap kenaikan Fed Rate.

Jika The Fed benar-benar menaikkan bunga sekali lagi, tekanan berikutnya akan bergantung pada bagaimana pasar melihat perbedaan suku bunga AS dan Indonesia serta kemampuan rupiah mempertahankan stabilitasnya.

Di sinilah posisi Bank Indonesia menjadi penting. BI tidak harus selalu bergerak satu banding satu mengikuti The Fed.

Namun, ketika tekanan terhadap rupiah meningkat, ruang kebijakan moneter BI dapat ikut terpengaruh.

Kenaikan BI Rate menjadi salah satu instrumen yang secara teori dapat digunakan untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan merespons tekanan nilai tukar, meski keputusan aktual tetap bergantung pada kondisi ekonomi domestik dan mandat kebijakan BI.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.