Meskipun indeks berhasil merangkak naik dari posisi penutupan sebelumnya di level 6.277,04, aksi lepas saham oleh investor asing masih membayangi pergerakan pasar modal domestik.
Pada separuh pertama perdagangan hari ini, total nilai pembelian asingtercatat sebesar Rp1,81 triliun. Namun, angka tersebut belum mampu mengimbangi nilai penjualan asingyang lebih tinggi, yaitu mencapai Rp2,14 triliun.
Aksi net sell ini memicu arus keluar modal asing yang terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar, khususnya di sektor keuangan, telekomunikasi, dan energi.
Saham Perbankan Telekomunikasi Masuk Radar Distribusi
Saham PT Bank Rakyat IndonesiaTbkmenjadi emiten yang paling banyak dilepas oleh investor asing pada Sesi I.
Nilai net foreign sell pada saham BBRI menembus angka Rp128,74 miliar dengan total volume penjualan mencapai 40,62 juta saham.
Tekanan pada saham bank pelat merah ini menjadi pendorong utama derasnya arus dana keluar dari pasar reguler maupun pasar non-reguler.
Mengekor di posisi kedua, saham PT Bank MandiriTbkjuga berhadapan dengan aksi jual asing dengan nilai net sell sebesar Rp69,39 miliar dan volume mencapai 16,65 juta saham.
Tekanan jual pada sektor finansial turut merembet ke PT Bank Negara IndonesiaTbkyang mencatatkan net sell senilai Rp20,57 miliar, serta PT Bank Central Asia Tbkdengan net sell sebesar Rp15,99 miliar.
Selain perbankan, emiten telekomunikasi juga tidak luput dari aksi distribusi modal asing.
Saham PT Telkom IndonesiaTbkmenduduki peringkat ketiga dalam jajaran top net foreign sell setelah dilego asing senilai Rp64,85 miliar dengan volume 26,58 juta saham.
Langkah serupa terjadi pada saham PT Indosat Tbkyang mencatatkan nilai net sell sebesar Rp33,66 miliar.
Beberapa emiten berbasis komoditas dan energi juga mencatatkan aksi jual bersih asing yang cukup berbobot. Saham PT Bumi Resources Tbkmencatatkan net sell sebesar Rp29,54 miliar dengan volume transaksi mencapai 159,67 juta saham.
Sementara itu, saham PT Adaro Energy Indonesia Tbkdilepas asing senilai Rp26,87 miliar, diikuti oleh PT Darma Henwa Tbksebesar Rp17,10 miliar, PT Medco Energi Internasional Tbksenilai Rp13,87 miliar, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbksebesar Rp12,97 miliar.
MDKA dan Saham Tambang Jadi Penahan Tekanan Pasar
Di tengah maraknya aksi lepas saham oleh investor asing, sejumlah emiten berhasil menarik minat beli modal asingdan menjadi penahan tekanan penurunan indeks yang lebih dalam.
Saham PT Merdeka Copper Gold Tbkmemimpin barisan pembelian bersih asing pada Sesi I dengan nilai net buy mencapai Rp39,34 miliar dan volume transaksi sebesar 13,36 juta saham.
Dukungan akumulasi beli asing juga mengalir ke saham komoditas tambang dan mineral lainnya.
Saham PT Timah Tbkmengantongi nilai net buy asing sebesar Rp24,75 miliar, disusul oleh PT Amman Mineral Internasional Tbkdengan net buy sebesar Rp23,28 miliar.
Emiten energi PT Indika Energy Tbkturut mencatatkan net buy sebesar Rp16,04 miliar, serta PT Vale Indonesia Tbkdengan nilai net buy mencapai Rp15,17 miliar.
Sejumlah saham dari sektor lainnya juga mencatatkan akumulasi beli bersih asing pada pertengahan sesi.
Saham PT Singaraja Putra Tbkmengantongi net buy senilai Rp14,85 miliar, PT Visi Media Asia Tbksebesar Rp12,68 miliar, PT Triputra Agro Persada Tbksenilai Rp10,43 miliar, PT Sumber Global Energy Tbksebesar Rp8,49 miliar, dan PT Bumi Resources Minerals Tbksenilai Rp6,96 miliar.
Aktivitas transaksi bursa pada Sesi I sendiri ditutup dengan nilai transaksi bruto dari jajaran pialangyang cukup meriah.
Stockbit Sekuritas Digitalmemimpin total nilai transaksi sebesar Rp1,69 triliun, diikuti UBS Sekuritas Indonesiasenilai Rp1,32 triliun, dan Mandiri Sekuritassebesar Rp1,28 triliun.
Kondisi ini menunjukkan dinamika transaksi di pasar reguler masih berlangsung aktif menjelang pembukaan perdagangan Sesi II.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.