Danantara juga membuka peluang mengembangkan perusahaan tekstil yang masih bertahan dan dinilai memiliki potensi.
CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, perusahaan tekstil eksisting dapat dikembangkan, terutama dari sisi mesin dan teknologi.
“Untuk BUMN tekstil ini, karena kita sudah sepakat untuk membangun yang tidak hanya yang baru, tetapi kita juga akan melihat apabila ada beberapa perusahaan tekstil yang berpotensi untuk kita kembangkan, terutama dari segi mesinnya, dari segi teknologinya, kita terbuka,” ujar Rosan di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Rosan menjelaskan, penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu pertimbangan Danantara dalam mengembangkan industri tekstil.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrianserta Badan Pusat Statistiktahun 2025–2026, sektor TPT nasional menjadi salah satu tulang punggung manufaktur dengan menyerap lebih dari 3,65 juta tenaga kerja langsung atau menyumbang sekitar 18,7 persen dari total tenaga kerja industri pengolahan.
Selain itu, Danantara tetap mempertimbangkan tingkat keuntungan dari investasi yang dilakukan di sektor tersebut.
“Selama memang dari segi penciptaan lapangan pekerjaannya itu tinggi, dan kita tetap mengutamakan agar investasinya itu mempunyai return yang baik,” jelasnya.
Menurut Rosan, Danantara tetap akan membentuk perusahaan baru untuk mendukung pengembangan industri tekstil nasional. Perusahaan baru tersebut nantinya dapat bekerja sama dengan perusahaan tekstil yang sudah beroperasi.
“Kita akan bikin perusahaan baru memang. Akan bikin perusahaan baru untuk bisa mengembangkan di perusahaan-perusahaan yang sudah ada, kita lihat dan kita bisa berpartner dengan eksisting perusahaan tekstil yang sudah ada,” imbuh Rosan.
Rencana Pembentukan BUMN Tekstil
Rencana pembentukan kembali BUMN yang bergerak di sektor tekstil sebelumnya disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Keterangan Pers Menko Perekonomian di Jakarta, Januari 2026.
Kebijakan ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto guna menghidupkan kembali BUMN tekstil tanah air yang meredup sejak era depresiasi industri era 2000-an.
Berdasarkan catatan kinerja BPS dan Asosiasi Pertekstilan Indonesiaperiode 2024–2025, realisasi ekspor TPT nasional tercatat melandai di kisaran USD4 miliar (sekitar Rp71,20 triliun per tahun dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS).
Pemerintah memproyeksikan restrukturisasi BUMN tekstil ini mampu menggenjot nilai ekspor TPT Indonesia hingga 10 kali lipat menuju target USD40 miliar (sekitar Rp712,00 triliun) dalam tenggat waktu 10 tahun hingga 2036.
Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah menyiapkan pendanaan awal sekitar USD6 miliar atau setara Rp106,81 triliun jika dikonversi ke rupiah, melalui Danantara.
“Kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali sehingga pendanaan USD6 miliar nanti akan disiapkan oleh Danantara,” katanya di Jakarta pada Rabu, 14 Januari 2026.
Suntikan dana Rp106,81 triliun tersebut diproyeksikan untuk memodernisasi fasilitas pabrik yang menurut data Evaluasi Teknologi Industri Kemenperinmayoritas mesin TPT nasional telah berusia di atas 15 hingga 20 tahun.
Ketinggalan teknologi ini menyebabkan efisiensi produksi TPT Indonesia tertinggal 25 hingga 30 persen jika dibandingkan dengan negara kompetitor utama kawasan, seperti Vietnam dan Bangladesh.
Airlangga menjelaskan bahwa fokus utama pembentukan BUMN tekstil adalah untuk menutup celahpada rantai pasokindustri TPT dalam negeri.
Mengacu pada data Analisis Neraca Komoditas Kemenperin, industri hilirIndonesia saat ini masih bergantung pada bahan baku impor hingga 72 persen, terutama pada segmen pertengahanseperti kain rajut/tenun dan serat sintetis.
Rantai pasok yang akan diperdalam mencakup proses hulu hingga hilir, mulai dari pemintalan benang, penenunan, pencelupan dan pewarnaan, hingga menghasilkan produk pakaian jadi.
Langkah ini ditargetkan meningkatkan utilisasi sektor midstream dari saat ini sebesar 48 persen menuju batas ideal di atas 75 persen.
Selain sektor tekstil, pemerintah juga menempatkan penguatan sektor elektronik dan semikonduktor sebagai pilar strategis industri nasional.
Presiden Prabowo telah mengarahkan pembentukan kembali ekosistem industri semikonduktor dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor komponen elektronik yang mencapai miliaran dolar AS per tahun.
Pemerintah mengalokasikan dukungan investasi terpadu untuk mengembangkan sektor semikonduktor tersebut, mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusiaserta transfer teknologi tinggi.
Langkah strategis ini dinilai krusial untuk memperkuat struktur industri elektronik domestik sekaligus memitigasi risiko disrupsi perdagangan global akibat dinamika perang tarif dan ketegangan perdagangan antarnegara.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.