Mencari Saham Undervalued, Panduan Analisis Fundamental untuk Investor Pemula

Dari pertumbuhan aset tersebut, seorang investor berharap dapat memanen pendapatan pasifhingga akhirnya mencapai kemerdekaan finansialNamun, untuk menembus puncak kebebasan finansial tersebut, instrumen yang dipilih tidak bisa diperlakukan secara asal-asalan.

Literacy and Education Mandiri Sekuritas, Norman Yudha Aditya Andreswara, menegaskan bahwa menjaga agar aset tidak mengalami penurunan nilai adalah prinsip dasar yang wajib dipegang oleh setiap investor.

“Poin utamanya, kita tentu tidak ingin aset kita menurun.

Kita maunya aset itu terus bertumbuh dan konsisten memberikan passive income, sehingga ujungnya kita bisa mencapai taraf bebas finansial,” ujar Norman dalam edukasi wartawan secara daring di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.

Menurut Norman, membedakan karakteristik pasar saham dengan instrumen lain, seperti properti atau emas, sangat penting untuk memahami tingkat kerumitannya.

Investasi properti, misalnya, relatif lebih sederhana karena skema transaksinya cenderung langsung antara pembeli dan penjual, atau melalui bantuan broker dan fasilitas Kredit Pemilikan Rumahdari perbankan.

Meski bertransaksi properti terbilang mudah dari segi skema, proses analisisnya tetap tidak boleh diabaikan.

Investor wajib memeriksa legalitas dokumen seperti Sertifikat Hak Milik, memetakan potensi banjir, hingga menilai kestrategisan lokasi.

“Jika pada sistem transaksi yang sederhana saja kita tetap dituntut melakukan analisis mendalam, apalagi di pasar saham.

Di bursa, ada lebih dari 900 emiten dengan ekosistem yang kompleks, melibatkan SRO (Self-Regulatory Organization) seperti IDX, KPEI, KSEI, hingga berbagai lembaga penunjang efek lainnya,” jelasnya.

Membongkar Kompleksitas Lewat Analisis Fundamental

Guna menyederhanakan rumitnya dinamika pasar saham, investor membutuhkan pisau analisis yang presisi, yakni analisis fundamental.

Norman menggarisbawahi bahwa saham masuk dalam kategori produk investasi berisiko tinggi, berbeda dengan emas atau logam mulia yang mekanisme serta profil risikonya cenderung lebih konservatif.

Namun, hukum dasar investasi berlaku tegak lurus: high risk, high return. Saham menyimpan potensi pertumbuhan nilai yang sangat agresif atau kerap dikenal dengan istilah multibagger.

“Tugas kita sebenarnya bukan berdebat mencari mana yang paling menguntungkan antara emas, saham, atau properti.

Kuncinya ada pada pengelolaan risikoKalau kita memutuskan masuk ke saham, kita sudah paham bahwa instrumen ini high risk,” tutur Norman.

Dalam memilah saham yang prospektif, Norman mengingatkan agar investor tidak terjebak dalam godaan instan mencari saham yang bisa melonjak puluhan kali lipat secara instingtif.

Metode yang teruji dan tetap relevan dari waktu ke waktu adalah berinvestasi pada perusahaan yang memiliki fondasi bisnis sangat kuat.

Ia juga melayangkan peringatan keras terhadap budaya FOMOatau sekadar ikut-ikutan tren pasar tanpa memahami kondisi riil emiten.

“Jangan hanya karena suatu saham sedang ramai ditransaksikan lalu kita langsung melompat masuk tanpa membaca laporan keuangan.

Itu berbahaya karena bisa memicu misinformasi, hal yang sebenarnya negatif bisa dipersepsikan positif, atau sebaliknya.

Kita boleh mendengar berita atau market update, tetapi keputusan beli dan jual wajib didasari analisis mendalam,” tegasnya.

Membedah Top–Down, Mencari Saham Undervalued

Secara praktis, analisis fundamental berfokus untuk menilai apakah harga suatu saham berada di bawah harga wajarnyaatau justru sudah terlalu mahalTujuan utama investor fundamental adalah mengincar saham undervalued dari perusahaan berkinerja sehat untuk jangka panjang, bahkan bisa mencapai kurun waktu hingga 10 tahun, seraya mengincar bagi hasil berupa dividen saban tahun.

Untuk mengeksekusi strategi tersebut, Mandiri Sekuritas menerapkan pendekatan dari atas ke bawahPendekatan ini dimulai dengan menakar indikator makroekonomi global dan domestik, seperti pergerakan suku bunga acuan, tingkat inflasi, hingga nilai tukar mata uang.

Norman memberi contoh dampak dinamika nilai tukar terhadap sektor usaha.

Penguatan dolar AS terhadap rupiah memberi tekanan tersendiri bagi emiten yang bergantung pada bahan baku impor tetapi menjual produknya dengan mata uang domestik, seperti industri farmasi atau manufaktur perangkat elektronik.

Sebaliknya, emiten komoditas berorientasi ekspor atau penyedia jasa penerbangan berskala internasional justru berpotensi meraup keuntungan ganda

Setelah menyaring sektor yang diuntungkan oleh kondisi makro, tahap berikutnya adalah membedah laporan keuangan emiten. Fondasi paling mendasar dari sebuah perusahaan tentu saja terletak pada kemampuannya mencetak laba secara konsisten.

“Buat apa kita berinvestasi di perusahaan yang sedang merugi kalau ada perusahaan sejenis yang mencatatkan profit?

Berinvestasi pada emiten yang masih membukukan kerugian—dengan harapan kinerja mereka membaik di masa depan, itu hitungannya sudah spekulasi,” tambah Norman.

Batas Aman Utang dan Pemantauan Kinerja

Selain profitabilitas, tingkat utang atau liabilitas menjadi indikator vital berikutnya.

Perusahaan yang mencatatkan laba besar sekalipun bisa memberikan imbal hasil yang minim bagi investor jika sebagian besar pendapatannya habis digunakan untuk membayar kewajiban utang.

Norman menyarankan agar investor memperhatikan porsi utang perusahaan terhadap total asetnyaAngka ideal yang aman berada di kisaran maksimal 45 persen dari total aset, kriteria yang juga diterapkan dalam penyeleksian Daftar Efek Syariah

“Jika aset perusahaan Rp100 triliun tetapi utangnya mencapai Rp70 triliun, fokus manajemen akan terdistraksi untuk membenahi utang. Akibatnya, potensi pembagian dividen kepada investor menjadi sangat terbatas,” paparnya.

Untuk memantau perkembangan emiten secara berkala, investor dipandu untuk mengevaluasi laporan keuangan yang dirilis setiap kuartalIndikator sederhana seperti Earning Per Sharedapat digunakan untuk melihat pertumbuhan laba secara cepat, sementara rasio likuiditas seperti Current Ratio, Quick Ratio, dan Cash Ratio bisa dimanfaatkan untuk mengukur ketahanan emiten dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya.

Dalam mengeksekusi pembelian, investor dapat memilih antara strategi “buy and hold” untuk jangka panjang atau metode Dollar Cost Averagingdengan membeli saham secara berkala dan konsisten selama fondasi fundamental emiten tersebut tidak berubah.

“Investasi itu perjalanan panjang. Dengan analisis fundamental yang terstruktur, kita tidak sedang menebak-nebak arah angin, melainkan sedang menanam modal pada bisnis yang nyata dan berdasar,” pungkas Norman.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.