BI Tahan Bunga 5,75 Persen, Mengapa IHSG Langsung Melompat?

Kepastian kebijakan moneter domestik ini menjadi sentimen positif yang memicu aksi beli investor lokal.

Pada penutupan perdagangan, IHSG melesat 97,87 poin atau naik 1,56 persen ke level 6.374,91. Level tersebut terjadi setelah sempat menguji area support di 6.230.

Kendati demikian, laju penguatan bursa saham domestik ini diwarnai oleh tekanan modal asing yang mencatatkan net sell harian sebesar Rp408 miliar.

Hal inilah yang kemudian membawanya pada total outflow pasar reguler menembus Rp102,9 triliun secara year-to-date

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penguatan IHSG merupakan reaksi alami pasar atas kepastian kebijakan moneter, meski belum sepenuhnya didorong oleh kembalinya arus modal asing.

“Kenaikan IHSG hari ini belum sepenuhnya mencerminkan perubahan arus dana asing, tetapi lebih menunjukkan adanya bargain hunting dan perbaikan sentimen setelah ketidakpastian keputusan BI mereda,” kata Hendra dalam keterangan tertulis Kamis, 24 September 2026.

Ia menambahkan, IHSG dalam jangka pendek berpeluang melanjutkan penguatan teknikal dengan level 6.463 sebagai area resistance krusial.

Jika level tersebut berhasil ditembus dengan dukungan volume dan diikuti perbaikan breadth pasar, maka peluang IHSG untuk bergerak menuju area 6.586 atau menutup gap sebelumnya semakin terbuka.

Sebaliknya, jika gagal melewati 6.463, pasar masih perlu mewaspadai konsolidasi dengan support berikutnya di 6.000 hingga 6.035.

Di sisi lain, keputusan BI menahan suku bunga dianggap memberikan ruang bagi pelaku pasar untuk menilai kembali valuasi emiten tanpa beban kenaikan biaya dana

Kebijakan tersebut sekaligus memberi sinyal bahwa BI masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pertumbuhan tanpa menambah tekanan terhadap dunia usaha.

Namun, respons pasar tetap akan bergantung pada perkembangan rupiah dan arus modal asing dalam beberapa waktu ke depan.

Namun, ruang pelonggaran moneter dinilai sangat sempit akibat langkah Bank Sentral Amerika Serikatyang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen pada 16 September 2026.

Tingginya inflasi di Amerika Serikat memaksa BI berhati-hati menjaga keseimbangan antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga daya tarik nilai tukar rupiah.

“Ekspektasi bahwa BI akan menaikkan suku bunga pada tahun ini sebaiknya tidak dianggap sebagai kepastian, tetapi sebagai risiko yang sangat bergantung pada perkembangan rupiah, inflasi domestik, arus modal asing, harga energi, serta arah kebijakan The Fed berikutnya,” ujar Hendra.

Apabila BI pada akhirnya terpaksa menaikkan suku bunga acuan, dampaknya akan menjangkau bursa saham melalui tiga jalur utama: peningkatan biaya danayang menekan ekspansi kredit dan konsumsi, penurunan valuasi price to earnings ratio, serta pergeseran minat pemodal ke instrumen berpendapatan tetapdan deposito.

Sektor perbankan, properti, konstruksi, dan konsumsi menjadi area yang paling sensitif terhadap kenaikan suku bunga tersebut.

Memasuki sisa akhir tahun, pergerakan IHSG diproyeksikan bertahap dan volatil. Dalam situasi pemulihan ini, pemilihan emiten berbasis kombinasi fundamental, katalis bisnis, dan momentum harga menjadi faktor kunci.

Saham big caps yang likuid serta sektor komoditas dinilai tetap menarik sebagai penggerak pasar dan alat diversifikasi atas risiko inflasi global maupun geopolitik.

“Karena pasar masih berada dalam fase recovery dan arus asing secara year to date masih mencatatkan net sell sekitar Rp102,9 triliun, kenaikan harga sebaiknya tetap dikonfirmasi oleh volume dan kesinambungan arus dana, sehingga investor tidak terjebak mengejar harga ketika rebound berlangsung terlalu cepat,” imbau Hendra.

Untuk panduan investasi, Hendra menuturkan ada sejumlah saham yang bisa dipantau secara terukur.

Saham PT Bank CIMB Niaga Tbkmenarik sebagai pilihan trading buy dengan target harga 1.880 seiring potensi sentimen positif perbankan apabila stabilitas suku bunga domestik terjaga.

PT Bumi Resources Minerals Tbkdapat dicermati secara speculative buy dengan target 750 karena saham berbasis emas memiliki katalis dari tingginya minat investor terhadap aset komoditas pelindung risiko global.

Selain itu, PT Saratoga Investama Sedaya Tbkdirekomendasikan speculative buy dengan target 1.915 sebagai pilihan berbasis holding company yang bereksposur pada aset-aset strategis.

Sementara PT Indika Energy Tbkdinilai menarik untuk trading buy dengan target harga 3.000, didorong oleh sentimen komoditas dan prospek bisnis yang masih kuat menopang pergerakannya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.