Harga Minyak Naik Tipis, Isu Diplomasi AS-Iran Tahan Lonjakan

Dikutip dari Reuters, harga kontrak berjangka Brent ditutup naik 0,9 persen menjadi USD105,28 per barel. Sedangkan, minyak mentah West Texas IntermediateAS naik  0,2 persen ke level USD92,60.

Sebagai informasi, harga minyak sempat melonjak lebih dari USD4 per barel pada sesi awal perdagangan kemarin setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menolak proposal dari Iran yang akan membuka kembali selat Hormuz.

Harga minyak kemudian sedikit menyusut karena ada kabar bahwa mediator Qatar akan mengadakan pembicaraan dengan dua negara tersebut.

Seorang pejabat yang mengetahui negosiasi tersebut kepada Reuters mengatakan, para mediator Qatar diperkirakan akan mengadakan pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di New York dan dengan pihak AS pada hari Senin atau Selasa.

Pejabat itu menambahkan, pembicaraan tersebut diperkirakan akan fokus pada versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Umum PBB.

Pada akhir pekan, Iran menegaskan bahwa hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konfliknya dengan AS dan Israel, setelah Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri permusuhan.

Namun, dengan tetap membuka pintu diplomasi, Trump mengatakan kepada Axios dalam sebuah wawancara telepon pada hari Minggu bahwa ia mengharapkan para negosiator AS untuk terlibat dalam lebih banyak pembicaraan pekan ini.

Menurut kantor berita negara Saudi, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan tiba di Washington pada hari Senin untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Aliran Minyak Mentah dari Timur Tengah Meningkat

Ekspor minyak mentah dari produsen utama Timur Tengah perlahan pulih pada September 2026 menjadi 12,8 juta barel per hari.

Menurut data awal dari Kpler yang dirilis pada hari Senin, angka ini merupakan yang tertinggi sejak perang dimulai pada bulan Februari 2026, seiring dengan peningkatan ekspor dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Pemulihan tersebut terjadi setelah peningkatan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta barel per hari bulan ini, menurut data tersebut.

Arab Saudi mengalihkan ekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah ke pelabuhan Ras Tanura di timur setelah serangan yang merusak jalur pipa Timur-Baratnya.

“Meskipun lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz meningkat, arus tetap berada di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga pasar tetap kekurangan pasokan,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.

Perlu diketahui, sekitar seperlima pasokan minyak dunia — kira-kira 20 juta barel per hari — melewati Selat Hormuz sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada bulan Februari 2026.

Saudi Aramco sedang mempertimbangkan untuk menawarkan diskon pada harga jual resminya untuk minyak yang dimuat di lepas pantai Oman guna memberikan kompensasi kepada pembeli atas tarif pengangkutan yang mencapai rekor tertinggi, menurut lima orang yang mengetahui masalah tersebut.

Apa Isi Proposal Iran?

Dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di sela Sidang Umum PBB di New York, Iran menyampaikan bahwa pembukaan kembali selat dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dapat dilakukan apabila Amerika Serikat mencabut blokade laut, menghapus sanksi terhadap penjualan minyak Iran, dan memulihkan gencatan senjata di kawasan.

Trump langsung menolak proposal tersebut.

Bagi pasar minyak, persoalan utama bukan hanya keputusan diplomatik antara kedua negara, tetapi juga seberapa cepat arus kapal dan pengiriman energi melalui Hormuz dapat kembali normal.

Reuters sebelumnya melaporkan lalu lintas kapal di selat tersebut turun jauh dibandingkan kondisi sebelum perang.

Pada akhir pekan 19-20 September, hanya 17 kapal komoditas yang melintasi Hormuz, dibandingkan 37 kapal pada pekan sebelumnya dan rata-rata sekitar 125 kapal per hari sebelum konflik.

Kondisi tersebut membuat setiap perkembangan mengenai pembukaan jalur pelayaran menjadi faktor penting bagi harga minyak. Ketika risiko gangguan pasokan meningkat, pasar cenderung memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga.

Sebaliknya, kepastian mengenai gencatan senjata dan kelancaran distribusi dapat mengurangi premi tersebut.

Trump Sebut Harga Minyak Akan Turun

Di tengah ketegangan itu, Trump justru menyatakan harga minyak akan turun tajam setelah perang berakhir. Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan pembicaraan lebih lanjut dengan Iran diperkirakan berlangsung pekan ini.

Ia juga menyebut lebih dari 20 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz selama akhir pekan. Seorang pejabat pertahanan AS yang dikutip Axios menyatakan sekitar 22 juta barel diekspor melalui selat tersebut pada Jumat.

Pernyataan mengenai potensi penurunan harga minyak tersebut menunjukkan adanya dua faktor yang bergerak berlawanan. Di satu sisi, pasar menghadapi risiko pasokan akibat konflik dan ketidakpastian mengenai Hormuz.

Di sisi lain, jika negosiasi menghasilkan penghentian perang dan arus minyak meningkat, tambahan pasokan dapat mengurangi tekanan harga.

Dengan kata lain, arah harga minyak dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan aktual di lapangan, bukan hanya pernyataan politik.

Jika volume pengiriman melalui Hormuz terus meningkat tanpa gangguan baru, risiko kekurangan pasokan dapat berkurang.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.