Pelemahan itu mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober.
Nasdaq Composite menjadi indeks dengan kenaikan terbesar, yakni 1,19 persen atau 319,27 poin ke level 27.190,86.
S&P 500 naik 0,73 persen atau 56,27 poin menjadi 7.722,72, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,49 persen atau 250,40 poin ke 51.176,96.
Penguatan pasar saham terjadi setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang jauh lebih rendah dibandingkan ekspektasi.
Data Departemen Tenaga Kerja AS mencatat nonfarm payrolls September hanya bertambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah konsensus ekonom yang disurvei Reuters sebanyak 90.000 pekerjaan.
Angka Agustus juga direvisi turun menjadi 133.000 dari sebelumnya 162.000. Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen pada Agustus.
Pertumbuhan upah rata-rata per jam juga melambat menjadi 0,1 persen secara bulanan, sehingga pertumbuhan tahunan turun menjadi 3 persen.
Data tersebut mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Setelah laporan tenaga kerja dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober menurun.
Reuters melaporkan pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan masih sekitar 70 persen pada awal pekan, tetapi kemudian turun tajam setelah sejumlah data inflasi dan tenaga kerja menunjukkan tekanan yang lebih rendah.
The Fed sendiri telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada September ke kisaran 3,75 persen sampai 4 persen. Ini menjadi kenaikan pertama dalam tiga tahun.
Meski demikian, inflasi yang masih berada di atas target 2 persen membuat kemungkinan kenaikan berikutnya tetap terbuka, terutama pada Desember.
Dengan demikian, data tenaga kerja yang melemah tidak serta-merta berarti siklus kenaikan suku bunga berakhir. Pasar masih menunggu data inflasi dan indikator ekonomi lainnya sebelum menentukan arah kebijakan The Fed berikutnya.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan masih tersedia cukup waktu sebelum pertemuan 27-28 Oktober untuk mengevaluasi data tambahan.
Dari sisi pasar saham, penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan ruang bagi saham-saham yang sensitif terhadap perubahan biaya pendanaan.
Indeks real estat S&P 500 naik 0,4 persen, sementara Russell 2000 yang merepresentasikan saham berkapitalisasi kecil melonjak 0,9 persen, sekaligus mencatat kenaikan harian terbesar dalam sekitar satu bulan.
Kenaikkan Yield AS Jadi Tantangan
Namun, penguatan saham berlangsung bersamaan dengan kenaikan kembali imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Yield Treasury 10 tahun naik sekitar 4,72 basis poin menjadi 5,281 persen, sedangkan yield Treasury dua tahun meningkat 3,98 basis poin menjadi 4,827 persen.
Kenaikan yield dua tahun menjadi perhatian karena instrumen tersebut relatif sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
Sementara itu, yield Treasury 10 tahun telah berada di sekitar level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Pada perdagangan sebelumnya, yield 10 tahun sempat mencapai 5,34 persen, level tertinggi dalam 24 tahun.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya tarik-menarik di pasar.
Data tenaga kerja yang melemah mengurangi tekanan untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi investor obligasi masih menghadapi persoalan inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta kenaikan harga energi.
Tekanan di pasar obligasi juga terjadi di Eropa. Selisih yield obligasi pemerintah Jerman dan Prancis melebar ke level terluas sejak krisis utang zona euro 2011.
Yield obligasi Prancis turut meningkat di tengah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal negara tersebut.
Dolar Melemah, Minyak Menguat, Emas Terkoreksi
Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama setelah data tenaga kerja dirilis. Euro naik 0,16 persen menjadi USD1,1259, sedangkan dolar melemah 0,18 persen terhadap yen ke 157,79 yen per dolar.
Pergerakan komoditas juga tetap menjadi perhatian. Harga minyak Brent naik 0,45 persen menjadi USD102,77 per barel, sedangkan West Texas Intermediateturun sekitar 1 persen ke USD91,90 per barel.
Harga minyak masih dipengaruhi ketatnya pasokan produk energi dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Reuters mencatat kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang memperumit prospek inflasi dan kebijakan moneter.
Sementara itu, harga emas spot turun 1,01 persen menjadi USD4.135,68 per troy ounce.
Pelemahan emas terjadi ketika yield obligasi kembali naik, sehingga sebagian tekanan dari penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tertahan oleh tingginya imbal hasil Treasury.
Pasar Saham Sepekan
Jika melihat kinerja sepanjang pekan, penguatan Jumat belum membuat seluruh indeks mencatat kenaikan mingguan. S&P 500 justru turun 0,27 persen, sedangkan Dow Jones melemah 1,26 persen.
Nasdaq menjadi pengecualian dengan kenaikan 0,45 persen sepanjang pekan.
Dengan demikian, perdagangan akhir pekan menunjukkan bahwa pasar saham AS masih merespons kuat perubahan ekspektasi suku bunga.
Data pekerjaan yang melambat memberikan dukungan bagi saham pada Jumat, tetapi kenaikan yield Treasury menunjukkan bahwa persoalan inflasi, fiskal, dan harga energi masih menjadi faktor yang membatasi ruang gerak pasar.
Memasuki pekan berikutnya, perhatian investor akan tertuju pada data ekonomi AS berikutnya, perkembangan inflasi, pergerakan yield Treasury, serta komunikasi pejabat The Fed menjelang pertemuan kebijakan pada 27-28 Oktober.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.