Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi. menjelaskan, proyeksi rentang pergerakan tersebut didasari oleh posisi IHSG yang saat ini berada di area yang sangat menentukan.
Secara struktur teknikal, tren jangka pendek IHSG sebenarnya masih berada dalam kondisi bearish setelah gagal mempertahankan area 6.700, yang kemudian membentuk rangkaian lower high dan lower low hingga kembali menguji level psikologis 6.000.
“Level 6.000 merupakan level kunci sekaligus psychological support. Menariknya, IHSG sempat menembus ke bawah level tersebut secara intraday hingga 5.979,98 tetapi kembali ditutup di atasnya.
Ini memberikan sinyal bahwa breakdown 6.000 belum terkonfirmasi. Selama indeks mampu bertahan di area 6.000, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka,” kata Imam Gunadi dalam riset Senin, 5 Oktober 2026.
Imam menambahkan, penutupan IHSG di level 6.036,89 atau menguat 0,46 persen pada akhir pekan lalu menunjukkan adanya respons beli dari pelaku pasar di sekitar area support.
Kondisi price action seperti ini sering menjadi fase awal pembentukan bottom jangka pendek, meskipun konfirmasi pembalikan arah baru akan tercipta jika indeks mampu bergerak naik menembus batas atas pergerakannya.
Imam menjelaskan resistance pertama yang menurut saya paling penting adalah 6.184 – 6.200. Level 6.184 pada chart merupakan resistance pertama dan secara teknikal menjadi semacam confirmation level.
Selama IHSG masih berada di bawah area tersebut, kenaikan dari 6.000 masih lebih tepat dianggap sebagai technical rebound, bukan perubahan tren.
“Jika indeks berhasil menembus 6.184 dan mampu bertahan di atasnya, struktur jangka pendek mulai membaik karena IHSG berhasil mengambil kembali area breakdown sebelumnya,” ujar Imam.
Selain faktor teknikal domestik, arah IHSG pada pekan ini juga akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan rilis sejumlah indikator ekonomi utama.
Perhatian utama pelaku pasar internasional tertuju pada dokumen FOMC Minutes yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Dokumen tersebut akan membeberkan perdebatan internal jajaran Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed saat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen pada September lalu.
Pasar saat ini tengah mencermati bagaimana The Fed menimbang dilema antara data penyerapan tenaga kerja atau Payrolls AS periode September yang memburuk secara signifikan dengan hanya bertambah 29 ribu pekerja—jauh di bawah konsensus 90 ribu pekerja—di tengah tingkat pengangguran yang naik menjadi 4,2 persen dan pertumbuhan upah tahunan yang melambat ke 3,0 persen.
Di sisi lain, kekhawatiran inflasi dan harga energi global belum sepenuhnya mereda.
Hal ini tecermin dari pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun yang sempat menembus level 5,342 persen pada 1 Oktober 2026, yang merupakan angka tertinggi sejak tahun 2002.
Arah kebijakan dalam FOMC Minutes serta rangkaian pidato pejabat The Fed seperti Williams, Bowman, dan Logan sepanjang pekan ini akan menjadi petunjuk penting apakah narasi suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer masih akan dipertahankan.
Dari data ketenagakerjaan global, investor juga menantikan data ADP Employment Change Weekly pada Selasa untuk melihat apakah perlambatan perekrutan tenaga kerja di AS masih terus berlanjut.
Sementara dari dalam negeri, rilis data posisi Cadangan Devisa atau Foreign Exchange Reserves Indonesia menjadi indikator vital yang dipantau pasar.
Posisi cadangan devisa nasional saat ini tercatat setara dengan 5,4 bulan impor, berada jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.
Kecukupan ini menjadi bantalan penting di tengah tekanan eksternal seperti penguatan mata uang dolar AS dan posisi nilai tukar Rupiah berdasarkan kurs JISDOR yang berada di level Rp17.898 per dolar AS per 2 Oktober 2026.
“Ini merupakan buffer yang cukup kuat. Namun, yang akan menjadi perhatian investor adalah apakah cadangan devisa September tetap terjaga ketika BI melakukan stabilisasi Rupiah di tengah tingginya volatilitas global,” tutur Imam.
Ia menyimpulkan, jika cadangan devisa tetap solid, Bank Indonesia memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda, sehingga dapat menahan tekanan arus modal keluar dan menjaga IHSG tetap bertahan di atas rentang support 6.000.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.