PGEO Cetak Kinerja Dua Digit, Produksi Listrik Tembus Rekor

Namun, penguatan fundamental tersebut belum tercermin pada pergerakan saham perseroan di pasar reguler. Saham PGEO justru terkoreksi 7,84 persen sepanjang perdagangan 28 September hingga 2 Oktober 2026.

Kembali pada catatan kinerja keuangannya, PGEO berhasil membukukan pendapatan sebesar USD235,03 juta hingga 30 Juni 2026.

Realisasi tersebut meningkat 14,7 persen dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar USD204,85 juta.

Laba bersih perseroan tercatat USD79,61 juta. Jika dibandingkan dengan laba bersih pada semester I 2025, angkanya berada di USD43,90.

Di sini ada pertumbuhan sekitar 81,35 persen secara tahunan. Kenaikan laba tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan.

Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan, peningkatan pendapatan tersebut ditopang oleh pertumbuhan produksi dan meningkatnya keandalan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dikelola perseroan.

“Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi, serta keuntungan selisih kurs yang positif,” ujar Fransetya.

Perbaikan juga terlihat dari struktur neraca. Ekuitas PGEO tercatat sebesar USD2,006 miliar.

Sementara itu, total liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan posisi akhir 2025 menjadi USD961,18 juta.

Dari sisi operasional, produksi listrik perseroan hingga Juli 2026 mencapai sekitar 3.222 gigawatt hourAngka tersebut meningkat 12,7 persen dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.859 GWh dan menjadi produksi tertinggi yang dicatatkan perseroan.

Bagaimana dengan Pertumbuhan Produksi Perusahaan?

Pertumbuhan produksi terjadi di seluruh wilayah operasi PGEO. Lumut Balai, misalnya, mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 85,5 persen menjadi 567 GWh setelah Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025.

Kamojang menghasilkan 1.113 GWh atau tumbuh 6,3 persen. Sementara produksi Karaha meningkat 22,7 persen menjadi 75 GWh, sedangkan Ulubelu naik 1,8 persen menjadi 953 GWh.

Lahendong juga mencatat pertumbuhan 1 persen menjadi 514 GWh.

Untuk keseluruhan 2026, PGEO menargetkan produksi listrik mencapai 5.255 GWh. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi produksi 5.095 GWh sepanjang 2025.

Perseroan juga melanjutkan ekspansi kapasitas pembangkit melalui pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4, masing-masing berkapasitas 55 megawatt

Kedua proyek tersebut telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas. Status tersebut membuka potensi akses pembiayaan pinjaman luar negeri sebesar USD158,86 juta untuk Lumut Balai Unit 3 dan USD148,97 juta untuk Unit 4.

Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan, penguatan operasional dan pengembangan proyek baru menjadi bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan.

Menurut dia, pengembangan pembangkit panas bumi diarahkan untuk mendukung pasokan listrik yang bersih sekaligus stabil dan andal.

Perforna Saham Masih Gelap

Namun, kinerja operasional dan keuangan tersebut berbanding terbalik dengan pergerakan saham PGEO pada perdagangan pekan lalu.

Pada periode 28 September hingga 2 Oktober 2026, saham PGEO ditutup di level Rp940, turun 80 poin atau 7,84 persen. Di pasar reguler, saham perseroan mencatat net sell sebesar Rp18,1 miliar.

Berdasarkan data perdagangan Stockbit, transaksi saham PGEO sepanjang periode tersebut mencapai volume sekitar 185,1 ribu lot dengan frekuensi 5.969 transaksi. Harga rata-rata transaksi berada di level Rp977 per saham.

Di tengah tekanan jual secara keseluruhan, aktivitas sejumlah broker yang merepresentasikan transaksi investor asing menunjukkan adanya akumulasi terbatas.

Broker IF menjadi pembeli bersih terbesar dengan nilai sekitar Rp2 miliar, melibatkan volume 21,2 ribu lot pada harga rata-rata Rp949 per saham.

Berikutnya, ZP mencatat pembelian sekitar Rp350,8 juta sebanyak 3,6 ribu lot dengan harga rata-rata Rp978. Broker CC juga membukukan pembelian sekitar Rp136,3 juta atau 1,9 ribu lot pada harga rata-rata Rp971.

Broker AZ dan KZ turut mencatat pembelian masing-masing sekitar Rp44 juta dan Rp26,7 juta.

Sebaliknya, transaksi jual terbesar berasal dari broker AK dengan nilai sekitar Rp696,5 juta. Broker NI mencatat penjualan Rp168,5 juta, diikuti BK sebesar Rp53,8 juta dan HP sebesar Rp39,5 juta.

Broker HD dan YP masing-masing melepas saham PGEO senilai sekitar Rp11,9 juta dan Rp4,6 juta.

Dengan demikian, data perdagangan menunjukkan tekanan jual terhadap PGEO masih terjadi secara agregat, meskipun terdapat pembelian oleh sejumlah broker yang mencatat aktivitas transaksi asing.

Berapa Target Analis?

Dari sisi konsensus analis terhadap saham PGEO, dari 19 analis yang tercatat sebanyak 14 analis memberikan rekomendasi beli, sedangkan lima analis merekomendasikan tahan.

Konsensus tersebut menetapkan target harga rata-rata PGEO di level Rp1.318 per saham. Dengan harga penutupan Rp940 pada akhir pekan lalu, target rata-rata tersebut berada sekitar 40,2 persen di atas harga pasar.

Rentang target harga analis berada antara Rp900 hingga Rp1.650 per saham. Target terendah berada Rp40 di bawah harga penutupan terakhir, sedangkan target tertinggi berada Rp710 di atas level Rp940.

Data tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara perkembangan kinerja operasional dan keuangan PGEO dengan pergerakan harga sahamnya dalam jangka pendek.

Pendapatan meningkat 14,7 persen, produksi listrik hingga Juli naik 12,7 persen, dan laba bersih berdasarkan nominal yang dilaporkan meningkat sekitar 81,35 persen secara tahunan.

Pada periode yang sama, saham PGEO justru turun 7,84 persen dalam sepekan perdagangan terakhir.

Pergerakan saham dan kinerja fundamental tersebut merupakan dua indikator yang berbeda.

Data keuangan menggambarkan capaian operasional dan finansial perseroan, sementara harga saham mencerminkan aktivitas transaksi di pasar pada periode tertentu.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.