Proses Danantara Pangkas 354 BUMN Terus Berlanjut

Saham Gocap Akhirnya Bebas, Dirut BEI Buka-Bukaan Soal Imbasnya ke IHSGResmi Tekan MRA, Bos ADHI Beberkan Arah Bisnis Perseroan

Untuk mencapai angka tersebut, Danantara tidak hanya mengandalkan merger. Ada perusahaan yang akan ditutup, didivestasi, dikonsolidasikan, hingga direstrukturisasi.

Dony mengatakan skema restrukturisasi juga bisa berbeda-beda. Ada perusahaan yang ditangani melalui skema equity, ada yang menggunakan aset sebagai penyertaan modal, dan ada pula yang utangnya harus direstrukturisasi.

“Bentuk restrukturisasi itu bermacam-macam. Ada yang bentuknya equity, ada juga yang kami lakukan dengan memasukkan aset, tetapi ujungnya juga menjadi equity.

Ada juga yang kami lakukan melalui restrukturisasi pinjaman,” katanya.

Pelindo Juga Dipangkas, dari 41 Tinggal 24

Perampingan juga sudah menyentuh PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Danantara sebelumnya memangkas jumlah perusahaan di bawah Pelindo dari 41 menjadi 24 perusahaan.

Namun, angka 24 rupanya belum dianggap cukup. Danantara masih mengkaji sejumlah model bisnis di bawah Pelindo untuk melihat bagian mana yang masih bisa disederhanakan.

Dony mengatakan kajian tersebut dilakukan agar struktur Pelindo menjadi lebih ramping sekaligus memperjelas posisi bisnisnya. “Menjadi 24.

Tetapi kami masih meminta agar jumlahnya lebih sedikit lagi karena beberapa model bisnisnya juga akan kami tinjau,” ujar Dony di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Salah satu perubahan yang sedang didorong adalah memperkuat Pelindo sebagai operator pelabuhan. Selama ini, kata Dony, banyak pelabuhan di Indonesia justru dioperasikan pihak ketiga.

Pelindo lebih banyak menjalankan fungsi sebagai landlord atau pengelola aset dan sewa properti.

“Kami berharap Pelindo benar-benar menjadi perusahaan operator pelabuhan yang baik. Selama ini kebanyakan pelabuhan kita dioperasikan oleh perusahaan pihak ketiga,” kata Dony.

Danantara ingin peran Pelindo diperbesar. Bukan hanya menjadi pengelola pelabuhan di dalam negeri, tetapi juga memiliki kemampuan mengoperasikan pelabuhan di negara lain.

“Harapannya tidak hanya lokal. Kalau bisa, kita yang mengoperasikan pelabuhan milik orang lain di luar negeri. Ini yang akan kami ubah dari model bisnisnya,” ujarnya.

Perubahan model bisnis tersebut menjadi bagian dari transformasi yang sedang dikerjakan Danantara. Setiap perusahaan akan dibedah satu per satu untuk menentukan struktur dan model bisnis yang dianggap paling masuk akal.

Ujungnya tentu kembali kepada satu pertanyaan yang sebenarnya sederhana.

Kalau perusahaan pelat merah terlalu banyak, tetapi yang menghasilkan sebagian besar dividen hanya segelintir, buat apa negara memelihara begitu banyak perusahaan yang justru menghabiskan energi, aset, dan anggaran?

Danantara kini sedang mencoba mencari jawabannya dengan cara yang paling gampang dilihat hasilnya. Pangkas, gabung, restrukturisasi, atau tutup.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.