Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka menyusut 1,89 persen menjadi USD100,32 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS melemah 1,84 persen ke level USD89,43.
Menurut data perkapalan yang dirilis pada hari Senin, ekspor minyak mentah dari Timur Tengah meningkat di atas level sebelum perang Amerika Serikat- Iran atau tepatnya di minggu terakhir bulan September 2026.
“Meskipun kapal tanker masih berisiko, harapannya adalah pada akhirnya lebih banyak minyak yang sampai ke pasar,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates.
Sementara itu, negara-negara kelompok tujuh atau yang biasa disebut G7, pada hari Jumat sepakat untuk melepaskan 100 juta barel solar dan minyak mentah dari cadangan darurat.
Tak hanya itu, mereka juga berjanji untuk menahan diri dari pembatasan ekspor energi setelah tekanan dari Presiden AS, Donald Trump.
Adapun negara-negara G7 mencakup Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Kanada, Jerman, Italia, dan Jepang,
Namun, analis Raymond James, Pavel Molchanov, memandang bahwa pasar tetap skeptis karena tidak jelas jumlah minyak yang disepakati dalam perjanjian baru tersebut.
Sementara itu Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan pekan lalu bahwa para anggota telah melepaskan sekitar dua pertiga dari kesepakatan 400 juta barel.
CEO Meg O’Neill pada konferensi Energy Intelligence di London pada hari Senin menyampaikan, perusahaan minyak besar Inggris, BP, telah menyesuaikan kilang-kilangnya untuk fokus pada produksi lebih banyak diesel.
Gencatan Senjata Masih Sulit Tercapai
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga menyebut gencatan senjata di Timur Tengah masih sulit tercapai, dan permusuhan yang kembali memanas antara Arab Saudi dan Houthi akan memastikan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal akan terus berlanjut.
“Sehingga premi risiko geopolitik tetap berada pada tingkat yang tinggi,” kata dia.
CEO Amin Nasser mengatakan pada konferensi Energy Intelligence bahwa ia memperkirakan pasokan minyak mentah dan bahan bakar olahan akan tetap terbatas.
Ia juga bilang, pengisian kembali cadangan global setelah penarikan darurat mungkin membutuhkan waktu dua tahun.
Menurut data yang dirilis oleh Departemen Energi pada hari Senin, persediaan minyak mentah di Cadangan Minyak Strategis AS turun menjadi 283 juta barel pekan lalu, terendah sejak Oktober 1982.
Adapun, Aliansi negara pengekspor minyak dan sekutunyamenunda peninjauan yang akan menentukan kuota produksi minyak tahun 2027 untuk anggotanya setelah perang Iran mengganggu proyek-proyek dalam memperluas kapasitas di seluruh Timur Tengah.
Kondisi tersebut pun menimbulkan ketidakpastian mengenai perkiraan potensi produksi di masa depan, kata dua sumber yang dekat dengan masalah tersebut.
Sementara itu, Aramco secara tak terduga memangkas harga minyak mentah Asia untuk bulan November ke level terendah dalam enam tahun.
Di sisi lain, Pertempuran antara Arab Saudi dan Houthi di Yaman terus meningkatkan kekhawatiran tentang produksi di negara pengekspor utama di kawasan tersebut.
Masih mengutip Reuters, pasukan pemerintah Yaman disebutkan menyerang posisi Houthi di distrik Dhubab yang menghadap Selat Bab el-Mandeb pada Senin.
Hal ini terjadi sehari setelah pemerintah yang diakui secara internasional melancarkan kampanye untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.
OPEC+ Kompak Tahan Produksi Minyak
Sebelumnya diberitakan, OPEC+ sepakat untuk mempertahankan target produksi minyak mentah tetap stabil untuk periode November.
Keputusan ini diambil dalam pertemuan singkat secara daring pada Minggu waktu setempat, sejalan dengan ekspektasi para pelaku pasar modal global yang memproyeksikan belum adanya penyesuaian kebijakan output lanjutan hingga tahun depan.
Analisis Komoditas dari UBS, Giovanni Staunovo, menilai bahwa langkah aliansi produsen minyak ini mencerminkan kondisi riil pasokan minyak dunia yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Meskipun alur pengiriman di Selat Hormuz perlahan mulai bergerak, tingkat produksi harian emiten dan produsen minyak kawasan Teluk masih berada jauh di bawah kuota resminya.
“Kelompok tujuh anggota utama OPEC+ mempertahankan batas atas produksi mereka tidak berubah, sejalan dengan ekspektasi pasar.
Meskipun demikian, di tengah meningkatnya arus pengiriman melalui Selat Hormuz, tingkat output mereka tetap berada jauh di bawah kuota,” ujar Analis Komoditas UBS, Giovanni Staunovo, dalam ulasan pasarnya.
Keputusan mempertahankan kuota produksi tersebut disepakati oleh tujuh anggota inti OPEC+ yang terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.
Produsen minyak OPEC+ di kawasan Teluk dilaporkan memompa minyak jauh di bawah target akibat gangguan ekspor yang dipicu oleh konflik AS-Israel dengan Iran.
Kondisi geopolitik tersebut menyebabkan volume ekspor minyak mentah berfluktuasi pada kisaran 60 hingga 80 persen dari tingkat normal dalam beberapa bulan terakhir.
OPEC+ sebenarnya telah menaikkan target produksi sepanjang tahun 2026 setelah bertahun-tahun menerapkan pemangkasan output secara ketat.
Namun demikian, realisasi kenaikan kuota tersebut sebagian besar hanya berada di atas kertas akibat hambatan operasional dan konflik militer di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data resmi OPEC, tujuh anggota inti OPEC+ memompa rata-rata 25 juta barel per haripada Agustus lalu, atau naik 630.000 bpd dibandingkan bulan Juli.
Kendati mencatatkan peningkatan bulanan, total volume produksi harian tersebut masih sekitar 5 juta bpd lebih rendah dibandingkan dengan tingkat produksi sebelum perang pada Februari.
“Aliansi OPEC+ masih memiliki pemangkasan produksi sekitar 2 juta bpd yang berlaku untuk sebagian besar anggota.
Kelompok ini membutuhkan hasil evaluasi kapasitas untuk memutuskan tata cara pembagian kenaikan kuota, sehingga perubahan produksi riil di lapangan kemungkinan besar belum akan terjadi sebelum tahun 2027,” tutur sumber internal industri minyak.
Tujuh anggota inti aliansi OPEC+ dijadwalkan bakal kembali menggelar pertemuan tingkat menteri berikutnya pada 1 November mendatang.
Di saat yang sama, badan pemantau independen aliansi, Joint Ministerial Monitoring Committee, menyatakan bakal terus memantau dinamika pasokan dan permintaan pasar komoditas energi global secara berkala guna mengantisipasi gejolak harga yang lebih tajam.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.