Jumlah ini melonjak hampir 30 kali dibandingkan posisi 2016 yang hanya sekitar USD1,3 miliar.
Airlangga mengklaim, nilai ekspor tersebut menjadi bukti konkret daya ubah kebijakan hilirisasi dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, ketimbang terus-menerus mengekspor bahan mentah.
“Dampak hilirisasi dari nikel tentu kita lihat bahwa ekspornya sekarang rata-rata di tahun lalu mencapai 34 miliar US Dollar dari tahun 2016 yang hanya 1,3 miliar US Dollar.
Jadi ini sudah mengalami kenaikan hampir 30 kali lipat,” ujar Airlangga, Selasa, 6 Oktober 2026.
Politisi Partai Golkar itu juga mengklaim, keberhasilan pengolahan nilai tambah juga terjadi pada komoditas perkebunan dan sumber daya alam terbarukan lainnya.
Airlangga mencontohkan ekspor turunan kelapa sawit yang telah mencapai 208 jenis produk, serta komoditas kelapa yang nilai ekspornya melonjak mendekati 50 persen menjadi USD2,39 miliar pada 2025.
“Hilirisasi bukan hanya untuk mineral, tetapi komoditas sumber daya yang renewable juga terus kita genjot. Hasilnya terlihat dari penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa, khususnya di wilayah timur Indonesia,” paparnya.
Masuknya investasi pengolahan nikel, kata dia, berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di Sulawesi Tengah, Maluku, hingga Maluku Utara berderap di zona double digit.
Keberadaan kawasan industri pengolahan mineral di Maluku Utara bahkan tercatat telah menyerap lebih dari 25.000 tenaga kerja lokal di satu kawasan saja.
Guna menjaga keberlanjutan ekosistem nikel, pemerintah berkomitmen mengawal pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik domestik berbasis nikel
Langkah ini diambil untuk mengantisipasi persaingan dengan baterai berbasis litium yang didorong oleh negara produsen seperti Australia.
“Kita harus memastikan bahwa domestic battery kita adalah yang mendukung ekosistem yang sudah dibangun di Indonesia, yaitu nickel-based.
Kita tidak bisa hanya membiarkan pasar berjalan sendiri karena persaingan teknologi baterai sangat ketat. Oleh karena itu, penguatan industri dalam negeri dan pemanfaatan energi hijau menjadi kunci ke depan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ahli Pertambangan dan Mineral DEN, Nataneil Adhynagara Horansil memaparkan rekam jejak lonjakan kinerja ekspor nikel tanah air yang meroket tajam dalam satu dekade terakhir.
“Ekspor produk nikel kita meningkat cukup sangat pesat 12 kali sejak 2014. Dari yang sebelumnya hanya 3 miliar dolar AS per tahun, tahun lalu sudah mencapai 37 miliar dolar AS.
Kalau dari sisi volumenya itu meningkat lebih besar lagi sampai 19 juta ton di tahun 2025,” kata Nataneil dalam forum diskusi CERAH bertajuk Reformasi Pengelolaan Nikel demi Mendorong Pertumbuhan Industri Hijau beberapa waktu lalu.
Nataneil menguraikan bahwa lonjakan nilai ekspor tersebut berjalan seiring dengan derasnya arus penanaman modal asing atau Foreign Direct Investmentyang mengalir masuk ke sektor logam dasar.
Akumulasi investasi asing yang masuk ke Indonesia sepanjang kurun waktu 2015 hingga 2025 telah menembus angka fantastis mencapai puluhan miliar dolar AS.
“FDI juga meningkat lebih dari 71 miliar dolar AS kalau kita akumulasikan dari tahun 2015 sampai 2025. Total 71 miliar dolar AS sudah masuk ke negara kita untuk investasi di sektor base metal,” bebernya.
Keberhasilan menarik modal asing tersebut diakui Nataneil tidak lepas dari kombinasi pemberian insentif pemancing, baik berupa kemudahan fiskal maupun fasilitas nonfiskal dari pemerintah.
Fasilitas seperti tax holiday, tax allowance, pembebasan PPN impor, hingga fleksibilitas perizinan dalam skema Proyek Strategis Nasionalmenjadi karpet merah bagi para investor smelter global.
“Landasannya tidak hanya pelarangan ekspor saja, tapi kita melengkapi kebijakan export ban itu dengan kebijakan lain untuk menarik investasi, seperti tax holiday, tax allowance, pembebasan PPN, hingga kemudahan perizinan,” jelas Nataneil.
Suntikan modal tersebut memicu ledakan jumlah smelter di Pulau Sulawesi, utamanya di Provinsi Sulawesi Tengah yang kini menjadi pusat pangkalan industri nikel terbesar di tanah air.
Kawasan industri seperti Indonesia Morowali Industrial Parkmencatatkan kapasitas produksi olahan mentah yang terus tumbuh masif lewat berbagai proyek ekspansi.
“Smelter nikel berkembang sangat pesat, mayoritas di Pulau Sulawesi utamanya Sulawesi Tengah. Paling besar adalah IMIP dengan total kapasitas saat ini 1,8 juta ton,” urainya.
Meski demikian, DEN menggarisbawahi bahwa mayoritas produk olahan nikel yang diproduksi saat ini masih tertahan pada fase intermediate atau setengah jadi, seperti Nickel Pig Iron, feronikel, hingga Mixed Hydroxide Precipitate
Pemerintah masih memiliki PR besar untuk mendorong fasilitas pengolahan agar mampu memproduksi barang jadi bernilai tambah tinggi di rantai paling hilir.
“Di masa lalu kita mengimpor tanah air, dan saat ini kita sudah mengimpor intermediate product NPI, baja, dan MHP. In the future kita berharap bisa lebih hilir lagi, yaitu dalam produk baterai lithium dan kendaraan listrik,” tegas Nataneil.
Potensi nilai ekonomi dari cadangan mineral nikel dan kobalt nasional sendiri ditaksir mencapai nilai yang sangat raksasa, yakni mendekati 800 miliar dolar AS atau setara Rp15.000 triliun.
Guna mengejar ketertinggalan teknologi pengolahan baterai, pemerintah mulai mendorong program transfer pengetahuan melalui pembangunan laboratorium canggih.
“Kerja sama GEM dengan ITB mengembangkan laboratorium hidrometalurgi bernilai 35 juta dolar AS yang sangat canggih.
Ini langkah awal untuk melengkapi rantai pasok baterai lithium kita dari prekursor, anoda, hingga produk akhir,” jelas Nataneil.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.