IHSG menguat ke 6.207,43: Saham BUMI, BUVA, DEWA Dorong Kenaikan

Indeks Harga Saham Gabungannaik 88,57 poin atau 1,45 persen ke level 6.207,43, melanjutkan penguatan 1,4 persen pada perdagangan sehari sebelumnya.

Penguatan IHSG juga membawa indeks ke level tertinggi 6.216,44, sementara level terendah perdagangan berada di 6.120,24. IHSG dibuka pada 6.139,13, atau langsung berada di atas posisi penutupan sebelumnya di 6.118,86.

Aktivitas transaksi turut meningkat. Data Stockbit menunjukkan volume perdagangan di pasar reguler mencapai 434,10 juta lot, dengan nilai transaksi sekitar Rp10,21 triliun dan frekuensi 1,82 juta transaksi.

Jika seluruh pasar diperhitungkan, volume mencapai 443,53 juta lot dengan nilai transaksi Rp10,83 triliun.

Kenaikan IHSG terjadi ketika sebagian besar bursa negara berkembang Asia bergerak terbatas. Kondisi tersebut membuat pasar Indonesia menjadi salah satu penguat utama di kawasan.

Penguatan ini terutama dikaitkan dengan aksi bargain hunting setelah IHSG mengalami tekanan cukup besar pada pekan sebelumnya.

Penurunan harga saham yang terjadi sebelumnya membuka ruang bagi investor untuk kembali masuk ke sejumlah saham yang dinilai sudah mengalami koreksi.

Harga minyak yang mulai turun serta berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober turut menjadi faktor pendukung sentimen.

Pergerakan tersebut memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke saham-saham domestik.

Menariknya, penguatan pasar kali ini tidak hanya ditopang saham komoditas. Perbankan, infrastruktur dan properti juga mulai mendapat perhatian.

Hal tersebut menunjukkan partisipasi pasar yang lebih luas dibandingkan periode ketika pergerakan IHSG lebih banyak digerakkan saham berbasis komoditas.

BUVA Menguat 4,44 Persen, Antrean Beli Lebih Tebal

Salah satu saham yang bergerak cukup kuat adalah PT Bukit Uluwatu Villa TbkSaham BUVA ditutup pada Rp705, naik Rp30 atau 4,44 persen.

BUVA dibuka pada Rp680 dan sempat turun ke Rp655 sebelum bergerak naik hingga Rp705. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp115,32 miliar, dengan volume 1,69 juta lot dan frekuensi 16.369 transaksi.

Yang menarik adalah kondisi order book. Total antrean bid mencapai sekitar 907.244 lot, sementara antrean offer berada di sekitar 512.589 lot.

Dengan demikian, antrean beli terlihat lebih tebal dibandingkan antrean jual.

Kondisi tersebut menunjukkan permintaan pada level perdagangan BUVA masih cukup kuat.

Namun, pergerakan berikutnya tetap akan ditentukan kemampuan saham mempertahankan harga di atas area Rp700 setelah kenaikan cukup signifikan dalam satu sesi.

BUMI dan DEWA Ikut Menguat

Penguatan saham komoditas juga masih terlihat. BUMI naik 3,37 persen ke Rp184.

Data perdagangan menunjukkan BUMI dibuka di Rp180, sempat menyentuh Rp187 dan bergerak ke level terendah Rp179.

Volume perdagangan mencapai 22,85 juta, dengan nilai transaksi sekitar Rp418,17 miliar dan frekuensi 31.690 transaksi. Harga rata-rata perdagangan berada di Rp183.

Sementara itu, DEWA menjadi salah satu saham yang mencatat kenaikan lebih besar. Saham tersebut naik 5,20 persen ke Rp364 atau bertambah Rp18.

Volume DEWA mencapai sekitar 573,86 juta saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume sekitar 529,8 juta saham.

Kenaikan yang disertai volume di atas rata-rata tersebut menunjukkan aktivitas transaksi yang relatif ramai pada saham tersebut.

Pergerakan DEWA juga menjadi perhatian karena perseroan memiliki eksposur terhadap jasa pertambangan batu bara.

Di tengah penguatan saham komoditas, peningkatan aktivitas transaksi menunjukkan minat pasar masih cukup besar terhadap saham yang berkaitan dengan sektor pertambangan.

FORU dan PTRO Justru Melemah

Tidak seluruh saham bergerak mengikuti penguatan IHSG. FORU justru mengalami tekanan cukup besar dengan penurunan 10,79 persen ke Rp124.

Volume FORU mencapai sekitar 1,85 miliar saham, jauh di atas rata-rata volume yang berada di kisaran 88,88 juta saham. Lonjakan volume yang disertai penurunan harga menunjukkan aktivitas jual yang sangat tinggi.

Sementara itu, saham PTRO terkoreksi 0,97 persen ke Rp5.100. Volume perdagangan tercatat sekitar 29,27 juta saham, masih di bawah rata-rata 43,79 juta saham.

Pergerakan PTRO memperlihatkan bahwa penguatan IHSG belum otomatis mengangkat seluruh saham terkait komoditas. Setelah mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir, PTRO masih bergerak dalam fase konsolidasi.

KOTA Tertekan, Antrean Jual Dominan

Saham KOTA juga berada dalam tekanan. Harga saham turun 5,03 persen menjadi Rp151, dari posisi sebelumnya Rp159.

KOTA sempat dibuka di Rp155, dengan level tertinggi Rp158 dan terendah Rp150. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp49,71 miliar, dengan volume 3,24 juta lot dan frekuensi 15.985 transaksi.

Order book memperlihatkan antrean bid sekitar 685.466 lot, sedangkan antrean offer mencapai 1,478 juta lot. Artinya, pasokan jual terlihat jauh lebih besar dibandingkan permintaan beli pada level tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan BUVA yang justru memiliki antrean bid lebih besar. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa meskipun IHSG menguat, tekanan jual pada saham tertentu masih cukup kuat.

Bursa Asia Bergerak Terbatas

Di kawasan Asia, pergerakan pasar cenderung beragam. Filipina mengalami tekanan setelah data inflasi September menunjukkan kenaikan tahunan menjadi 7,2 persen, lebih tinggi dari perkiraan 6,6 persen.

Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral Filipina masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga.

Korea Selatan juga melemah 0,9 persen setelah kembali diperdagangkan pascalibur, dengan saham produsen chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi sumber tekanan.

Sebaliknya, Taiwan menguat sekitar 0,5 persen dan mencatat rekor penutupan baru di level 49.822,55.

Bagi IHSG, penguatan dua hari berturut-turut memberikan sinyal bahwa aksi bargain hunting mulai muncul setelah koreksi tajam pekan sebelumnya.

Namun, penguatan tersebut masih perlu diikuti kemampuan indeks mempertahankan level 6.200 agar momentum pemulihan tidak kembali berubah menjadi tekanan jual.

Pergerakan saham BUVA, BUMI dan DEWA menunjukkan minat beli masih hadir pada sejumlah saham, sementara tekanan pada FORU, PTRO dan KOTA mengingatkan bahwa pemulihan pasar belum berlangsung merata.

Dengan demikian, arah IHSG selanjutnya akan sangat bergantung pada keberlanjutan volume transaksi, rotasi sektor, serta kemampuan saham-saham berkapitalisasi besar mempertahankan momentum penguatan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.