Namun, penurunan harga minyak tersebut justru membuat Energy Information Administrationjustru menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi sekitar USD105 per barel.
Melansir Reuters, 6 Oktober 2026, EIA menaikkan proyeksi tersebut karena persediaan minyak global menyusut dengan cepat, sementara pasar diesel masih mengalami tekanan pasokan.
Kondisi tersebut membuat harga minyak diperkirakan tetap tinggi meski aliran minyak dari Timur Tengah mulai pulih.
Pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, harga Brent ditutup naik 26 sen atau 0,3 persen menjadi USD100,58 per barel. Sementara minyak mentah West Texas IntermediateAmerika Serikat naik 1 sen menjadi USD89,44 per barel.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar menimbang meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan rencana negara-negara G7 melepas cadangan darurat minyak mentah serta diesel.
Di sisi lain, risiko gangguan pasokan masih membayangi pasar akibat konflik di kawasan.
Reuters melaporkan sekitar 12 juta barel per hari minyak mentah dan 2 juta barel per hari produk olahan telah dikirim keluar dari Timur Tengah dalam tujuh hingga 10 hari terakhir.
Pemulihan tersebut membantu meredakan tekanan pasokan, tetapi belum cukup untuk menghilangkan risiko di pasar energi.
EIA Naikkan Proyeksi Harga Minyak
EIA menaikkan proyeksi harga Brent rata-rata pada kuartal IV 2026 menjadi sekitar USD105 per barel. Angka tersebut USD14 lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Untuk keseluruhan 2026, EIA memperkirakan harga Brent rata-rata berada di sekitar USD98 per barel. Proyeksi tersebut naik 8 persen dibandingkan perkiraan EIA pada bulan sebelumnya.
EIA menilai penurunan persediaan global dan ketatnya pasar diesel menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi.
“Meski kami memperkirakan arus minyak dari Timur Tengah akan tetap terbatas hingga kuartal IV 2026, kami memperkirakan produksi minyak regional yang dihentikan pada September merupakan yang terendah sejak dimulainya konflik,” kata EIA dalam laporan bulanannya, dikutip Reuters, Selasa, 6 Oktober 2026.
EIA juga memperkirakan harga diesel eceran di Amerika Serikat tetap berada di atas USD6 per galon sepanjang Oktober sebelum secara bertahap turun hingga rata-rata sekitar USD4,50 per galon pada 2027.
Stok Global Mulai Menipis
Kondisi persediaan menjadi salah satu alasan EIA tetap melihat harga minyak tinggi meskipun ekspor Timur Tengah mulai pulih.
Serangan terhadap infrastruktur energi kawasan masih berpotensi mengganggu arus minyak, sementara jalur utama seperti Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal.
EIA menyebut produksi minyak yang dihentikan akibat gangguan regional diperkirakan mencapai 4,5 juta barel per hari pada kuartal IV 2026.
Angka tersebut diproyeksikan turun menjadi 2,7 juta barel per hari pada kuartal I 2027 seiring membaiknya kondisi di kawasan dan pulihnya jalur ekspor.
Di sisi lain, pemulihan ekspor mulai terlihat. Arus minyak dari negara-negara Teluk di luar Iran telah kembali lebih dari 81 persen dari tingkat sebelum konflik pada September.
Arab Saudi juga kembali menggunakan sejumlah jalur ekspor setelah sebelumnya menghadapi gangguan pada infrastruktur minyaknya.
Kondisi tersebut membuat pasar menghadapi dua perkembangan yang berlawanan. Pasokan mulai pulih, tetapi cadangan global sudah terkuras sehingga ruang untuk menyerap gangguan baru menjadi lebih terbatas.
Pasar Diesel Jadi Perhatian
Persoalan diesel menjadi semakin penting karena kekurangan produk olahan mendorong kilang meningkatkan kebutuhan terhadap minyak mentah untuk memaksimalkan produksi diesel.
EIA menyebut pasar diesel yang sangat ketat ikut meningkatkan permintaan terhadap minyak mentah.
Dengan kapasitas pengolahan yang masih menghadapi gangguan, pemulihan pasokan minyak mentah tidak serta-merta membuat harga produk energi turun.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa harga Brent masih bertahan di sekitar USD100 per barel meskipun aliran minyak dari Timur Tengah mulai meningkat.
Reuters dalam laporan lain pada 5 Oktober 2026 menyebut persoalan pasar minyak kini semakin bergeser dari sekadar kekurangan pasokan menuju persoalan logistik.
Biaya pengangkutan dan asuransi melonjak, sementara kapasitas kilang yang terganggu turut memperketat pasar produk olahan, khususnya diesel.
Dengan kondisi tersebut, penurunan harga minyak dalam jangka pendek belum cukup untuk memastikan tren penurunan berlanjut.
Investor masih harus mencermati perkembangan persediaan global, arus ekspor Timur Tengah, kapasitas kilang, serta kondisi pasar diesel.
EIA memperkirakan pemulihan produksi dan ekspor akan membantu menekan harga pada 2027. Harga Brent diproyeksikan rata-rata USD84 per barel tahun depan, seiring membaiknya arus minyak dan meningkatnya kembali persediaan global.
Namun, selama persediaan global masih tertekan dan pasar diesel belum kembali longgar, harga minyak tetap memiliki ruang untuk bertahan di level tinggi meskipun Brent mulai bergerak turun dari puncaknya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.