Tiga UMKM Jakarta Menjajal Pasar Fesyen Paris, Seberapa Besar Peluang Ekspornya?

Harga Minyak Turun Tipis, IEA Buka Keran Stok Saat Perang Iran bikin Pasokan Dunia TercekikWamenko Dradjad Bidik Pertumbuhan Ekonomi Tembus Enam Persen, Berikut Strateginya

Ada jarak yang cukup lebar antara jumlah pelaku usaha yang sudah masuk ekosistem pembinaan dengan mereka yang benar-benar berhasil menyeberangkan produknya ke pasar internasional.

Menariknya, Dinas PPKUKM sendiri kemudian mencatat ada 322 UMKM Jakpreneur yang telah diidentifikasi memiliki potensi ekspor kuat hingga Desember 2025. Saat itu jumlah anggota Jakarta Entrepreneur tercatat 416.859.

Pemerintah daerah bahkan menggandeng Bea Cukai untuk memberikan pendampingan sejak tahap awal, termasuk urusan kepabeanan, dokumen ekspor, hingga simulasi pengiriman pertama.

Artinya, problemnya bukan semata-mata mencari produk yang pantas dipajang di luar negeri. Ada tahap panjang setelahnya, dari kesiapan administrasi sampai kemampuan memenuhi standar pasar dan benar-benar mengirim barang.

Di titik inilah pameran internasional seperti Première Classe menjadi relevan.

Penyelenggara Première Classe menyebut ajang tersebut mempertemukan sekitar 13.000 pengunjung setiap tahun, dengan 69 persen di antaranya merupakan pengunjung internasional.

Para pengunjungnya terdiri dari buyer, concept store, department store, stylist, agen, hingga pelaku industri fesyen lainnya.

Penyelenggara juga mencantumkan sejumlah nama besar sebagai buyer yang pernah hadir, antara lain Galeries Lafayette, Le Bon Marché, Printemps, Takashimaya, Hankyu Department Store, United Arrows, Isetan, Selfridges dan Harvey Nichols.

Jadi, kesempatan bertemu pasar memang tersedia. Persoalannya tinggal bagaimana kesempatan tersebut dikonversi menjadi transaksi.

Pemerintah pusat setidaknya sudah memiliki ukuran untuk urusan itu. Kementerian Perdagangan mencatat program UMKM BISA Ekspor sepanjang 2025 memfasilitasi 1.217 UMKM dan menghasilkan transaksi sebesar USD 134,87 juta.

Dari jumlah tersebut, USD 57,45 juta berupa purchase order atau pesanan pembelian, sementara USD 77,42 juta masih berupa potensi transaksi.

Sepanjang tahun itu juga berlangsung 622 kegiatan business matching, yang terdiri atas 399 sesi pitching dan 223 pertemuan dengan buyer mancanegara.

Menariknya, fesyen dan tekstil masuk lima besar sektor yang paling banyak mengikuti aktivitas tersebut.

Kontribusinya mencapai 10,94 persen dari keseluruhan pitching dan business matching UMKM BISA Ekspor, berada di bawah makanan dan minuman, produk perkebunan, serta furnitur dan dekorasi rumah.

Data itu memberikan gambaran bahwa membawa UMKM ke pasar internasional memang bisa menghasilkan nilai ekonomi.

Tetapi keberhasilannya lebih mudah diukur ketika pemerintah mencatat berapa buyer yang ditemui, berapa pesanan yang masuk dan berapa transaksi yang benar-benar terealisasi.

Karena itu, untuk tiga brand Jakarta yang tampil di Paris, ukuran keberhasilannya semestinya tidak berhenti pada jumlah pengunjung pameran atau seberapa menarik produk yang dipajang.

Pertanyaan berikutnya adalah berapa buyer yang tertarik, berapa pesanan yang masuk dan berapa nilai transaksi yang berhasil dibawa pulang ke Jakarta?

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.