Keyakinan Konsumen RI Anjlok, Warga Pilih 'Protect First, Spend Later'

Riset terbaru Populix bertajuk Consumer Confidence Index 2026 menunjukkan masyarakat cenderung mengadopsi pola pikir “Protect First, Spend Later” akibat meningkatnya tekanan biaya hidup, kekhawatiran lapangan kerja, hingga maraknya isu korupsi.

Senior Research Director Populix, Indah Tanip, memaparkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence Index/CCI) Populix 2026 berada di level 48,73 poin.

Angka ini terkoreksi 6,17 poin dibandingkan periode 2025 yang tercatat sebesar 54,90 poin.

“Konsumen tidak hanya kurang positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan, tetapi juga semakin waspada terhadap situasi keuangan pribadi serta kemampuan mereka mengelola pengeluaran di masa depan,” ujar Indah saat memaparkan hasil riset Populix di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 7 Oktober 2026.

Penurunan paling signifikan terlihat pada Indeks Persepsi Ekonomi Indonesia (Indonesia Economic Perception Index) yang merosot hingga 11,84 poin menjadi 43,96.

Sementara itu, Indeks Ekonomi Pribadi (Personal Economic Index) tercatat di level 50,04dan Indeks Kontrol Keuangan (Financial Control Index) berada di angka 52,77

Indah menjelaskan bahwa tekanan terbesar datang dari persepsi makroekonomi masyarakat yang terpengaruh oleh berbagai isu domestik.

Maraknya kasus korupsidan lonjakan harga barang pokokmenjadi dua isu utama yang paling mengkhawatirkan bagi responden, disusul oleh tingginya biaya hidupserta maraknya praktik judi online

Riset yang melibatkan 1.000 responden pada 10–15 Juli 2026 ini juga memperlihatkan bahwa kelompok perempuan serta segmen Upper SECjauh lebih sensitif dan pesimistis terhadap kondisi ekonomi saat ini dibandingkan kelompok pria maupun kelas menengah.

Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, masyarakat mulai memangkas prioritas belanja harian maupun barang sekunder.

Sebanyak 53 persen responden mengaku telah memangkas anggaran belanja kebutuhan harian, diikuti efisiensi biaya transportasi, serta tagihan listrik, gas, dan air

Pada kategori non-esensial, pemangkasan terbesar terjadi pada anggaran makan di luar atau pengiriman makanan, hiburan luar ruang seperti bioskop dan konser, liburan, serta belanja pakaian dan aksesori

Kondisi ini turut memengaruhi tingkat kesiapan dana darurat masyarakat. Riset mencatat hanya 15 persen konsumen yang merasa sangat siapmenghadapi pengeluaran mendadak dalam jumlah besar, seperti biaya medis atau perbaikan rumah.

Sebanyak 45 persen merasa cukup siap, sedangkan sisanya berada dalam kondisi tidak siap.

Meski dibayangi kehati-hatian pada kondisi saat ini, mayoritas konsumen masih menyimpan harapan positif terhadap prospek ekonomi dalam kurun waktu enam bulan mendatang.

Sebanyak 46 persen responden optimistis kondisi ekonomi Indonesia akan membaik pada semester II 2026. Optimisme ini ditopang oleh ekspektasi kestabilan harga barang pokok, pembukaan lapangan kerja baru, serta perbaikan kinerja pasar modal.

“Masyarakat berada dalam kondisi controlled concern—mereka tetap waspada secara finansial, namun masih memiliki daya dan kontrol untuk mengelola keuangan serta merencanakan pembelian besar seperti pendidikan, renovasi rumah, maupun barang elektronik ke depan,” kata Indah.

BI Catat Inflasi IHK September 2026 Naik ke 3,28 Persen

Secara tahunan, tingkat inflasi IHK merangkak naik ke posisi 3,28 persen dari realisasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,19 persen.

Meskipun terus dibayangi tekanan harga pangan bergejolak dan kenaikan biaya pendidikan, realisasi inflasi ini dinilai masih berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan otoritas moneter sebesar 2,5 plus minus 1 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa pencapaian ini tecermin dari koordinasi kebijakan yang kuat di tingkat pusat dan daerah.

Terjaganya laju inflasi nasional merupakan buah dari konsistensi kebijakan moneter BI yang terukur serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

Langkah terpadu ini menjadi kunci utama dalam mengamankan pasokan kebutuhan pokok masyarakat.

“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah dalam TPIP dan TPID.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam siaran pers dikutip, Minggu, 4 Oktober 2026.

Laju inflasi bulanan September 2026 sebesar 0,30 persen tercatat sedikit terakselerasi dibandingkan dengan inflasi Agustus 2026 yang sebesar 0,21 persenKenaikan tipis laju inflasi secara bulanan ini utamanya dipengaruhi oleh pergeseran pola konsumsi serta dinamika pasokan pangan di tingkat daerah.

Guna menjaga stabilitas harga, sinergi kebijakan moneter dan fiskal terus diperkuat secara berkesinambungan. BI memastikan bakal terus mengawal pergerakan harga komoditas utama agar tidak melampaui batas toleransi inflasi nasional.

Langkah antisipasi juga disiapkan untuk menghadapi berbagai risiko gejolak eksternal yang berpotensi memengaruhi laju inflasi domestik.

Meskipun inflasi umum masih berada dalam rentang target, kelompok harga bergejolakmencatatkan lonjakan yang cukup signifikan.

Pada September 2026, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,46 persen, melompat tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,88 persen

Secara tahunan, inflasi komponen pangan bergejolak melesat hingga 5,03 persen, meningkat tajam dari posisi Agustus 2026 sebesar 4,06 persen

Ramdan menjelaskan bahwa tekanan pada komponen bahan pangan bergejolak terutama dipicu oleh dinamika cuaca di wilayah sentra produksi.

Komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras menjadi penyumbang terbesar inflasi komponen ini.

Kenaikan harga terjadi seiring penurunan hasil panen di beberapa daerah akibat gangguan cuaca ekstrem serta lonjakan biaya input produksi di tingkat petani.

“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali, didukung oleh sinergi erat pengendalian inflasi Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera.

Langkah ini secara khusus disiapkan untuk mengantisipasi dampak gangguan cuaca ekstrem seperti El Nino terhadap harga bahan pangan,” kata Ramdan.

Di sisi lain, komponen inflasi intimencatatkan pergerakan yang relatif melandai dan terkendali. Inflasi inti pada September 2026 tercatat sebesar 0,10 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,21 persen

Terjaganya komponen inti ini dipengaruhi oleh konsistensi ekspektasi inflasi masyarakat di tengah gejolak harga komoditas global, dengan andil utama disumbang oleh biaya kuliah perguruan tinggi.

“Secara tahunan, inflasi inti pada September 2026 tercatat sebesar 2,84 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen.

Perkembangan inflasi inti secara tahunan ini antara lain banyak disumbang oleh komoditas emas perhiasan sejalan dengan kenaikan harga emas dunia,” tutur Ramdan.

Melandainya inflasi inti tahunan September ke level 2,84 persen sekaligus membalikkan arah tren Agustus 2026 yang sempat naik ke posisi 2,92 persendari Juli 2026 sebesar 2,76 persenPada Agustus, inflasi inti terdorong oleh lonjakan harga emas perhiasan seiring reli kenaikan harga emas global.

Pengendalian ekspektasi inflasi oleh Bank Indonesia terbukti efektif dalam menjaga stabilitas komponen harga inti dari dampak krisis eksternal.

Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintahpada September 2026 mencatatkan inflasi rendah mendekati 0 persenAngka ini sedikit berbalik dari realisasi Agustus 2026 yang mencatatkan deflasi sebesar 0,33 persenakibat penurunan tarif angkutan udara serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo.

Secara tahunan, inflasi administered prices September 2026 melandai ke 3,25 persendari Agustus sebesar 3,32 persen, dan BI optimistis sinergi lintas lembaga mampu menjaga daya beli masyarakat tetap aman hingga akhir tahun.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.