Menurut Dony, perbaikan kinerja BUMN yang dilakukan Danantara dalam setahun terakhir mulai menunjukkan hasil signifikan.
Target laba tersebut dinilai dapat menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia.
“Perbaikan BUMN kita menunjukkan result yang luar biasa. Saya expect 2026 kita bisa closing paling tidak Rp360 triliun net income. This is a huge number dari laba kita.
Saya cukup confidence paling tidak BUMN-BUMN konsolidasi BUMN kita tahun 2026 kita bisa untung Rp360 triliun,” ujar Dony dalam acara diskusi ‘Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran’ di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Dony menjelaskan, sebagian laba BUMN nantinya akan diberikan dalam bentuk dividen. Dana tersebut kemudian dapat diinvestasikan kembali untuk membiayai berbagai proyek strategis.
“Rp360 triliun ini menjadi engine of growth baru yang nanti kita re-invest. Kita berikan dalam bentuk dividen.
Kemudian ini yang tadi disampaikan oleh Pak Kiki, ini kita bisa melakukan multiplier-nya,” terangnya.
Menurut Dony, kemampuan tersebut dapat memperbesar kapasitas investasi melalui skema project financing.
“Paling tidak kalau kita melakukan project financing dalam project 30 persen equity kita bisa at least itu kalau kita lakukan hanya dengan satu artinya apa?
Kita tidak partnership kalau itu dilakukan sendiri oleh dan antara dengan model project financing dengan equity 30 persen kita bisa bayangkan berapa besar yang bisa kita investasikan ke depannya,” jelasnya.
Namun, Danantara tidak akan selalu membiayai proyek secara mandiri. Danantara juga akan menggandeng mitra untuk menanggung kebutuhan ekuitas dalam sebuah proyek.
“Tetapi kan satu project itu tidak hanya kita sendiri karena equity portionnya juga ada partner yang kita ajak dan lain sebagainya. Sehingga inilah yang diharapkan oleh pemerintah untuk menjadi pendorong,” jelasnya.
Minta INKA Bertransformasi
Di sisi lain, Dony menyoroti kebutuhan transformasi PT Industri Kereta Api atau INKA. Ia menilai INKA harus meningkatkan kualitas dan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan transportasi kereta api.
Transformasi tersebut dinilai penting untuk mendukung proses industrialisasi di Indonesia.
“Kita harus juga melihat bahwa dalam rangka menuju industrialisasi, INKA harus bertransformasi. Tidak bisa dengan kualitas yang tidak baik.
Makanya saya sudah memanggil direksi INKA, ke depannya INKA juga harus bertransformasi,” kata Dony.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan kebutuhan tambahan armada KRL Jabodetabek. Pemerintah mempertimbangkan penggunaan produk dalam negeri melalui INKA untuk memenuhi kebutuhan trainset.
Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan di tengah pengajuan impor trainset bekas dari Jepang.
“Seluruh perusahaan pemerintahan harus bertransformasi, tidak bisa lagi mereka eksis dengan kondisi seperti hari ini. Karena itu, INKA-nya harus bertransformasi,” ujarnya.
Dony juga berencana bertemu Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. Pertemuan tersebut akan membahas rencana PT Kereta Api Indonesiamengimpor KRL bekas Jepang.
Danantara mendukung penjajakan tersebut karena berkaitan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat.
“Pada dasarnya, tentu kita mendukung apapun yang dibutuhkan dalam langkah percepatan transportasi kita.
Karena memang kereta api menjadi salah satu transformasi publik yang diharapkan oleh pemerintah itu bisa menimbulkan banyak hal,” kata Dony.
Menurut Dony, transportasi publik yang berjalan baik dapat membantu mengurangi polusi udara. Penggunaan transportasi publik juga berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar minyak.
“Pada dasarnya kami tentu sangat mendukung, tinggal nanti kita bisadengan Direktur Utama PT KAI, berapa banyak yang dibutuhkan oleh KAI untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat kita,” ujar Dony.
KAI Ajukan Impor 23 Trainset KRL Bekas
Sebelumnya, PT KAI mengusulkan impor KRL bekas dari Jepang kepada Komisi VI DPR RI. Usulan tersebut disampaikan langsung Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin. Komisi VI DPR RI kemudian menyetujui rencana tersebut.
Bobby menyebut KAI membutuhkan tambahan 23 trainset untuk operasional KRL Jabodetabek. Tambahan armada tersebut rencananya dipenuhi melalui pengadaan KRL bekas dari Jepang.
Kebutuhan tersebut terbagi dalam dua jenis formasi kereta. Sebanyak tujuh trainset menggunakan formasi 12 kereta atau SF12.
Sementara itu, 16 trainset lainnya menggunakan formasi delapan kereta atau SF8.
Tambahan armada dibutuhkan karena jumlah pengguna KRL Jabodetabek terus mengalami lonjakan. Transformasi INKA menjadi salah satu perhatian Danantara untuk memenuhi kebutuhan transportasi tersebut.
Di sisi lain, pengadaan KRL bekas Jepang menjadi opsi untuk mempercepat penambahan armada. Pembahasan antara Danantara, KAI, dan Kementerian Perhubungan akan menentukan langkah selanjutnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.