Saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbkmenjadi emiten dengan koreksi terdalam, anjlok 33,59 persen dalam periode satu pekan.
Berdasarkan data pergerakan harga saham yang disusun berdasarkan kinerja sepekan, LUCY berada di posisi teratas daftar top losers.
Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sembilan saham lain yang masuk dalam daftar 10 saham dengan koreksi terdalam.
Di posisi kedua terdapat PT Era Media Sejahtera Tbkyang mencatat penurunan 26,23 persen dalam sepekan. Koreksi DOOH terpaut 7,36 poin persentase dari LUCY yang menjadi saham dengan penurunan terbesar.
Selanjutnya, PT Inter Delta Tbkberada di posisi ketiga dengan penurunan harga 22,68 persen. Dengan koreksi tersebut, INTD menjadi saham ketiga dalam daftar yang mengalami penurunan lebih dari 20 persen selama satu pekan.
PT Perintis Triniti Properti Tbkmenyusul di posisi keempat. Saham TRIN tercatat turun 21,54 persen dalam periode satu pekan berdasarkan data top losers.
Di posisi kelima, PT Solusi Environment Asia Tbkmengalami penurunan 19,08 persen. Koreksi tersebut membuat SOFA menjadi saham berikutnya yang mencatat penurunan mendekati 20 persen dalam daftar 10 saham dengan kinerja mingguan terendah.
Sementara itu, PT Sona Topas Tourism Industry Tbkberada di posisi keenam. Harga saham SONA tercatat turun 18,35 persen dalam sepekan.
Posisi ketujuh ditempati PT Acset Indonusa Tbkdengan penurunan 17,78 persen. Dengan demikian, ACST mencatat koreksi lebih besar dibandingkan tiga saham yang berada di bawahnya dalam daftar top losers.
Berikutnya, PT DMS Propertindo Tbkmencatat penurunan 16,88 persen sepanjang satu pekan. KOTA menempati posisi kedelapan dari 10 saham dengan penurunan harga terbesar.
PT Pakuan Tbkberada di posisi kesembilan dengan koreksi 16,53 persen. Penurunan tersebut hanya terpaut 0,35 poin persentase dari KOTA.
Melengkapi daftar 10 besar, PT J.A. Wattie Tbkmencatat penurunan 15,34 persen dalam periode satu pekan.
JAWA menjadi saham dengan koreksi paling kecil di antara 10 emiten yang masuk daftar top losers tersebut.
Jika diurutkan berdasarkan besarnya penurunan, seluruh saham dalam daftar tersebut mencatat koreksi lebih dari 15 persen selama satu pekan.
LUCY menjadi satu-satunya saham yang mengalami penurunan lebih dari 30 persen, sedangkan DOOH dan INTD masing-masing terkoreksi lebih dari 20 persen.
Secara keseluruhan, terdapat selisih 18,25 poin persentase antara saham dengan penurunan terdalam dan saham yang berada di posisi ke-10. LUCY mencatat koreksi 33,59 persen, sementara JAWA turun 15,34 persen dalam periode yang sama.
Setelah LUCY dan DOOH, koreksi terbesar berikutnya tercatat pada INTD sebesar 22,68 persen dan TRIN sebesar 21,54 persen. Empat saham tersebut menjadi kelompok dengan penurunan di atas 20 persen dalam daftar top losers.
Sementara enam saham lainnya mencatat penurunan pada rentang 15,34 persen hingga 19,08 persen. Kelompok tersebut terdiri atas SOFA, SONA, ACST, KOTA, UANG, dan JAWA.
Data tersebut menunjukkan daftar top losers dalam periode satu pekan didominasi saham dengan koreksi dua digit. Dari 10 saham yang tercatat, seluruhnya mengalami penurunan minimal 15,34 persen.
Adapun posisi masing-masing saham dalam daftar berdasarkan penurunan harga satu pekan adalah LUCY sebesar 33,59 persen, DOOH 26,23 persen, INTD 22,68 persen, TRIN 21,54 persen, SOFA 19,08 persen, SONA 18,35 persen, ACST 17,78 persen, KOTA 16,88 persen, UANG 16,53 persen, dan JAWA 15,34 persen.
IHSG Terkoreksi Sepanjang Pekan Kemarin
Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup pada level 6.093,76 pada Jumat, 9 Oktober 2026, turun dari posisi 6.118,86 pada penutupan Senin, 5 Oktober 2026.
IHSG memang sempat menguat pada dua sesi awal pekan. Pada Senin, indeks naik 1,36 persen menjadi 6.118,86, kemudian kembali menguat 1,21 persen pada Selasa ke level 6.192,93.
Namun, penguatan tersebut berbalik pada dua sesi berikutnya. IHSG terkoreksi 0,75 persen pada Rabu menjadi 6.146,72 dan kembali turun 1,88 persen pada Kamis ke level 6.031,28.
Indeks kemudian rebound pada perdagangan Jumat dengan kenaikan 1,04 persen. IHSG bergerak dari level pembukaan 6.039,01 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.100,58 sebelum ditutup di 6.093,76.
Aktivitas perdagangan selama lima sesi juga cukup besar. Nilai transaksi saham sepanjang periode tersebut mencapai sekitar Rp49,01 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 2,17 miliar saham dan frekuensi sekitar 8,42 juta transaksi.
Nilai transaksi harian tertinggi tercatat pada Kamis, 8 Oktober 2026, mencapai Rp11,32 triliun.
Pada hari yang sama, volume perdagangan mencapai 569,15 juta saham dengan frekuensi 1,94 juta transaksi ketika IHSG mengalami tekanan paling besar sepanjang pekan.
Dari sisi investor asing, tekanan jual masih membayangi pasar saham domestik. Akumulasi net foreign sell selama lima sesi mencapai sekitar Rp2,54 triliun, berdasarkan data arus dana asing pada periode tersebut.
Tekanan asing terbesar terjadi pada Kamis, dengan net foreign sell mencapai Rp848,28 miliar. Sehari sebelumnya, investor asing juga mencatat net sell Rp828,65 miliar.
Tekanan tersebut kemudian menyusut pada perdagangan Jumat.
Net foreign sell tercatat Rp141,50 miliar ketika IHSG berbalik menguat 1,04 persen, dengan nilai transaksi Rp8,58 triliun, volume 356,12 juta saham, dan frekuensi 1,42 juta transaksi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.