Bahkan peningkatan harga terjadi di pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terkait gencatan senjata Rusia-Ukraina terkait target energi.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik 1,8 persen menjadi USD106,65 per barel, tertinggi sejak 15 September 2026.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup pada level USD93,74 per barel, atau meningkat sekitar 2 persen.
Masih dihimpun dari Reuters, kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan hari Sabtu di bandara internasional Riyadh yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Serangan lebih lanjut terjadi pada hari Minggu , memperkuat konflik yang dapat semakin menghambat pasokan minyak mentah dari salah satu produsen terbesar di dunia.
Investor dan analis Louis Navellier dalam sebuah catatan menyebut, serangan rudal Houthi terhadap bandara Riyadh di Arab Saudi akan meningkatkan pembalasan terhadap mereka di Yaman.
“Saat ini, kilang-kilang minyak Arab Saudi beroperasi, tetapi lima di antaranya ditutup sementara ketika jalur pipa ke Laut Merah ditutup setelah serangan rudal,” ujar dia.
Selama bulan Oktober, dilaporkan lebih banyak kapal tanker yang mengalami serangan di Selat Hormuz. Hal ini pun mengancam pemulihan ekspor minyak mentah Timur Tengah yang terlihat pada bulan lalu.
Sebagai contoh, Sebuah kapal tanker dihantam oleh drone di sekitar Sohar, Oman, sementara kapal tanker lainnya rusak saat melintasi Hormuz, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations.
“Rasa normalitas ekspor dari Selat Hormuz hancur pekan lalu. Serangan baru oleh Houthi terhadap Arab Saudi menambah hal ini dan membantu menaikkan harga,” kata analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop.
“Pilihan sulit mengenai apa yang harus dipertahankan akan semakin sering harus dibuat: infrastruktur minyak, instalasi militer, istana kerajaan, bandara sipil, atau lainnya.” tambah dia.
Dalam sebuah catatan dikutip dari Reuters, Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga Brent untuk bulan Desember 2026 menjadi USD90 per barel dari sebelumnya USD85, dengan memperkirakan premi risiko sedikit di atas USD20 per barel.
Mereka menambahkan, harga WTI kemungkinan akan tetap rendah dibandingkan dengan Brent karena tingginya biaya pengiriman AS-Eropa dan rata-rata USD81 pada Desember 2026 dan USD73 pada tahun 2027.
Di Teluk Meksiko , perusahaan energi besar Shell, Chevron, BP, serta perusahaan lainnya berupaya memindahkan personel dan memulihkan produksi di anjungan mereka setelah Badai Isaias menghantam daratan pada Sabtu pagi.
Lebih Banyak Solar Rusia
Di sisi lain, harga gasoil berjangka ICE menyusut 2,3 persen ke level USD1.449 per metrik ton setelah Trump mengatakan bahwa Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 metrik tondiesel ke pasar AS dan global, dan akan ada lebih banyak lagi yang menyusul kemudian.
“Rilis ini akan berkembang secara bertahap sepanjang sisa tahun ini dan jumlah yang diharapkan selama bulan mendatang tampaknya tidak mampu memberikan tekanan penurunan harga tambahan yang signifikan,” kata analis Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates di Florida.
Ia juga mencatat bahwa dirinya tidak mengharapkan penurunan harga yang signifikan pada saat pemilihan paruh waktu AS berlangsung tiga minggu lagi.
Sementara itu analis PVM, Tamas Varga mengatakan dampak langsung dari kesepakatan tersebut masih diragukan, karena kapasitas penyulingan Rusia telah berkurang drastis.
“Namun, Moskow telah mencabut sebagian larangan ekspor diesel, memungkinkan 500.000 ton (sekitar 3,7 juta barel) untuk dilepas ke pasar internasional — setara dengan konsumsi AS selama kurang lebih satu hari dan sekitar 13% dari permintaan global.” ungkapnya.
Trump juga secara tak terduga mengumumkan l bahwa Ukraina dan Rusia telah menyetujui gencatan senjata yang mencakup infrastruktur energi.
Namun Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy menuduh Rusia melanggar gencatan senjata energi pada hari Senin, sementara Rusia tidak memberikan komentar.
EIA Naikkan Proyeksi Harga Brent ke USD105
Sebelumnya diberitakan, Energy Information Administrationmenaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk kuartal IV 2026 menjadi sekitar USD105 per barel.
Melansir Reuters, 6 Oktober 2026, EIA menaikkan proyeksi tersebut karena persediaan minyak global menyusut dengan cepat, sementara pasar diesel masih mengalami tekanan pasokan.
Kondisi tersebut membuat harga minyak diperkirakan tetap tinggi meski aliran minyak dari Timur Tengah mulai pulih.
Untuk keseluruhan 2026, EIA memperkirakan harga Brent rata-rata berada di sekitar USD98 per barel. Proyeksi tersebut naik 8 persen dibandingkan perkiraan EIA pada bulan sebelumnya.
EIA menilai penurunan persediaan global dan ketatnya pasar diesel menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi.
“Meski kami memperkirakan arus minyak dari Timur Tengah akan tetap terbatas hingga kuartal IV 2026, kami memperkirakan produksi minyak regional yang dihentikan pada September merupakan yang terendah sejak dimulainya konflik,” kata EIA dalam laporan bulanannya, dikutip Reuters, Selasa, 6 Oktober 2026.
EIA juga memperkirakan harga diesel eceran di Amerika Serikat tetap berada di atas USD6 per galon sepanjang Oktober sebelum secara bertahap turun hingga rata-rata sekitar USD4,50 per galon pada 2027.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.