Emiten ritel perlengkapan rumah tangga ini membukukan penjualan sebesar Rp719 miliar, naik tipis 1,7 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Secara kumulatif, total penjualan Januari–Agustus 2025 mencapai Rp5,7 triliun, atau tumbuh 3,3 persen secara tahunan.
Menurut Abyan, manajemen tetap berhati-hati dan mengandalkan strategi promosi serta ekspansi gerai guna menopang kinerja paruh kedua tahun. Meski demikian, indikator same store sales growthjustru melemah.
Pada Agustus, SSSG tercatat turun 4,1 persen YoY, sementara sepanjang Januari–Agustus terkoreksi 3,0 persen.
Penurunan terdalam terjadi di wilayah Jakartadan Jawa di luar Jakarta, sedangkan kawasan luar Jawa lebih tertahan dengan penurunan hanya 1,8 persen.
Gangguan akibat kerusuhan akhir Agustus memang sempat menekan penjualan, namun Abyan menilai pelemahan lebih disebabkan oleh efek basis tinggi tahun lalu serta lemahnya belanja diskresioner.
Akibatnya, produktivitas toko baru berjalan lebih lambat dari ekspektasi.
Mirae Asset kemudian menyesuaikan proyeksi pertumbuhan laba per sahamACES untuk tahun buku 2025/2026 masing-masing menjadi -2,7 persen dan -13,3 persen.
Meski begitu, target harga saham tetap dipertahankan di Rp550 per saham, dengan valuasi 12,5 kali P/E.
“Kami mengubah rekomendasi menjadi BUY setelah sebelumnya terjadi aksi jual akibat volatilitas pasar.
Dengan sebagian besar risiko negatif telah tercermin, potensi kenaikan harga saham ACES ke depan kami nilai masih terbuka lebar,” pungkas Abyan.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.