Koreksi terhadap laba bersih ini terjadi justru saat ARNA mencatat penjualan bersih sebesar Rp2,91 triliun pada 2025, meningkat 10,7 persen secara tahunandibandingkan Rp2,63 triliun di 2024.
Yang menjadi penekan Arwana gagal memperoleh keuntungan adalah lonjakan beban pokok penjualan. Beban ini naik 17,5 persen menjadi Rp2,03 triliun dari tahun sebelumnya Rp1,73 triliun.
Selain itu, beban kurs turut menekan kinerja, melonjak menjadi Rp5,49 miliar.
Oleh karena itu, laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp400,47 miliar menurun 5,5 persen yoy dibandingkan Rp425,97 miliar.
Meski begitu, ARNA masih mencatat ekuitas yang solid. Total ekuitas naik 3 persen yoy menjadi Rp1,93 triliun dari Rp1,87 triliun, didukung saldo laba yang meningkat menjadi Rp1,98 triliun.
Dari sisi aset, Arwana Citramulia membukukan pertumbuhan 8,4 persen yoy menjadi Rp2,88 triliun pada 2025, dibandingkan Rp2,66 triliun pada 2024.
Kenaikan terutama ditopang oleh peningkatan aset tetap yang mencapai Rp1,39 triliun dari Rp1,10 triliun.
Liabilitas perusahaan juga meningkat, dengan total kewajiban mencapai Rp949,18 miliar pada 2025, naik 21,1 persen yoy dari Rp783,82 miliar pada 2024.
Lonjakan ini terutama berasal dari utang jangka panjang yang sebelumnya nihil, kini tercatat Rp125,43 miliar.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.