Kenaikan harga terdorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global setelah pasukan militer Amerika Serikatmenggempur dua fasilitas peluncur roket milik Iran di Pulau Larak pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November yang menjadi acuan internasional melesat 1,54 persen ke level USD89,46 per barel.
Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas IntermediateAS untuk pengiriman Oktober menguat 1,44 persen ke posisi USD84,60 per barel.
Juru Bicara Komando Pusat AS, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, membenarkan aksi serangan militer yang melanda wilayah perairan strategis tersebut.
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa pasukan AS menyerang dua fasilitas peluncur roket Iran di Pulau Larak.
Pasukan Garda Revolusi Islam terlihat bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz,” ujar Tim Hawkins dalam keterangan resminya.
Berdasarkan laporan Associated Press, serangan pada Minggu pekan kemarin menjadi aksi militer AS pertama yang diakui secara terbuka terhadap posisi Iran sejak akhir Juli.
Garda Revolusi Islam Iran mengonfirmasi bahwa serangan AS di Pulau Larak menewaskan dan melukai beberapa prajurit Iran.
Berdasarkan laporan media lokal Iran, pihak militer Iran telah membalas lewat serangan balasan ke basis-basis militer AS yang berada di Yordania.
Bagaimana Eskalasi Konflik Selat Hormuz Memicu Krisis Pasokan?
Lalu lintas pelayaran kapal tanker melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman energi global terganggu parah akibat konflik Timur Tengah yang telah memasuki bulan keenam.
Pengetatan keamanan di jalur perairan tersebut berisiko menghambat kelancaran pasokan minyak dunia.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai eskalasi militer tersebut meretakkan stabilitas keamanan pasokan minyak dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat persediaan minyak dunia kian menipis.
“Risiko pasokan akan terus bertahan dan persediaan minyak akan terus menyusut dalam beberapa pekan dan bulan mendatang. Krisis Iran kemungkinan besar telah mengubah status quo keamanan di Timur Tengah,” kata Tamas Varga.
Di sisi lain, perbankan investasi Goldman Sachs mencatat ketegangan geopolitik yang meluas turut memperketat kapasitas kilang minyak dunia. Tekanan pasokan juga diperparah oleh gangguan operasional di sejumlah kilang utama.
“Meningkatnya serangan terhadap kilang-kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia semakin memperketat kapasitas pengilangan global yang sudah terbatas, sehingga mendorong marjin produk hasil olahan minyak ke rekor tertinggi baru,” ungkap Goldman Sachs dalam catatan risetnya.
Rangkaian Sentimen Global Menekan Bursa Asia dan Wall Street
Eskalasi konflik militer di Selat Hormuz tidak hanya memicu lonjakan harga minyak mentah, tetapi juga membanting bursa saham kawasan Asia-Pasifik secara masif.
Pelemahan pasar saham dipimpin oleh bursa Korea Selatan akibat kekhawatiran geopolitik yang meluas.
Indeks acuan Kospi Korea Selatan meluncur 3,50 persen, sementara indeks berkapitalisasi kecil Kosdaq merosot sebesar 3,80 persen pada pembukaan perdagangan.
Bursa saham Jepang turut memerah dengan penurunan indeks Nikkei 225 sebesar 2,16 persen dan Topix terkikis 0,95 persen. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 ikut melemah 0,27 persen.
Sebelum pembukaan perdagangan reguler, pergerakan kontrak berjangkamemang telah mengindikasikan sinyal koreksi di sejumlah bursa utama Asia. Kontrak futures indeks Nikkei 225 di Chicago dan Osaka berada di bawah level penutupan sebelumnya.
Kepanikan pasar juga merembet ke pasar modal Amerika Serikat. Kontrak berjangkaindeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq-100 terpantau bergerak melandai tipis di tengah sikap kehati-hatian investor.
Pergerakan datar futures AS terjadi saat Wall Street bersiap menutup bulan Agustus yang sempat ditopang lonjakan saham teknologi berbasis kecerdasan buatanNamun, ketegangan geopolitik baru ini menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar.
Kondisi tersebut memperberat tekanan di Wall Street yang sebelumnya sudah terbayangi pidato hawkish Ketua The Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole.
Warsh menegaskan bahwa inflasi inti yang masih di atas target menuntut kewaspadaan bank sentral.
Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS pada September melonjak drastis hingga 57,5 persen berdasarkan data CME FedWatch Tool. Lonjakan ekspektasi tersebut kian menahan minat pemodal pada aset berisiko.
Kombinasi antara ancaman krisis energi di Selat Hormuz dan pengetatan moneter The Fed diproyeksikan bakal memicu volatilitas tinggi pada arus modal asingdi pasar negara berkembang.
Investor diimbau mencermati rilis data tenaga kerja AS pekan ini untuk membaca arah pasar selanjutnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.