IHSG menguat 21,23 poin atau 0,35 persen ke level 6.052,51, sementara nilai penjualan asing masih lebih besar dibandingkan pembeliannya.
Berdasarkan data perdagangan hingga sesi I, investor asing membukukan pembelian sekitar Rp1,20 triliun dan penjualan Rp1,24 triliun. Dengan demikian, posisi net foreign sell tercatat Rp32,05 miliar.
Jika dibandingkan dengan total transaksi asing, selisih tersebut relatif kecil.
Nilai transaksi beli dan jual asing mencapai sekitar Rp2,44 triliun, sehingga net sell Rp32,05 miliar hanya mencerminkan sebagian kecil dari keseluruhan aktivitas transaksi asing pada sesi I.
Namun, tekanan tersebut belum cukup untuk menyeret IHSG ke zona merah. Pergerakan indeks justru menunjukkan bahwa tekanan jual asing tidak terjadi secara merata di seluruh saham, melainkan diimbangi pembelian pada sejumlah emiten lain.
Salah satu pola yang terlihat berasal dari pergerakan saham dengan nilai net foreign buy terbesar.
Saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbkmenjadi yang paling banyak dibeli asing dengan nilai Rp15,94 miliar, disusul CUAN sebesar Rp12,80 miliar dan ARCI Rp9,52 miliar.
Selanjutnya, BBCA mencatat net foreign buy Rp9,11 miliar dan EMAS Rp8,96 miliar. Di bawahnya terdapat INET Rp6,62 miliar, TPIA Rp6,48 miliar, ISAT Rp6,33 miliar, GGRM Rp5,64 miliar, serta ERAA Rp5,34 miliar.
Pola pembelian tersebut menunjukkan bahwa di tengah net sell secara keseluruhan, sebagian saham tetap memperoleh aliran dana asing.
Selain lima besar, asing juga mencatat net buy pada ADMR Rp4,86 miliar, MDKA Rp4,53 miliar, KLBF Rp4,21 miliar, ADRO Rp4,19 miliar, dan PTRO Rp4,07 miliar.
Sementara itu, tekanan jual asing paling besar terkonsentrasi pada sejumlah saham. GOTO menjadi saham dengan net foreign sell terbesar, yakni Rp27,91 miliar, diikuti BUMI Rp21,98 miliar dan BBRI Rp20,63 miliar.
Tekanan berikutnya terlihat pada PACK dengan net sell asing Rp15,34 miliar dan ITMG Rp11,19 miliar. Kemudian ANTM mencatat net foreign sell Rp7,28 miliar, DEWA Rp7,03 miliar, INCO Rp6,76 miliar, TOWR Rp6,74 miliar, serta TEBE Rp6,48 miliar.
Komposisi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan arah arus dana pada masing-masing saham.
Dengan kata lain, net sell asing pada level pasar tidak serta-merta berarti seluruh saham mengalami tekanan jual, karena pada saat yang sama terdapat akumulasi pada saham-saham tertentu.
Hal ini juga terlihat dari posisi sejumlah saham yang masuk daftar net foreign buy.
Selain SINI dan CUAN, aliran dana asing masih masuk ke BBCA, TPIA, ISAT, ADMR, MDKA, ADRO, hingga PTRO, sementara tekanan jual lebih besar terjadi pada GOTO, BUMI, BBRI, dan sejumlah saham lainnya.
Di sisi pergerakan indeks, IHSG tercatat dibuka pada level 6.039,01. Indeks kemudian bergerak dalam rentang 5.995,82 hingga 6.059,54 sebelum berada di level 6.052,51 pada sesi I.
Pergerakan tersebut membuat IHSG masih mampu bertahan di atas level pembukaan meski sempat turun ke bawah 6.000. Posisi tersebut juga menunjukkan adanya respons beli setelah indeks mengalami tekanan pada awal perdagangan.
Dari sisi aktivitas transaksi, perdagangan hingga sesi I mencatat volume sekitar 177,49 juta lot dengan nilai transaksi Rp4.084,13 miliar.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas pasar yang tetap cukup ramai di tengah perbedaan arah antara pergerakan IHSG dan arus dana asing.
Aktivitas broker juga memperlihatkan nilai transaksi yang cukup besar pada sejumlah perusahaan sekuritas.
Stockbit Sekuritas Digital dengan kode broker XL berada di posisi teratas dengan nilai transaksi Rp1,33 triliun, diikuti UBS Sekuritas IndonesiaRp944,0 miliar dan Mandiri SekuritasRp868,3 miliar.
Meski demikian, nilai transaksi broker tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan arah akumulasi atau distribusi masing-masing broker karena data yang tersedia merupakan total transaction value.
Untuk membaca kecenderungan beli atau jual broker, diperlukan data net buy dan net sell per kode broker.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada sesi I Jumat ini berlangsung ketika asing masih mencatat net sell Rp32,05 miliar.
Arus dana yang berbeda antar saham menjadi faktor penting yang terlihat dari data perdagangan, dengan pembelian asing pada SINI, CUAN, ARCI, BBCA, dan EMAS berhadapan dengan tekanan jual pada GOTO, BUMI, BBRI, PACK, dan ITMG.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.