Perseroan menyampaikan, bisnis Astra Otoparts tidak hanya pada komponen kendaraan saja.
Anak usaha PT Astra International Tbkini juga berupaya memperluas pasar ekspor, memperkuat jaringan perdagangan, menyiapkan kapabilitas elektrifikasi, hingga memanfaatkan kemampuan engineering dan manufaktur untuk masuk ke sektor di luar otomotif.
Soal capaian, Astra Otoparts mencatatkan pendapatan bersih sekitar Rp10,85 triliun pada semester I 2026, tumbuh 13,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan AUTO ditopang oleh bisnis manufaktur dan perdagangan yang tetap menjadi fondasi utama perusahaan.
Sedangkan laba bersih pada periode tersebut tercatat sebesar Rp1,2 triliun atau tumbuh 22,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Direktur PT Astra Otoparts Tbk, Sophie Handili mengatakan, perseroan saat ini melayani hampir seluruh brand original equipment manufacturermelalui segmen manufaktur.
Astra Otoparts juga menjalin kemitraan dengan berbagai mitra global dari Jepang, China, Taiwan, hingga mitra lokal Indonesia.
“Di segmen Manufacturing, kami melayani hampir semua brand OEM. Kami juga berpartner dengan berbagai mitra global.
Selain dengan Jepang, mitra kami ada juga dengan China, dengan Taiwan, tentu saja juga dengan mitra lokal di Indonesia,” kata Sophie kepada media di Jakarta, Kamis, 24 September 2026.
Sejauh ini, Astra Otoparts memiliki lebih dari 50 perusahaan atau fasilitas manufaktur yang menopang bisnis komponen.
Perseroan juga memiliki dua pusat penelitian dan pengembanganuntuk mengembangkan proses, produk, serta mendukung penerapan industri 4.0.
Bagaimana Strategi AUTO Perluas Bisnis?
Dari sisi pendapatan, manufaktur masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 51 persen terhadap total pendapatan. Sementara segmen perdagangan menyumbang sekitar 49 persen.
Komposisi tersebut dinilai menunjukkan kemampuan bisnis Astra Otoparts yang dapat bertumpu pada produksi komponen serta distribusi dan perdagangan produk aftermarket.
Pada bisnis perdagangan domestik, perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 16,2 persen pada semester I 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang permintaan pasar aftermarket serta jaringan distribusi dan ritel yang luas.
Hingga Juni-Juli 2026, jaringan ritel Astra Otoparts telah mencapai 667 gerai di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan tersebut melayani kendaraan roda dua dan roda empat melalui berbagai kanal, termasuk Shop and Drive.
Di samping itu, Astra Otoparts juga berupaya meningkatkan layanan ritelnya termasuk jasa perbaikan kendaraan di rumah pelanggan.
“Kami juga terus memperkuat modern retail dan service at home kami untuk berinteraksi langsung dengan customer,” ucap Sophie.
Lebih lanjut, Astra Otoparts ingin terus memperluas sumber pertumbuhan melalui pasar ekspor.
Produk aftermarket perseroan saat ini telah dipasarkan ke lebih dari 50 negara yang tersebar di Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan.
Sementara dari sisi digitalisasi, perseroan mengembangkan Astra Auto Shop sebagai kanal omnichannel yang menghubungkan pembelian digital dengan layanan dan jaringan perdagangan.
Perubahan teknologi kendaraan juga menjadi perhatian Astra Otoparts. Perseroan mulai memperkuat kapabilitas untuk kendaraan elektrifikasi dengan mengembangkan berbagai komponen kendaraan hybrid maupun kendaraan listrik berbasis baterai.
“Kami terus membangun kapabilitas kami di bidang elektrifikasi, sekaligus mengembangkan berbagai komponen untuk kendaraan hybrid maupun BEV,” kata Sophie.
Mengapa AUTO Mulai Garap Ekspor, Kendaraan Listrik hingga Alat Kesehatan?
Selain komponen, Astra Otoparts masuk ke sisi infrastruktur pengisian daya melalui produk EV charger bermerek Altro dan pengelolaan jaringan charging station Astra Otopower.
Sampai Juni 2026, jaringan Astra Otopower disebutkan telah mencapai 70 charging station, termasuk kolaborasi dengan pihak PLN dalam pengembangan pole multi charger.
Di luar otomotif, Astra Otoparts mulai mengembangkan diversifikasi bisnisnya dengan memanfaatkan kapabilitas engineering dan manufaktur yang telah dimiliki.
Salah satunya melalui bisnis medical devices atau alat kesehatan yang mencakup berbagai perangkat, mulai dari public equipment hingga patient care equipment.
Produk alat kesehatan tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 7.000 pusat kesehatan dan 70 rumah sakit.
Perseroan juga memanfaatkan kemampuan manufakturnya untuk mengembangkan produk baterai, lighting, chain, rubber components, serta berbagai komponen pendukung lainnya.
“Bagi kami, diversifikasi ini bukan berarti mengurangi fokus pada bisnis otomotif, tetapi memperluas pemanfaatan kapabilitas kami untuk memperluas pertumbuhan,” ujar Sophie.
Melalui struktur bisnis tersebut, Astra Otoparts dapat mempertahankan manufaktur dan perdagangan komponen otomotif sebagai bisnis inti sembari membuka peluang sumber pertumbuhan melalui ekspor, elektrifikasi, kanal digital, dan diversifikasi.
Perseroan juga menyiapkan kapabilitas engineering, manufaktur, serta sumber daya manusia untuk menghadapi perubahan teknologi kendaraan dan perkembangan industri di masa depan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.