Hal tersebut sejalan dengan penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang menjadi salah satu fokus Pemerintah dalam menjaga keseimbangan devisa nasional.
Indonesia sebagai negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia, yakni lebih dari dua ratus ribu jamaah haji per tahun serta sekitar dua juta jamaah umrah per tahun, memiliki potensi ekosistem ekonomi tahunan yang sangat besar.
Potensi tersebut mencakup berbagai layanan seperti perhotelan, transportasi, logistik, konsumsi, dan layanan pendukung lainnya, sehingga Indonesia diharapkan mampu mengambil posisi strategis dalam rantai nilai ekonomi tersebut sekaligus memastikan perputaran uang juga terjadi di dalam negeri.
Inisiasi perdana pengiriman pada tahap pertama ini akan mengirimkan sebanyak 100 ton bumbu pasta dan makanan RTE. Pengiriman dilakukan secara bertahap mulai hari ini, 2 April 2026 hingga 6 April 2026.
Tahap berikutnya sebanyak 130 ton sedang dijadwalkan dalam rentang waktu 17 hingga 29 April 2026.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan mengatakan momentum sinergi Kementerian/Lembaga dan BUMN dalam pengiriman logistik haji yang dimulai tahun 2026 ini baru step awal,
“Ke depan akan lebih dioptimalkan untuk beberapa potensi kolaborasi lainnya seperti pengiriman oleh-oleh haji dan umrah serta pengiriman makanan untuk kebutuhan jamaah umrah sepanjang tahun yang tentunya akan berdampak langsung dalam menahan pelebaran defisit neraca jasa nasional dan pertumbuhan ekonomi,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis, 2 April 2026.
Adapun data neraca pembayaran Indonesia mencatat defisit neraca jasa tahun 2025 sebesar USD19,8 miliar, dengan jasa transportasi sebagai kontributor terbesar.
Sebagian dari defisit jasa transportasi tersebut bersumber dari pengeluaran jamaah yang memanfaatkan berbagai layanan logistik dan konsumsi dari penyedia asing.
Semakin besar porsi layanan logistik, konsumsi, dan transportasi haji yang dapat dipenuhi oleh penyedia nasional, semakin besar pula potensi penghematan devisa yang dapat diraih.