Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineralmeminta seluruh pemangku kepentingan segera memperkuat pasokan minyak sawit mentah atau crude palm oildi sektor hulu agar tidak mengganggu kebutuhan pangan maupun ekspor.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot, mengungkapkan bahwa arahan peningkatan porsi bahan bakar nabati ini datang langsung dari Presiden usai peluncuran program B50.
“Tadi juga sudah disampaikan saat ini kita sudah mengimplementasikan B50, dan Bapak Presiden waktu kita meluncurkan B50 beliau sudah menyampaikan tahun depan sudah diimplementasikan B60,” ujar Yuliot dalam forum Indonesia EBTKE ConEx 2026, dikutip Kamis, 3 September 2026.
Yuliot menegaskan, lonjakan kebutuhan CPO untuk B60 membutuhkan konsolidasi ketat antara sektor pertanian, perkebunan, dan industri pengolahan bahan bakar.
Pemerintah menuntut adanya peningkatan produktivitas serta penambahan luas tanam agar ketersediaan bahan baku CPO terjamin secara berkelanjutan.
“Berarti kalau ini ketersediaan untuk sumber bahan bakunya, kita juga harus konsolidasikan bagaimana di hulu ketersediaan CPO-nya mencukupi. Berarti ini juga ada tambahan penanaman atau peningkatan produktivitas di hulunya,” tegas Yuliot.
Langkah tak kalah krusial terletak pada penyiapan kapasitas pabrik pengolahan Fatty Acid Methyl Esterdi dalam negeri.
Kapasitas produksi industri FAME nasional harus digenjot untuk mengimbangi skala mandatory B60, baik untuk sektor penerimaan publik (Public Service Obligation) maupun non-PSO.
“Kemudian kita juga harus meningkatkan industri FAME-nya. Dari industri FAME kita juga akan implementasi B60 baik itu mandatory PSO dan non-PSO.
Tentu ini kita juga harus lakukan evaluasi kesiapan secara keseluruhan,” bebernya.
Apakah Pasokan CPO dan FAME Siap Menopang B60?
Kesiapan ini penting karena peningkatan kadar biodiesel akan memperbesar kebutuhan bahan baku sekaligus menuntut penyesuaian kapasitas produksi dan distribusi.
Pemerintah perlu memastikan rantai pasok berjalan efisien dari perkebunan hingga fasilitas pengolahan agar implementasi B60 tidak memicu gangguan pasokan energi nasional.
Pengembangan B60 juga merupakan bagian dari arah kebijakan biodiesel yang sebelumnya telah disiapkan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak impor.
Dalam kebijakan jangka panjang, pemerintah bahkan telah membuka peluang peningkatan bauran biodiesel hingga B100 dengan pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku.
Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa teknologi yang tersedia memungkinkan Indonesia mengembangkan biodiesel dengan campuran minyak sawit yang lebih tinggi.
Pengembangan tersebut dinilai dapat memperkuat upaya mencapai swasembada energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Namun, peningkatan mandatori biodiesel juga menghadapi sejumlah tantangan.
Rektor IPB Arif Satria sebelumnya menyoroti kebutuhan infrastruktur, ketersediaan bahan baku, serta potensi persaingan penggunaan minyak sawit untuk kebutuhan energi dan pangan.
Tantangan tersebut menjadi semakin penting ketika porsi biodiesel terus ditingkatkan.
Dengan demikian, kesiapan pasokan CPO dan kapasitas pengolahan FAME menjadi faktor penting agar peningkatan mandatori tidak menimbulkan tekanan terhadap kebutuhan sawit untuk sektor lain.
Seberapa Besar Dampak B60 bagi Ketahanan Energi dan APBN?
Akselerasi B60 diposisikan sebagai perisai utama Indonesia dari ancaman gejolak harga minyak mentah dunia akibat dinamika geopolitik global.
Kementerian ESDM mengalkulasi bahwa lonjakan harga energi fosil berpotensi membengkakkan beban APBN hingga ratusan triliun rupiah jika tidak diredam oleh bahan bakar nabati.
“Dampak geopolitik ini terjadinya gangguan rantai pasok ketersediaan energi secara global, seperti konflik Amerika dengan Iran serta Ukraina dengan Rusia yang belum berhenti.
Kalau kita tidak antisipasi dengan ketersediaan EBT, konsekuensinya peningkatan kompensasi dan subsidi dari Rp400 triliun bisa meningkat sekitar Rp300 triliun,” urai Yuliot.
Pembengkakan subsidi energi sebesar Rp300 triliun tersebut dipastikan akan memicu defisit pembiayaan APBN 2026 secara signifikan.
Oleh karena itu, kemandirian energi berbasis minyak sawit menjadi jalan keluar strategis untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional dari ancaman krisis.
Pengembangan B60 juga merupakan bagian terintegrasi dari program hilirisasi sektor perkebunan yang ditargetkan memberi kontribusi besar bagi perekonomian nasional.
Pemerintah memproyeksikan total investasi hilirisasi di berbagai sektor sanggup menyedot dana hingga 618 miliar dolar AS pada 2040.
“Hilirisasi jika diimplementasikan justru akan meningkatkan PDB sebesar 235,9 miliar dolar AS, berkontribusi terhadap peningkatan ekspor sebesar 857,9 miliar dolar AS, dan menciptakan sekitar 3 juta lapangan kerja baru,” kata Yuliot.
Pemerintah optimis kesiapan ekosistem FAME dan CPO di sektor hulu akan mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pionir utama pemanfaatan bioenergi di tingkat global.
“Karena ini sudah merupakan arahan dari Bapak Presiden, kita juga harus berusaha mengimplementasikan secara keseluruhan untuk ketahanan energi,” ujarnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.