Bahlil Rangkap Menko dan Menteri ESDM, ini Alasan Prabowo Satukan Hilirisasi-Transisi Energi

Danantara Incar 40,12 Persen Saham BEI, Seperti Apa Peta Demutualisasinya?Bukalapak Bukukan Pendapatan Rp4 Triliun, Bisnis Gaming Jadi Mesin Pertumbuhan

Kementerian ESDM mencatat kapasitas pembangkit energi baru terbarukan mencapai 16.236 MW hingga Maret 2026.

Pada saat yang sama, pemerintah menargetkan bauran EBT sebesar 19–23 persen pada 2030 dan 70–72 persen pada 2060 dalam upaya mencapai target net zero emission 2060.

Rencana ekspansinya juga sudah dituangkan dalam RUPTL PLN 2025–2034. Dokumen tersebut menetapkan tambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,6 GW, dengan tenaga surya menyumbang porsi terbesar sebesar 17,1 GW.

Angka tersebut menggambarkan bahwa transisi energi bukan sekadar mengganti sumber bahan bakar pembangkit.

Pemerintah juga harus mengejar penambahan kapasitas pembangkit dalam skala puluhan gigawatt sekaligus membangun infrastruktur pendukungnya.

Perkembangan itu mulai terlihat dalam struktur ekspor. Badan Pusat Statistik mencatat ekspor industri pengolahan pada Januari 2026 mencapai USD18,51 miliardengan kurs Rp17.900 per USD. Nilainya meningkat dari USD17,11 miliar pada Januari 2025.

BPS mencatat ekspor industri pengolahan tumbuh 8,19 persen secara tahunan pada Januari 2026, ketika ekspor sektor pertanian/perkebunan dan pertambangan mengalami tekanan.

Produk yang mencatat pertumbuhan tinggi antara lain produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semikonduktor, serta kendaraan bermotor.

Data tersebut memberi gambaran lain mengenai alasan hilirisasi ditempatkan sebagai agenda strategis.

Pemerintah tidak hanya mengejar bertambahnya nilai investasi, tetapi juga berusaha mengubah struktur ekonomi dari ekspor komoditas menuju ekspor produk yang telah melalui proses pengolahan.

Dengan demikian, dua portofolio yang kini berada dalam satu koordinasi memiliki pekerjaan rumah yang berbeda.

Hilirisasi membutuhkan perluasan kapasitas industri dan rantai nilai, sementara transisi energi membutuhkan tambahan pembangkit serta perubahan struktur pasokan listrik.

Keduanya bertemu pada satu persoalan yang sama, yakni bagaimana investasi besar tersebut diterjemahkan menjadi kapasitas produksi dan energi yang benar-benar beroperasi.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.