Bandara Soetta Lumpuh karena Krakatau, InJourney Rugi Belasan Miliar Rupiah?

Namun, di balik prioritas keselamatan tersebut, penutupan aktivitas operasional Bandara Soetta sejak dini hari hingga pukul 13.30 WIB menjadi pukulan finansial yang signifikan bagi kas keuangan PT Aviasi Pariwisata Indonesiaatau InJourney.

Sebagai strategic holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata yang mengelola total aset raksasa senilai Rp102 triliun, lumpuhnya Soekarno-Hatta selama hampir 13,5 jam ini diperkirakan langsung mengikis potensi pendapatan ekosistem penerbangan hingga puluhan miliar rupiah.

Bukan tanpa alasan Soekarno-Hatta disebut sebagai cash cow atau mesin uang utama bagi lini bisnis aviasi InJourney.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal I 2026, dari total 38,20 juta penumpang yang dilayani di 37 bandara di bawah bendera InJourney Airports (PT Angkasa Pura Indonesia), Soetta secara mutlak menyumbang porsi terbesar yaitu 35,29 persen atau setara dengan 13,48 juta penumpang.

Volume pergerakan di Jakarta ini bahkan jauh melampaui Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali di posisi kedua yang melayani 5,34 juta penumpang pada periode yang sama.

Ketika “jantung” utama yang menopang 35 persen trafik nasional ini berhenti berdetak selama belasan jam, dampaknya langsung terasa pada kinerja kuartalan lini bisnis bandara InJourney.

Padahal, pada semester I 2026 kemarin, lini kebandarudaraan baru saja membukukan pendapatan gemilang sebesar Rp10,23 triliun.

Berdasarkan simulasi hitungan dampak ekonomi, penutupan operasional hingga siang hari ini saja telah menyebabkan sedikitnya 209 penerbangan batal dan berdampak langsung pada penundaan keberangkatan 22.798 penumpang, merujuk laporan yang disampaikan manajemen Bandara Soekarno-Hatta.

Lebih dalam, sebanyak 160 merupakan penerbangan domestik, 39 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo.

Dari sisi pendapatan aeronautika, InJourney Airports kehilangan potensi miliaran rupiah dari tarif pelayanan penumpang (PSC atau Passenger Service Charge) serta Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawatakibat ratusan pesawat yang gagal mendarat.

Dampak kerugian tidak berhenti pada biaya penerbangan. Sektor non-aeronautikayang sedang gencar ditransformasikan oleh manajemen InJourney ikut merosot tajam.

Saat ini, kontribusi bisnis non-penerbangan seperti toko duty-free, restoran, dan sewa lahan komersial di terminal menyumbang hingga 38 persen dari total pendapatan kebandarudaraan group.

Dengan ribuan penumpang yang telantar dan tertahannya arus distribusi logistik kargo udara, ekosistem bisnis retail di Terminal 1, 2, dan 3 praktis tidak bergerak selama setengah hari.

erikut adalah rincian proyeksi pos pendapatan InJourney Airports yang amblas selama penutupan berlangsung:

Berhentinya perputaran komisi bagi hasil dari gerai-gerai komersial ini diproyeksikan menyumbang akumulasi kerugian bandara hingga berada di kisaran Rp12,4 miliar hingga Rp15 miliar hanya untuk hitungan operasional setengah hari.

Ujian Target Pendapatan Kuartalan

Secara konsolidasi grup, InJourney yang kini dinakhodai oleh Maya Watono sebagai Direktur Utama, mengantongi pendapatan tahunan berada di angka Rp30,539 triliun dengan perolehan laba bersih Rp2,492 triliun.

Lini bisnis bandara menyumbang kontribusi masif senilai Rp10,23 triliun sepanjang semester I 2026.

Krisis alam akibat abu vulkanik hari ini menjadi ujian nyata bagi ketahanan finansial kuartalan holding.

Walau operasional penerbangan perlahan mulai dibuka kembali sore ini pasca-pukul 13.30 WIB, dampak denda keterlambatan kargo, pengembalian danatiket oleh maskapai, hingga pembengkakan biaya operasional tak terduga diprediksi tetap akan memengaruhi pembukuan laporan keuangan InJourney Airports pada kuartal berjalan.

Manajemen InJourney sendiri dikenal memiliki komitmen transparansi yang tinggi, dengan skor keterbukaan informasi yang melesat dari 17,68 di tahun 2022 menjadi 98,81 pada akhir tahun 2025.

Kini, publik dan pemegang saham akan melihat bagaimana akuntabilitas tata kelola dan pemulihan manajemen risiko korporasi (Business Continuity Plan) dari raksasa BUMN pariwisata ini pasca-terhantam krisis erupsi Anak krakatau.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.