Pertumbuhan kredit tersebut dibarengi dengan peningkatan dana pihak ketigadan jumlah nasabah.
Direktur Bank Jago, Supranoto Prajogo, mengatakan pertumbuhan bisnis perseroan tetap diarahkan untuk menjaga kondisi fundamental dan kualitas bisnis.
Hal tersebut disampaikan dalam Public Expose Live 2026 yang digelar secara daring pada 10 September 2026.
“Selama lebih dari lima tahun beroperasi dan bertumbuh, Bank Jago sebagai bank berbasis teknologi telah menghadirkan solusi keuangan digital yang fokus dan relevan bagi masyarakat Indonesia.
Kami melakukannya dengan tetap menjaga fundamental dan pertumbuhan bisnis perusahaan dengan sehat,” kata Supranoto dalam keterangan resmi Jumat, 11 September 2026.
Berdasarkan paparan perseroan, penyaluran kredit Bank Jago mencapai Rp26,6 triliun per akhir Juni 2026, naik 24 persen dibandingkan Rp21,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loanxi tercatat 0,8 persen. Perseroan menyebut rasio tersebut berada di bawah rata-rata NPL perbankan nasional.
Sementara itu, DPK Bank Jago mencapai Rp27,6 triliun per akhir Juni 2026. Angka tersebut meningkat 23 persen dibandingkan Rp22,4 triliun pada akhir Juni 2025.
Pertumbuhan DPK tersebut berjalan seiring dengan peningkatan jumlah nasabah. Hingga akhir Juni 2026, Bank Jago mencatat 20,1 juta nasabah, termasuk 14,7 juta nasabah funding yang menggunakan Aplikasi Jago.
Pertumbuhan kredit dan DPK tersebut turut menopang total aset perseroan yang mencapai Rp41,4 triliun pada semester I-2026. Pada periode yang sama, Bank Jago membukukan laba bersih sebesar Rp189 miliar.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratioBank Jago berada di level 28,4 persen. Rasio tersebut menjadi salah satu indikator kemampuan perbankan dalam menyerap risiko dan menopang kegiatan usaha.
Berdasarkan data perdagangan, pada kuartal II-2026, Bank Jago membukukan laba bersih sebesar Rp103 miliar, meningkat dari Rp86 miliar pada kuartal I-2026.
Secara trailing twelve months, laba bersih perseroan mencapai Rp338 miliar dengan pendapatan Rp3,85 triliun. Dari sisi profitabilitas, net profit margin berada di level 9,92 persen, sedangkan net interest margintercatat 8,48 persen.
Dari neraca, total aset Bank Jago mencapai Rp41,4 triliun, dengan total liabilitas Rp32,4 triliun dan total ekuitas Rp9,03 triliun.
Sementara itu, arus kas dari aktivitas operasi dalam basis TTM tercatat positif Rp4,25 triliun, menunjukkan kemampuan operasional perseroan menghasilkan arus kas.
“Pencapaian positif ini menjadi bukti bahwa model bisnis bank berbasis teknologi dan kolaborasi dengan mitra ekosistem strategis yang kami bangun memiliki kekuatan dan ruang pertumbuhan yang besar,” ujar Supranoto.
Dalam menjalankan bisnis pembiayaan, Bank Jago masih mengandalkan penyaluran kredit melalui mitra ekosistem dan platform digital serta perusahaan pembiayaan. Salah satu mitra yang disebut perseroan adalah BFI Finance.
Menurut Supranoto, penyaluran kredit melalui mitra masih menjadi motor utama bisnis pembiayaan Bank Jago. Namun, perseroan juga mulai memperluas penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah.
“Penyaluran kredit melalui partner ini terus menjadi motor utama bisnis pembiayaan Bank Jago. Kami berkomitmen terus menjalankan kolaborasi bisnis dan penyaluran kredit yang telah terbangun baik selama lima tahun terakhir.
Namun kami juga mengembangkan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui konsep pembiayaan yang bertanggung jawab untuk menjangkau segmen nasabah yang lebih luas,” tutur Supranoto.
Di sisi lain, Bank Jago melanjutkan pengembangan produk dan layanan digital.
Perseroan antara lain menghadirkan fitur Rapor Kredit pada Aplikasi Jago yang ditujukan untuk membantu debitur memahami kondisi keuangannya terkait pinjaman atau kredit.
Bank Jago juga mengembangkan tampilan terintegrasi yang memungkinkan nasabah melihat portofolio investasi yang tersebar di berbagai platform dalam satu tab dan terhubung dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia
Pengembangan tersebut melengkapi sejumlah fitur yang telah tersedia dalam Aplikasi Jago, termasuk Kantong untuk memisahkan dana berdasarkan tujuan serta Analisis Pengeluaran atau Spend Analysis yang mencatat pemasukan dan pengeluaran yang telah dikategorikan.
Perseroan juga menjalankan kolaborasi dengan sejumlah mitra ekosistem, termasuk ekosistem GoTo serta Bibit-Stockbit.
Kolaborasi tersebut memungkinkan nasabah mengakses layanan untuk menabung, bertransaksi, dan berinvestasi melalui ekosistem digital.
Supranoto mengatakan pengembangan produk dan kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas fungsi layanan Bank Jago dari sekadar transaksi perbankan.
“Melalui fitur-fitur ini, kami ingin mengajak nasabah dari sekadar menabung dan bertransaksi menjadi mengelola keuangan dan investasi secara mudah dan terintegrasi,” katanya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.